|
Anak
Gemuk Pun Tak Bebas dari Anemia
Anak yang kelebihan gizi tidak berarti lebih sehat. Anak yang
kelebihan berat badan bila tidak disertai dengan olahraga yang
teratur dan gizi yang seimbang akan berisiko terkena penyakit
jantung, hipertensi. Bahkan, dia bisa terserang anemia (lesu darah).
Sebuah penelitian menemukan, anak yang gemuk pun juga bisa terancam
penyakit yang disebabkan oleh minimnya asupan zat besi itu.
Penelitian itu menyebutkan, prevalensi (kelaziman) anemia pada anak
sekolah dasar (SD) di Jakarta berkisar antara 5,7 persen - 71,6
persen atau secara keseluruhan 49,5 persen. Namun apabila dilihat
status gizinya justru yang menonjol gizi lebih yaitu 18,1
persen-25,3 persen, sedangkan gizi kurang sebanyak 3,9 persen.
Meskipun anak-anak tersebut gemuk, tetapi mengalami anemia. Dari
makanan sehari-hari kebutuhan kalori dan lemak mereka berlebihan
tetapi kualitas makanan belum memadai, sumber zat gizi kurang,
misalnya kurang makan sayur-sayuran, kata Direktur Pelayanan
Kesehatan Yayasan Kusuma Buana [YKB] dr Adi Sasongko, MA pada acara
Seminar Upaya penanggulangan Anemia dan Kurang Gizi di SD DKI
Jakarta Pasca Pemberantasan Cacingan, di Jakarta, Kamis (18/4).
Prevalensi anemia tersebut diperoleh dari hasil pemeriksaan
haemoglobin dengan teknik cyanmet haemoglobin di Laboratorium
YKB pada 3.160 anak di 13 SD, sedangkan status gizi diperoleh dari
hasil pengukuran data antropometri pada 332 anak dari kelas III,IV
dan V di 10 SD.
Adi mengatakan jika dilihat dari hasil pemeriksaan menurut sekolah,
maka terlihat gambaran yang memprihatinkan di sejumlah sekolah
karena terdapat delapan sekolah dengan prevalensi anemia di atas 50
persen (antara 51,9 persen hingga 71,6 persen) dan tiga sekolah di
atas 40 persen (antara 42,1 persen hingga 49,5 persen).
Selanjutnya ia mengungkapkan angka prevalensi anemia yang ditemukan
di 13 sekolah ini berasal dari SD peserta program pemberantasan
cacingan yang mana prevalensi cacingan sudah berhasil diturunkan
menjadi sekitar 10-15 persen. Karena cacingan juga merupakan salah
satu penyebab anemia, maka dapat diduga bahwa prevalensi anemia akan
lebih tinggi pada sekolah yang memiliki prevalensi cacingan yang
lebih tinggi.
Lebih lanjut Adi mengungkapkan dari pengukuran status gizi dengan
tiga kriteria (Berat Badan/Umur, Tinggi Badan/Unur, Berat Badan/Tinggi
Badan) ternyata menemukan hasil yang bervariasi. Gizi kurang dengan
kriteria BB/U menemukan prevalensi gizi kurang yang besarnya kurang
lebih sama dengan prevalensi gizi kurang menurut kriteria BB/TB.
Yang memprihatinkan adalah banyaknya anak dengan kategori pendek (menurut
kriteria TB/U) yang mencapai 23,5 persen. Anak dengan kategori
pendek lebih banyak ditemukan pada anak laki-laki (28,2 persen)
dibandingkan dengan anak perempuan (18,4 persen). Apabila dilihat
dari pengukuran status gizi menurut kriteria BB/TB anak yang kurus
juga lebih banyak pada anak laki-laki (6,3 persen) dibandingkan
dengan perempuan (1,3 persen).
Sementara itu menurut kriteria BB/U maka ditemukan 18,1 persen anak
dengan gizi lebih dan menurut kriteria BB/TB ditemukan 25,3 persen
anak dengan status gemuk, terutama pada anak perempuan (39,2 persen)
dibandingkan dengan anak laki-laki (12,6 persen).
Dikatakan Adi, YKB mendapat bantuan dari Ajinomoto Inc (Tokyo)
melakukan upaya pengembangan model peningkatan status gizi anak
sekolah dasar Pasca Pemberantasan Cacingan di DKI Jakarta selama
tiga tahun [2000/2001-2002/2003]. Selama tiga tahun pelaksanaan
kegiatan ini dipilih 30 sekolah dasar atau sepuluh sekolah per tahun.
Namun pelaksanaan kegiatan tahun kedua diikuti 13 SD yang
pengumpulan datanya dilakukan pada bulan Nopember 2001. nri
Anak Anda Sulit Belajar?
Anak Anda sulit mengikuti pelajaran di sekolah? Waspadai, mungkin si
buah hati terkena anemia. Masalah anemia ini perlu mendapat
perhatian yang sungguh-sungguh karena akan mengakibatkan terjadinya
gejala 5 L (lesu, lemah, letih, lesu, lelah dan lalai).
Praktis anak yang menderita anemia akan mengalami kesulitan dalam
mengikuti kegiatan belajar di sekolah. Anemia yang kronik juga akan
mengakibatkan gangguan kesehatan pada anak. Kombinasi kedua hal ini
akan mengakibatkan prestasi belajar anak juga akan terganggu,
jelasnya.
Untuk menanggulangi anemia perlu dilakukan antara lain: meningkatkan
konsumsi makanan bergizi terutama makanan yang mengandung zat besi,
menambah masukan zat besi ke dalam tubuh dengan minum tablet besi
atau tablet tambah darah dan mengobati penyakit yang menyebabkan
atau memperberat anemia seperti cacingan, malaria dan TBC.
|