g

IPTEK

PMILA > IPTEK

 

Temuan Mahasiswa UNY
Canting Elektronik
Sumber: Republika

Membatik bukanlah pekerjaan mudah. Semua orang mengakui hal itu. Kondisi ini pula yang menjadi salah satu penyebab sulitnya regenerasi di kalangan pembatik. Begitu sulitnya membatik, hingga kebanyakan generasi muda malas kalau disuruh belajar.

Salah satu kesulitan dalam membatik adalah persoalan yang menyangkut canting, atau alat yang digunakan untuk menorehkan malam pada kain. Banyak yang gagal dalam hal ini. Padahal, ini merupakan kunci penting dalam sebuah proses membatik. Jika tidak bisa menggunakan canting, maka jangan berharap bisa membatik.

Hal inilah yang kemudian ditangkap oleh empat orang mahasiswa kreatif Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Mereka ialah Bambang Sulistyo, David Riatmanto, Budi Cahyono, ketiganya mahasiswa Fakultas Teknik Mesin UNY, dan Arip Rochmanto dari Fakultas Teknik Elektro.

Dengan melihat kondisi batik yang kian memprihatinkan, karena sulitnya penguasaan teknik yang menyebabkan lambatnya regenerasi, mereka kemudian memeras otak. Dari berbagai pembicaraan didapat kesimpulan, bahwa yang diperlukan ialah bagaimana menjadikan membatik sebagai pekerjaan yang mudah.

Dan mengingat canting menjadi bagian terpenting, sekaligus tersulit, maka mereka kemudian terpikir untuk berinovasi. Dengan kerja keras, mereka akhirnya berhasil menciptakan alat yang mereka sebut dengan canting elektronik.

Canting yang mereka kembangkan, pada dasarnya tetap mengacu pada cara kerja canting tradisional. Dengan modifikasi dan inovasi di beberapa bagian, canting karya mereka mempunyai berbagai keunggulan dibanding canting tradisional. Dan yang paling utama, penggunaan canting elektronik ini jauh lebih mudah dari canting yang telah ada sebelumnya.

Canting elektronik ini terdiri dari tiga bagian utama, yakni bak penampung lilin batik atau malam, tangkai pemegang, dan alat kontrol suhu yang berfungsi mengontrol suhu canting.

''Problem yang sering dihadapi dari canting tradisional ialah tidak terkontrolnya suhu. Hal ini menjadikan malam sering membeku dan akhirnya membuat macet canting,'' kata Arip kepada Republika.

Sementara bak penampung malam berfungsi untuk memasukkan lilin dalam canting. Hal ini berbeda dengan canting tradisional yang malam-nya diletakkan di tempat berbeda, sehingga untuk bisa membatik, canting terlebih dahulu harus dicelupkan ke dalam malam. Akibatnya, sering terjadi canting belepotan dengan malam itu sendiri. ''Dan inilah yang merupakan bagian paling tersulit dari penggunaan canting tradisional,''
tambah Arip.

Dan problem ini berhasil dipecahkan oleh canting elektronik ini. Lilin batik tidak lagi dipisahkan, tetapi dimasukkan ke dalam bak penampung yang menyatu dengan canting yang kemudian dipanaskan melalui arus listrik. Dengan alat ini, canting itu pun selalu bersih.

Bagian yang juga penting dari canting adalah alat kontrol suhu. Pasalnya, alat yang terdiri dari relai suhu lebih dan konventer AC/DC ini, mampu mengontrol suhu canting agar selalu tetap. Selain itu, alat ini juga dilengkapi dengan pengaturan suhu yang bisa disesuaikan dengan jenis kain yang digunakan untuk membatik. Untuk kain jenis katun, misalnya, arusnya dipasang pada daya 25,04 watt, kain sutera alami 6,48 watt, dan 10,77 watt untuk sutera buatan.

Proses pembuatan alat ini tentu bukan hal yang mudah. Bahkan setidaknya dibutuhkan waktu kurang lebih lima tahun sampai menjadi bentuk terakhir sekarang ini. Selama kurun waktu itu, pengembangan alat ini terus dilakukan.

