g

IPTEK

PMILA > IPTEK

 

Waspadai Penyakit Sapi Gila
Sumber: Suara Pembaharuan


Penyakit sapi gila sedang melanda Amerika Serikat. Dunia cemas. Lantas apa yang kita buat untuk mencegah masuknya penyakit yang mematikan itu? Merebaknya penyakit sapi gila (madcow) di Amerika membuat masyarakat menjadi was-was. Pemerintah pun melalui Departemen Pertanian dan Departemen Kesehatan meminta masyarakat untuk hati-hati terhadap kemungkinan penyelundupan daging sapi yang menderita penyakit tersebut.

Sesuai dengan namanya, penyakit sapi gila ini memang menampakkan gejala kegilaan, yaitu kehilangan koordinasi, depresi, ketakutan, terlalu peka, tremor, agresif, gerakannya tidak terarah, gelisah, dan gejala psikis lainnya. Selain itu, seperti diungkap oleh Reuters beberapa waktu lalu produksi susunya juga menurun.

Gejala itu muncul karena ada kerusakan otak yang terjadi secara perlahan-lahan, di mana akhirnya otak sapi tersebut berbentuk seperti spons. Makanya, dalam Bahasa Latin penyakit itu disebut bovine spongiform encephalopathy (BSE). Setelah itu, selama dua minggu hingga enam bulan sapi akan mati.

Penyakit sapi gila dikategorikan dalam daftar B yaitu kategori penyakit menular pada hewan yang memiliki kepentingan sosio-ekonomis atau kesehatan masyarakat, terutama dalam perdagangan hewan dunia. Selain daftar B, ada juga daftar A yaitu penyakit menular pada hewan yang memiliki kemampuan menular sangat cepat dan berbahaya. Contohnya adalah penyakit mulut dan kuku yang menyerang sapi.

Lantas bagaimana penyakit ini bisa menulari manusia? Penyakit sapi gila ditularkan kepada manusia melalui konsumsi daging sapi yang terinfeksi, atau berkontak dengan sapi-sapi yang terjangkit penyakit sapi gila. Penyakit sapi gila ini, menyerang jaringan saraf otak manusia dalam bentuk varian Creutzfeldt Jakob Disease (CJD) dan bersifat degeneratif.

Manusia yang terkena penyakit CJD akan kehilangan kekuatannya, pertumbuhan badannya praktis terhenti. Penyakit ini, cepat atau lambat merambat ke otak kemudian membuat otak manusia tidak lagi utuh, berubah seperti spons atau busa kursi yang bolong-bolong.

Penyebab kerusakan otak yang terjadi perlahan-lahan itu, diduga oleh struktur protein yang disebut prion. Gejala yang sama-jaringan otaknya berbentuk spons-juga terjadi pada manusia yang dikenal sebagai penyakit CJD. Prion ini terutama berkumpul di sistem saraf termasuk mata.

Prion ini sangat tahan terhadap segala macam tingkat keasaman (pH), juga terhadap pendinginan atau pembekuan. Protein ini baru inaktif setelah dipanaskan dengan dengan otoklaf (alat pemanas dengan tekanan tinggi) pada suhu 134-138 derajat Celsius selama 18 menit.

Pada tahun 1998 ilmuwan juga menemukan bahwa agen penyakit itu tidak hanya berada di otak, tetapi juga di darah. Hingga kini belum ditemukan vaksin untuk menaklukkan penyakit ini. Padahal Seperti dilaporkan CNN.com, di Amerika Serikat penyakit ini telah membunuh 92 orang (Departemen Pertanian AS/USDA). Laporan lainnya malah menyebutkan angka 129 meninggal (World Health Organization/WHO) dan 137 orang. Tidak ada jalan untuk menghindarinya selain dengan tidak mengkonsumsinya. Alat pemanggang daging atau oven tidak mampu untuk mematikan penyakit sapi gila!

Ditjen Bea Cukai mengintensifkan pemeriksaan terhadap impor sapi dan produk olahannya menyusul ditemukannya kasus penyakit sapi gila di Amerika Serikat. "Kita bekerja sama dengan pihak Karantina, begitu barang-barang impor turun dari pelabuhan, diadakan pemeriksaan intensif," kata Dirjen Bea Cukai Eddy Abdurrahman di Jakarta, Senin.

