|
Terapi
Gen, untuk Kualitas Hidup Manusia
Sumber:
Suara Merdeka
SETELAH
era mikrobiologi dan sintesa zat aktif untuk pengobatan penyakit,
kini giliran pengembangan biologi molekuler untuk mendapatkan terapi
bagi penyakit-penyakit yang belum bisa diatasi dengan antibiotik,
obat-obatan berbahan sintesa kimia maupun hasil pemurnian bahan
alami. Para ahli di pelbagai pusat penelitian kini giat
mengembangkan sel tunas, transplantasi organ binatang serta terapi
gen. Salah satu peneliti yang mengembangkan terapi gen adalah Prof
dr Swan N Thung, pakar patologi, terapi gen dan kedokteran molekuler
dari Mount Sinai School of Medicine, New York. Lulusan Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia yang telah 25 tahun mengajar di
Sekolah Kedokteran Mount Sinai serta bekerja di Rumah Sakit Mount
Sinai itu merupakan salah satu ahli yang akan berbicara dalam
seminar nasional "Peningkatan Aplikasi Biologi Molekular dalam
Ilmu Kedokteran" yang diselenggarakan Fakultas Kedokteran
Universitas Atma Jaya, Sabtu (27/4). Kemajuan penelitian terapi gen
yang dimulai 40 tahun lalu memang tergolong lambat. Menurut Thung,
meski transfer gen dilakukan pada manusia tahun 1988, saat ini
sebagian besar penelitian masih pada uji klinik fase I. "Masalahnya,
pengetahuan mengenai komponen genetik dari penyakit misalnya
alzheimer, parkinson, diabetes, asma, arthritis rematik masih
terbatas. Hal lain adalah kompleksitas pengembangan zat biologi
aktif serta persyaratan uji yang ketat dan memerlukan waktu panjang
untuk memastikan keamanan sebelum diterapkan di pelayanan kesehatan,"
paparnya.
TERAPI gen pada prinsipnya adalah menyisipkan
materi genetik ke dalam sel tubuh untuk mengganti atau memperbaiki
gen yang rusak dalam rangka pengobatan penyakit. Materi genetik atau
gen yang berupa kumpulan asam amino disintesa di laboratorium. Untuk
memasukkan gen ke tubuh digunakan pelbagai bahan pembawa (vektor).
Bahan itu antara lain protein yang sesuai dengan sel organ yang
dituju. Materi genetik ditempelkan ke protein kemudian dimasukkan
tubuh lewat mulut, injeksi maupun inhalasi (dihirup). Dalam tubuh
protein akan menempel ke reseptor sel organ sehingga DNA bisa masuk
ke dalam sel. Cara inhalasi digunakan untuk mengatasi cystic
fibrosis, suatu kelainan di paru yang diturunkan. Zat pembawa
lain adalah liposom. Tapi yang paling populer adalah virus karena
dianggap paling efektif. Jenis yang digunakan antara lain adeno
associated virus (AAV), gutless adenovirus (selubung
adenovirus), lentivirus, retrovirus, herpes virus.
Sebagaimana untuk imunisasi, kemampuan bereplikasi virus dihilangkan
untuk mencegah infeksi. Retrovirus yang asalnya adalah HIV
digunakan untuk membawa gen ke sel yang cepat bermitosis (membelah),
misalnya sel tunas. Sedang adenovirus lebih sesuai untuk
sel-sel yang lambat membelah. Kelemahan adenovirus adalah memicu
tubuh membentuk antibodi. "Untuk mengakalinya kini yang
digunakan hanya selubung virus (gutless virus)," tutur
Thung. Adenovirus maupun selubungnya digunakan antara lain
untuk memasukkan gen faktor VIII (faktor pembekuan) ke dalam sel
hati dalam upaya mengatasi hemofilia, suatu penyakit gangguan
pembekuan darah yang diturunkan. Penelitian pada binatang percobaan
menunjukkan hasil memuaskan. Uji klinik fase I pada manusia untuk
melihat keamanannya sudah selesai. Kini menginjak fase II untuk
menguji efikasinya. Virus herpes digunakan sebagai vektor untuk gen
yang hendak disisipkan ke sel saraf, misalnya untuk pengobatan
Alzheimer. Selain mengganti gen yang rusak agar bisa memproduksi
protein yang dibutuhkan tubuh, terapi gen digunakan untuk membasmi
sel kanker. Saat ini sedang diteliti terapi gen untuk kanker
payudara, kanker prostat, kanker otak dan kanker kulit. Gen yang
disisipkan selain mematikan sel kanker juga berfungsi mengaktifkan
sistem kekebalan tubuh sehingga tidak ada lagi sel-sel yang tumbuh
tak terkendali. Uji klinik terapi gen kanker prostat kini pada fase
II. Penyakit lain yang diteliti adalah thalasemia, diabetes,
kardiovaskular, infeksi misalnya HIV dan hepatitis C. Pada infeksi
HIV, sel tunas dari pengidap HIV diambil kemudian disisipi gen yang
resisten terhadap HIV. Sel-sel tunas kemudian dikembalikan ke tubuh
pasien. Di sumsum tulang sel-sel tunas itu memproduksi sel yang
resisten terhadap HIV untuk menggantikan sel-sel yang terinfeksi.
Prinsip serupa dilakukan untuk mengatasi hepatitis C. Penelitian
yang dikerjakan Thung saat ini adalah terapi gen untuk mengatasi
diabetes, yaitu memasukkan gen produsen insulin ke sel hati.
BAGAIMANA masa depan terapi gen dan bilamana bisa
dimanfaatkan masyarakat? Thung optimis dalam lima sampai enam tahun
mendatang terapi gen bisa diterapkan di pelayanan kesehatan. Selain
kanker prostat dan hemofilia, saat ini terapi gen untuk
kardiovaskular untuk membentuk pembuluh darah baru menggantikan
pembuluh darah yang tersumbat di sekitar jantung sudah mencapai fase
II. Tak lama lagi penelitian memasuki fase III di mana terapi
dicobakan pada lebih banyak pasien. Jika berhasil, boleh dibilang
tinggal selangkah untuk disetujui badan pengawasan obat dan makanan
seperti Food And Drug Administration (FDA) di Amerika Serikat.
Setelah mendapat izin edar atau restu untuk diterapkan, tinggal
dilakukan fase terakhir, fase IV yang merupakan fase pengembangan
untuk melihat aspek keamanan dan efek samping di masyarakat luas.
Menurut Prof dr Suwandhi Widjaja PhD, Direktur Laboratorium
Penelitian Virus Hepatitis, Fakultas Kedokteran Universitas Atma
Jaya, terapi gen akan banyak meningkatkan kualitas hidup manusia
namun tidak akan menyelesaikan semua masalah kesehatan. "Sama
halnya dengan penemuan antibiotika yang waktu itu diharapkan dapat
menyelesaikan masalah infeksi. Ternyata sampai kini banyak penyakit
infeksi belum bisa disembuhkan, bahkan banyak kuman yang resisten.
Demikian juga di masa depan saat terapi gen diterapkan, mungkin ada
masalah baru yang timbul," ujar Suwandhi. Namun, setidaknya,
terapi gen memberi harapan untuk penyembuhan penyakit-penyakit yang
kini belum bisa diobati dengan baik.
|