Menurut Bambang yang merupakan ketua tim ini, persoalan paling sulit dari pengembangan canting elektronik ini adalah pengaturan suhu canting. Sebelum pengatur suhu ditemukan, mereka hanya menggunakan saklar biasa saja. Hal ini menjadikan suhu canting tetap sulit diatur.

Baru pada tahun 2001, alat kontrol suhu ini dapat dirancang dengan masuknya Arip --mahasiswa elektronik-- ke dalam tim ini. ''Kami sempat putus asa,'' tambah David Riatmanto.

Alat pengatur suhu ini pun juga terus mengalami perbaikan. Setelah dibuat pengatur suhu otomatis, Arip juga melengkapi alatnya dengan denyut listrik dan batas suhu maksimal. Dengan alat ini, listrik akan otomatis mati ketika penggunanya terkena arus listrik. ''Dengan begitu alat ini menjadi aman. Bahkan pembatik yang sudah tua pun tidak perlu takut kesetrum,'' kata Arip.

Selain menciptakan kontrol suhu, tim juga terus mengembangkan temuannya. Salah satu kelebihan lain, paruh canting bisa dicopot dan diganti sesuai ukuran yang diinginkan. Seluruh jenis paruh canting, yakni ceceg, klowong, tembogan, dobel ceceg, dan dobel klowong bisa dipasang di tubuh canting. Padahal pada canting tradisional, lima jenis ini terpisah-pisah. ''Dengan canting elektronik ini, pembatik cukup memiliki satu canting saja,'' kata Bambang.

Ke depan, mereka ingin lebih menyempurnakan alat ini. Paling tidak mereka berharap, antara tubuh canting dan alat pengatur suhu berada dalam satu tempat saja, layaknya solder. Dan menurut Arip, mereka telah menemukan komponen untuk itu. ''Sehingga nanti alat ini bisa hanya sebesar rapido saja,'' tambahnya.

Tim ini juga telah melakukan berbagai penelitian terhadap efektivitas temuan ini. Pada survei yang dilakukan di sebuah rumah batik, untuk menguasai canting elektronik ini, paling lama hanya dibutuhkan waktu seminggu saja. Padahal, untuk canting tradisional, seseorang membutuhkan waktu paling cepat satu tahun.

Survei itu juga menunjukkan, mereka yang tertarik dengan alat ini sebagian besar adalah para pembatik pemula. ''Kalau yang tua tidak begitu wellcome, mungkin mereka tetap berpegang pada tradisi.
Padahal, alat kita tetap mengutamakan tradisi,'' papar David.
Canting elektronik ini berhasil menyabet juara II Kontes Inovasi dalam Bisnis yang diselenggarakan Yayasan Progressio beberapa waktu lalu. Mereka berhak atas hadiah sebesar Rp 10 juta.

Sebelumnya, alat temuan ini sempat diajukan ke beberapa lomba antara lain pada Lomba Inovasi Teknologi Mahasiswa (LTIM) tingkat DIY pada tahun 1998, Lomba Karya Inovatif Produktif (LKIP) tingkat nasional, dan Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) pada 2001. Dari ketiga lomba tersebut, karya mereka hanya masuk dalam nominasi finalis.

Yang menjadi obsesi mereka saat ini, bagaimana menarik investor untuk mengembangkan alat ini. Menurut mereka, setidaknya butuh dana sekitar Rp 722 juta untuk mendirikan perusahaan canting elektronik. Mereka yakin, suatu saat ada investor yang tertarik.

Selain itu, mereka juga ingin bisa mematenkan hasil karyanya. Namun mereka menghadapi kendala klasik menyangkut masalah dana. Padahal, karya mereka ini memang cukup rentan untuk dicuri pihak lain. ''Orang yang punya uang bisa saja mengadopsi ide kami untuk dikembangkan lebih canggih. Itu yang kita khawatirkan,'' tandas Bambang. din


^ KE ATAS


Halaman Muka | Kesehatan | Rohani | Perpustakaan PMILA |  Keluarga | Info Wajib Lapor | Iptek | Serba Serbi LA | Tips and Tricks | Warta Indonesia | Perwakilan Indonesia | Lembar Anggota | Tentang Kami | Kontak Kami

© Copyright 2002-2004, PMILA. All Rights Reserved.