Ia menjelaskan, impor produk hewan termasuk sapi biasanya dilakukan melalui pelabuhan-pelabuhan besar seperti Tanjung Priok Jakarta, Tanjung Perak Surabaya, dan Belawan Medan.

"Impor terhadap itu (sapi dan olahannya) tidak ada masalah karena memang tidak ada larangan impor terhadap barang itu, tetapi memang harus melalui prosedur, artinya ketentuan-ketentuan yang berkaitan dengan importasi barang itu harus dilalui," katanya.

Ia mengatakan, pihak Ditjen Bina Produksi Peternakan Deptan setiap saat memberikan informasi kepada pihaknya tentang negara-negara yang terkena wabah penyakit hewan yang membahayakan. "Mereka selalu memberikan informasi kepada kita, begitu ada wabah, mereka langsung memberitahukan kepada kita," katanya. Ketika ditanya berapa besar impor daging sapi yang telah masuk ke Indonesia sejak ditemukan kasus penyakit sapi gila hingga saat ini, Eddy mengatakan, belum menerima informasi tentang itu. "Saya belum terima informasi, saya belum tahu," katanya.

Mengenai hilangnya jumlah penerimaan bea masuk dari impor daging sapi itu, Eddy juga menyatakan belum bisa memperhitungkan. "Tapi yang penting bukan dari sisi hilangnya penerimaan, tetapi yang lebih penting adalah dalam kaitannya dengan pengamanan kesehatan masyarakat dan peternakan kita," katanya.

Ditjen BC, kata Eddy, juga berperan untuk menjaga status Indonesia saat ini yang bebas dari penyakit berbahaya seperti sapi gila atau mad cow itu. Tak hanya pendudk Jakarta yang takut. Penduduk di daerah juga mulai hati-hati dan waspada agar penyakit sapi gila tak sampai terjangkit. Di Pontianak misalnya. Meski kecil kemungkinan ancaman penyakit sapi gila atau "Bovine Spongiform Encephalopathy" (BSE),

akan tetapi Dinas Peternakan dan Kehewanan Kalimantan Barat mengimbau masyarakat berhati-hati terhadap produk turunan sapi asal Amerika.

"Berhati-hati, terutama untuk makanan seperti keju dan susu," kata Kepala Dinas Peternakan dan Kehewanan, Ir Kasiono Kasdi di Pontianak, Senin. Menurut ia, kehati-hatian itu penting, karena bisa saja, masyarakat konsumen tidak mengetahui produk yang mereka gunakan itu ternyata dari hewan yang tertular BSE.

Kewaspadaan, menurut ia, juga harus dijaga terutama terhadap barang-barang (bahan makanan) yang masuk secara ilegal ke Kalbar. Karena siapa tahu berasal dari daging sapi Amerika yang terkena sapi gila itu. Ia mengatakan, masyarakat dan terutama pihak terkait hendaknya dapat mendeteksi masuknya produk-produk yang ilegal dari Malaysia. Apakah itu berupa bahan baku atau makanan yang datangnya dari Amerika. "Yang penting bagaimana menjaga sumber bahan makanan itu," katanya lagi. Sumber (daging) dari Kanada, menurut ia, sudah tidak boleh lagi karena juga sudah terkena.

Saat ini yang bisa masuk ke Indonesia, hanyalah daging dari Selandia Baru dan Australia saja. Sementara pintu masuk dari Amerika, sudah ditutup rapat guna menghindari serangan penyakit yang merusak karingan otak manusia itu.

Ia menambahkan, bahan baku pakan ternak juga harus diwaspadai. Maka dari itu pula, sejak lama di Indonesia juga dilarang ternak-ternak menggunakan pakan dari hewan, seperti tepung tulang dan tepung darah. (L-11/Ant)


^ KE ATAS


Halaman Muka | Kesehatan | Rohani | Perpustakaan PMILA |  Keluarga | Info Wajib Lapor | Iptek | Serba Serbi LA | Tips and Tricks | Warta Indonesia | Perwakilan Indonesia | Lembar Anggota | Tentang Kami | Kontak Kami

© Copyright 2002-2004, PMILA. All Rights Reserved.