|
Mengolah
Sampah Menjadi Listrik
Sumber: Republika
Sampah telah menjelma
menjadi sumber persoalan. Di Surabaya, misalnya, sampah bisa
menyebabkan seorang Walikota diberhentikan dari jabatan oleh
legislatif daerah. Di Jakarta, gara-gara sampah, pihak pemerintah
provinsi Jakarta sempat bersitegang dengan pemerintah kabupaten
Bekasi menyangkut soal tempat pembuangan sampah.
Sampah, selama ini memang lebih dibicarakan sebagai penyebab
berbagai persoalan. Padahal, senyatanya sampah juga memiliki nilai
ekonomis. Tak hanya bagi pemulung, namun sampah juga bisa
bermanfaatan untuk batu bata, pupuk serta yang paling terbaru untuk
bahan bakar pembangkit listrik. Di sejumlah negara 'PLTU Sampah' ini
sudah menghasilkan listrik.
Di Korea Selatan, misalnya, telah beroperasi sebuah pembangkit
listrik berbahan bakar sampah dengan kapasitas sebesar 2x15,5 MW.
Sedang di China segera beroperasi pembangkit listrik serupa dengan
kemampuan 3x27 MW di Nan Shan dan berkapasitas 3x27 MW di Bao An,
keduanya di kawasan Shenzhen. Sebelumnya di Jepang juga telah
beroperasi pembangkit berbahan bakar sampah ini.
Pembangkit listrik yang menggunakan bahan bakar dari sampah rumah
tangga maupun industri itu hingga kini nyaris tanpa problema. Bahkan
terus mampu menghasilkan energy listrik yang mampu memasok kebutuhan
listrik bagi masyarakat setempat. Pilihan sampah sebagai bahan bakar
pembangkit listrik merupakan sedikit titik cerah bagi diversifikasi
bahan bakar di masa mendatang.
Sampah di Jakarta yang berasal dari rumah tangga saat ini mencapai
sekitar 10 ribu ton/hari. Jumlah ini menurut perhitungan David A-S
Bachelor dari Seghers Group, perusahaan asal belgia yang bergerak
dalam pengolahan sampah, memiliki potensi yang bisa untuk
membangkitkan listrik sebesar sekitar 5 X 35 MW.
Tahap pertama pengolahan sampah dilakukan proses penghancuran
sekaligus pemilihan. Menggunakan sebuah drum dengan permukaan dalam
terdapat alat pencacah yang berputar dengan kecepatan 3,6 RPM,
sampah sebesar 20 ton bisa diolah dalam setiap jam. Drum berputar
pada sebuah pondasi juga dilengkapi alat pemisah.
Dari drum inilah keluar tiga jenis sampah yang sudah tercacah.
Pertama adalah refuse deviced fuel (RDF). Kelompok ini
merupakan jenis cacahan sampah yang bisa dijadikan bahan bakar
boiler yang adalah dalam unit pembangkit. Sebab, sampah ini memiliki
kalori yang tinggi, tak mengandung metal serta homogen.
Selebihnya adalah jenis sampah yang sudah tercacah yang bisa didaur
ulang serta aerobik. Kedua jenis sampah ini memang tak bisa
digunakan sebagai bahan bakar unit pembangkit. Namun bisa
dipergunakan untuk keperluan lain. Misalnya untuk bahan pupuk atau
bahan penimbun bangunan. Namun dmeikian tetap melalui proses yang
dijamin keamanannya.
Setelah dibentuk menjadi paket-paket bahan bakar, sampah jenis RFD
dilewatkan ke dalam multi stage grate. Disinilah sampah
mengalamai pembakaran sembari menjalani proses grading atau
diayak. Pembakaran sambil diayak ini memungkinkan didapatkan proses
pembakaran yang mampu membakar setiap RFD.
Untuk material yang memiliki kalori paling tinggi maka akan segera
terbakar. Berikutnya barulah material yang kalorinya lebih rendah.
