g

IPTEK

PMILA > IPTEK

 

Amannya Puasa Bagi Penderita Diabetes,

Justru puasa membuat kontrol gula darah di dalam tubuh berjalan baik. Kehadiran bulan puasa memang boleh diharap-harap cemas. Kendati ditunggu-tunggu para ''pemburu pahala'', kehadiran ramadhan juga menyisakan persoalan pelik. Ini berlaku buat penyandang beragam penyakit. Termasuk diabetes.

Keyakinan yang beredar kuat di kalangan penyandang diabetes, puasa bisa memicu dampak berbahaya. Pasalnya kekurangan asupan makanan (kalori) selama puasa bisa memacu gula darah tinggi yang berakibat fatal buat tubuh. Acapkali, ancaman ini pun ampuh menyurutkan niat berpuasa.
Namun, keyakinan tadi kini boleh diperdebatkan. Setidaknya sebuah penelitian berhasil membuktikan puasa aman buat penyandang diabetes.

Penelitan yang digelar dr Reno Gustaviani dari Bagian Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (UI) menunjukkan penyandang diabetes -- khususnya diabetes melitus (DM) tipe dua -- aman buat berpuasa. Lebih dari itu, puasa justru menyebabkan kontrol gula darah membaik.

Diabetes diketahui sebagai penyakit kekurangan hormon insulin. Dalam bahasa populer, penyakit ini disebut kencing manis. Tidak seperti orang normal, tubuh penderita diabetes tidak mampu menghasilkan hormon insulin. Padahal, kehadiran hormon ini mutlak diperlukan saban harinya.

Menurut dr Reno, selama 24 jam, beragam organ tubuh seperti otak, pembuluh darah, dan sistem syaraf, membutuhkan asupan glukosa murni buat bekerja. Untuk itu, kata dia, produksi hormon insulin berperan untuk mempertahankan kadar glukosa dalam darah. Produksi hormon ini berlangsung terus saban harinya, diantaranya lewat makanan.

Namun, kondisi yang berbeda muncul saat puasa. Tanpa asupan makanan ke tubuh, kadar glukosa (gula darah) dipertahankan dengan memecah gula darah dalam hati (glikogen). ''Ini cukup ampuh sebagai sumber gula bagi otak. Setidaknya dalam waktu 12 hingga 16 jam,'' imbuhnya. Bila sumber ini habis, sumber glukosa berikutnya berasal dari lemak.

Malangnya, bagi penderita diabetes cara tersebut malah menerbitkan persoalan baru. Tidak seperti orang normal, cadangan glikogen hati pada penderita diabetes sudah menyusut tajam. Lantaran minimnya cadangan glikogen, untuk memenuhi kebutuhan glukosa tubuh, penderita diabetes menempuh cara glukoneogenesis, yakni memecah asam lemak tubuh jadi glukosa.

Persoalannya, kata Reno, proses glukoneogenesis kerap menciptakan efek yang membahayakan. Di antaranya terbitnya benda-benda keton, yang ditengarai munculnya butiran beta hidroksi butirat pada tubuh. Terbitnya benda-benda keton tadi, kata dia, bisa menyeret tubuh dalam status ketosis (buruk).

Keadaan ini, ungkap Reno lagi, bisa memicu hilangnya kesadaran atau komplikasi penyakit yang berbahaya. Nah, ancaman ini cukup membuat para penyandang diabetes enggan berpuasa.

Selain itu, dehidrasi juga membayangi penderita diabetes. ''Kadar gula yang meningkat tajam menimbulkan mekanisme tertentu dalam tubuh,'' tandasnya. Salah satunya, saat kadar gula tinggi, pasien diabetes jadi rajin buang air kecil. Akibatnya, pasien rentan terserang dehidrasi.

Kendati masih bisa diperdebatkan, pandangan-pandangan tadi telanjur menjelaga dalam benak penyandang diabetes. Sebuah penelitian yang digelar Reno belum lama ini justru menyingkap fakta sebaliknya.

''Puasa pada penderita diabetes ternyata menyebabkan gula darah jadi terkontrol,'' ungkap dr Reno mamaparkan hasil penelitiannya. Puasa, ujar Reno, adalah keteraturan makan. Pada pasien diabetes yang pilar utamanya adalah diet, pengurangan asupan kalori, malahan menyebabkan kontrol gula darahnya baik.

Ini bisa dibuktikan dengan kadar serum fruktosamin pada tubuh pasien. Serum ini merupakan parameter kontrol gula darah selama 4-6 minggu.

''Selama menjalankan ibadah puasa, tercatat, gula darah pasien terus menurun hingga minggu keempat ramadhan. Gula darah melejit kembali justru dua minggu setelah pasien menghentikan ibadah puasanya,'' urai Reno.

Selain itu, tudingan bahwa pasien mengalami dehidrasi jika berpuasa juga meleset. ''Nilai osmolaritas pada pasien yang tengah berpuasa, tidak menunjukkan status dehidrasi yang bermakna,'' ungkapnya. Juga, tidak terjadi perubahan pada fungsi ginjal.

Dugaan terciptanya benda-benda keton bagi penderita diabetes yang berpuasa juga tidak terbukti. ''Kadar kolesterol LDL meningkat disertai kolesterol HDL dan triglesirida menurun. Tercatat, tidak terbentuk beta hidroksi butirat yang berarti sebagai pertanda munculnya benda-benda keton pada tubuh pasien,'' tandasnya.

Dus, penelitian ini menyodorkan bukti klinis bahwa ibadah shaum tidak berbahaya bagi penyandang diabetes. Lebih dari itu, puasa memberikan keuntungan dengan terkontrolnya gula darah dalam tubuh pasien. Artinya, tak terkecuali orang normal, penderita diabetes boleh menuai pahala di bulan ramadhan.


^ KE ATAS


Halaman Muka | Kesehatan | Rohani | Perpustakaan PMILA |  Keluarga | Info Wajib Lapor | Iptek | Serba Serbi LA | Tips and Tricks | Warta Indonesia | Perwakilan Indonesia | Lembar Anggota | Tentang Kami | Kontak Kami

© Copyright 2002-2004, PMILA. All Rights Reserved.