Dan material paling rendah kalorinya akan terbakar paling akhir.
Secara umum kemampuan peralatan ini memiliki jangkauan untuk
meterial dengan kandungan kalori drai 6000 hingga 30 kilo joule per
kilogram.
Ada dua proses injeksi udara dalam pembakaran material sampah di
dalam multi stage grate. Untuk injeksi primer tersedia lima
buah tabung yang memasukan udara ke dalam pembakaran. Sedang untuk
injeksi sekunder hanya dilakukan sekali, karena bersifat
menyempurkan pembakaran saja.
Panas yang dihasilan dari pembakaran inilah yang digunkan untuk
membangkitkan proses di boiler. Pada dasarnya setelah proses
pemanfaatan panas di dalam boiler, selanjutnya tidak begitu berbeda
dengan proses yang berlangsung di dalam unit-unit pembangkit listrik
lainnya.
Perbedaan yang sangat berbeda adalah dalam hal proses penyaringan di
tabung udara gas buang. Unit pembangkit berbahan bakar sampah ini
dilengkapi peralatan pembersih gas buang yang memanfaatkan teknologi
reaktor semi basah. Tujuannya agar gas buang mengandung bahan
beracun sekecil mungkin.
Peralatan pembersih udara ini didalamnya terdapat sebuah piringan
yang berputar dengan kecepatan 9000 hingga 10000 RPM. Akibat
perputaran piringan ini maka molekul hasil pembakaran dipecah hingga
berukuran 30 hingga 100 mikron. Proses ini mmampu mereduksi
kandungan HCl sebesar 99 persen dan SO2 sebesar 90 persen.
Saat ini rencana pembangunan pembangkit listrik berbahan bakar
sampah ini sudah ada di Indonesia. Adalah pihak PT PLN yang memiliki
rencana membangun PLTU 'Sampah' di kawasan Marunda Jakarta Utara.
Bahkan perusahaan listrik ini telah menyediakan lahan untuk
pembangunannya.
"Namun untuk tahap pertama kita akan mengolah sekitar 2 ribu
ton sampah per hari yang bisa membangkitkan 35 MW," ujar Budi
Hardjanto Vice President Pengembangan Usaha PT PLN. Namun
menurutnya peluang untuk memperbesar kapasitas pembangkit listrik
ini masih terbuka luas.
PT PLN memang tidak sendiri untuk mewujudkan rencana ini. Selain
mengajak PT Hutama Karya, juga menggandeng PT Arthakara yang membawa
teknologi ini drai Seghers Group dari Belgia. Saat ini kajian
pembangunan pembangkit listrik mulai dilakukan.
Potensi sampah untuk menghasilkan energi listrik inilah yang
menggugah pihak PT PLN (Persero) ikut terjun menangani sampah.
Setidaknya untuk sampah yang ada di wilayah Jakarta. "Kita
ingin berbuat nyata untuk menangani sampah ini. Karena PLN bisnis
listrik, kita akan mengolah sampah sebagai bahan bakar pembangkit
listrik," ujar Budi Hardjanto Vice President
Pengembangan Usaha PT PLN.
Untuk tahap pertama akan dilakukan study kelayakan pembangunan 'PLTU
Sampah' ini. PT PLN tak sendirian dalam melakukan pekerjaan ini. Ada
PT Hutama Karya dan PT Arthakara yang bersama PT PLN melakukan study
kelayakan ini. Menurut Budi Hardjanto, hasil study kelayakan inilah
yang nantinya akan dijadikan pertimbangan bagi langkah selanjutnya
untuk mewujudkan pembangkit listrik berbahan bakar sampah.
Pihak PT PLN menyiapkan lahan di Marunda untuk pembangunan 'PLTU
Sampah' ini. Apalagi, Marunda selama ini juga dipergunakan sebagai
Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah bagi masyarakat ibu kota. Oleh
sebab itu, lokasi di kawasan yang dekat dengan pantai Jawa itu
menjadi pilihan yang terbaik bagi pembangunan pembangkit berbahan
bakar sampah ini.
Saat ini pola kerjasama pembangunan 'PLTU Sampah' ini memang masih
terus diproses. Namun, yang sudah pasti pihak PT PLN bukan hanya
sebagai team leader, namun juga sebagai pihak yang akan
membeli energi listrik yang dihasilkan. "Jadi nanti pola
kerjasamanya bisa saja berbagai pihak ikut menanam modal untuk
membangun pembangkit listrik ini. Kami masih akan membahasnya dengan
pihak Pemda, DPRD, serta pihak terkait lainnya," ujar Budi.
Investasi untuk membangun 'PLTU Sampah' memang tergolong besar.
Menurut Toty investasi untuk 'PLTU Sampah' memang tidak kecil. Untuk
pembangkit berkapasitas 35 MW, seperti yang akan di bangun di
Marunda, diperkirakan membutuhkan dana sebesar 180 juta dolar AS.
"Sebesar 40 persen dari dana investasi itu untuk biaya
mengamankan ingkungan," ujar Toty.
Pengamanan lingkungan itu bisa untuk menekan polusi udara, bau,
serta kerusakan lingkungan. Untuk mengatasi besarnya dana investasi,
menurut Toty, selain diperoleh dana investasi komersiil, maka juga
dibutuhkan dana-dana bantuan berbunga lunak. "Pihak Islamic
Development Bank menyatakan bersedia membantu kegiatan ini,"
ujar Toty.
Toty memang mengaku telah berkunjung ke kantor IDB di Jeddah untuk
mengajukan permohonan bantuan bagi pembangunan 'PLTU Sampah'. Sedang
Budi Hardjanto optimis soal investasi ini. Sebab, seperti
berlangsung selama ini jika berkait soal lingkungan banyak donatur
asing yang mau membiayai. Artinya tak hanya dari IDB, donatur di
berbagai negara asing umumnya menyambut antusias untuk pengamanan
lingkungan.
Pihak PT PLN tak mau setengah-setengah menangani soal sampah ini.
Jika semuanya berjalan lancar diharapkan dalam waktu dua hingga tiga
tahun lagi pembangkit listrik berbahan bakar sampah ini bisa
beroperasi. "Kami berharap dalam waktu dua hingga tiga tahun
lagi pembangkit listrik berbahan bakar sampah segera beroperasi,"
ujar Budi Hardjanto.
Pihak PT Hutama Karya, seperti diungkapkan oleh Direktur Operasi PT
Hutama Karya Subagiono menyatakan amat tertarik bisa terlibat dalam
proyek ini. Apalagi pihak PT Hutama Karya, katanya, telah tiga tahun
terlibat aktif menangani persoalan sampah. "Sampah bukan hanya
menjadi masalah regional, namun juga telah menjadi persoalan
nasional. Dengan adanya beroperasinya 'PLTU' sampah, masalah sampah
di Ibukota mudah-mudahan teratasi," ujar Subagiono.
Bagi PT PLN, seperti diungkapkan Direktur Pemarasan dan Distribusi
PT PLN Tunggono, pembangunan 'PLTU Sampah' memiliki nilai strategis.
Sebab, menurut Tunggono, bukan hanya bisa menyelesaikan problema
sampah, namun bisa menjadi alternatif bahan bakar pembangkit listrik.
"Jadi pembangkit listrik tak lagi tergantung pada batubara, BBM,
atau gas. Sebab sampah juga bisa untuk membangkitkan listrik,"
ujar Tunggono.
Selain itu, pembangunan 'PLTU Sampah' juga akan mendidik masyarakat.
Sebab salah satu tuntutan pengolahan sampah untuk pembangkit listrik
adalah dilakukannya pemisahan jenis-jenis sampah, misalnya sampah
basah dan sampah kering. Tuntutan semacam inilah yang pada
gilirannya nanti bisa membiasakan masyarakat memisahkan antara
sampah basah dengan sampah kering sejak di rumah. ris
|