|
Merajut
Kembali Simpul Ukhuwwah
Oh KH Dr Didin
Hafidhuddin MSc
Akhir-akhir ini kita dikejutkan kembali oleh berbagai peristiwa
tawuran antar daerah yang bernuansa etnis (kesukuan) yang kelihatan
seolah-olah pertarungan harga diri yang mesti dibela sampai titik
darah penghabisan. Banyak korban yang berjatuhan, baik korban materi
maupun korban nyawa. Padahal, menurut Rasulullah SAW, perang suku
atau mati karena membela kedaerahan (bukan membela kebenaran dan
keadilan), maka matinya adalah mati jahiliyyah.
Yang lebih memprihatinkan lagi, jika ditelusuri, mereka yang
terlibat tawuran tersebut adalah satu akidah, satu keyakinan dan
satu agama yaitu agama Islam. Seolah-olah kesamaan agama dan
keyakinan tidak lagi menjadi perekat persaudaraan. Jika di tingkat
masyarakat bawah perpecahan itu diikuti dengan benturan-benturan
yang bersifat fisik yang mudah disulut, maka fenomena perpecahan di
tingkat elit pun sudah menguak kembali ke permukaan, dengan cara
saling menjatuhkan dan saling menfitnah, hanya karena membela
kepentingan-kepentingan yang sifatnya jangka pendek, yang semuanya
itu didominasi oleh hawa nafsu dan kerakusan pada jabatan, kedudukan
dan materi.
Untuk mempertahankan kedudukan dan jabatan, seseorang rela
mengorbankan hubungan persaudaraan yang seharusnya merupakan ciri
utama dari orang-orang yang beriman, sebab dalam sebuah hadits
riwayat Imam Bukhari Muslim dari Anas bin Malik, Rasulullah bersabda
bahwa seseorang tidak dikatakan beriman sehingga ia mencintai
saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri. Haruskah kita berpecah
dan bermusuhan terus menerus hanya karena perbedaan daerah dan asal
keturunan? atau hanya karena perbedaan orientasi dan arah politik
praktis? atau hanya karena perbedaan tatacara ibadah dan perbedaan
metode da'wah? Bukankah bermusuhan itu sangat dibenci Allah dan
disenangi syaitan? atau mungkin kita ini lebih pantas disebut hizb
syaitan (tentara syaitan) daripada hizb Allaah (tentara
Allah)?
Pedoman Alquran
Alquran, pedoman hidup kaum Muslimin telah memberikan petunjuk yang
jelas bagaimana membangun dan merajut ukhuwwah Islamiyyah yang benar.
Pada dasarnya, nikmat ukhuwwah adalah anugerah Allah SWT. Tanpa
pertolongan-Nya, tidak mungkin kita dapat membangun ukhuwaah
Islamiyah, sebagaimana FirmanNya dalam QS 3:103.
''Dan berpegang teguhlah kamu sekalian pada tali (agama) Allah
dan janganlah bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah
kepadamu, ketika dahulu (masa jahiliyyah) bermusuh-musuhan, maka
Allah menjinakkan antara hatimu, maka menjadilah kamu karena nikmat
Allah orang-orang yang bersaudara....'' (QS Ali Imran: 103).
Berdasarkan ayat ini, jelaslah bahwa nikmah Allah berupa
persaudaraan karena iman, hanya akan diberikan manakala kaum
Muslimin berpegang teguh kepada Alquran (Tafsir Ibn Katsir,
I:349). Tanpa iman dan Islam yang benar (disertai pelaksanaan
ajarannya dalam aktifitas keseharian) tidak mungkin ukhuwwah akan
terwujud secara solid (Shafwatut-Tafsir, II:41). Tanpa
ketundukan hati pada al-Islam atau apda ajaran Allah dengan
istiqomah, konsisten, dan mujahadah, tidak mungkin Ia akan
menganugerahkan nikmat ukhuwwah. Hal ini sebagaimana firmanNya dalam
QS 8:63.
''Dan Allah yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang
beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua [kekayaan] yang berada
di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan
tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha
Perkasa lagi Maha Bijaksana.''
Ukhuwwah Islamiyah sesungguhnya merupakan bagian yang tidak
terpisahkan dari iman dan taqwa. Taqwa tidak akan sempurna tanpa
ukhuwwah dan ukhuwwah pun tidak akan bermakna tanpa dilandasi
ketaqwaan. Manakala ukhuwwah lepas dari kendali iman dan takwa, maka
yang menjadi perekatnya adalah kepentingan pribadi, kelompok,
kesukuan, maupun hal-hal yang bersifat material, yang sesungguhnya
sangat bersifat semu dan sementara.
Ta'liful qulb (ketundukan dan kelembutan hati) yang
termanifestasikan dalam bentuk kasih sayang kepada sesama manusia
sangat tergantung pada interaksi ummat Islam terhadap ajarannya.
Jika kaum muslimin berusaha seoptimal mungkin melaksanakan ajaran
Islam, maka ta'liful qulb akan dimilikinya.
Ajaran silaturahmi dengan sesama ummat Islam, misalnya, harus terus
menerus dibangun dan dikembangkan dalam bentuk ta'awun (saling
tolong menolong) dan saling mendo'akan satu dengan yang lainnya.
Bahkan silaturahmi yang dianggap paling baik adalah silaturahmi
dengan orang atau kelompok yang sedang bermusuhan. Nabi SAW
menyebutnya dengan afdalul-fadhaail (perbuatan paling utama
diantara perbuatan yang utama), sebagaimana dikemukakan dalam sebuah
hadis riwayat Imam Thabrani dari Mua'adz bin Jabal. Alangkah
idealnya jika kelompok yang sedang berseteru dan bermusuhan
berlomba-lomba saling mendahului untuk melakukan silaturahmi dan
saling mendo'akan, sambil berjanji pada diri pribadi masing-masing
untuk tidak mudah diadudomba dan diprovokasi pada perseteruan.
Dalam membangun ta'liful qulb ini, yang tidak kalah penting
adalah kesediaan dan kesungguhan kaum muslimin untuk banyak ruku dan
sujud secara bersama-sama. Artinya kaum muslimin harus menjadi
pemakmur masjid atau mushala yang kini hampir terdapat di berbagai
tempat dan komunitas. Kebersamaan dalam ruku dan sujud (banyak dan
sering berjamaah shalat) akan menumbuhkan kecintaan kepada Allah SWT
yang kemudian diteruskan dengan kecintaan kepada sesama. Hal ini
telah dicontohkan Rasulullah SAW dalam membangun persaudaraan antara
sahabat Muhajirin dan sahabat Anshar di kota madinah. Sebagaimana
diisyaratkan dalam QS 48:29 dan QS 59:8-9, antara keduanya terdapat
kesediaan untuk saling mendahulukan kepentingan saudaranya di atas
kepentingan diri sendiri, atau disebut dengan itsar.
Hasud dan dengki yang merupakan sifat syaitan yang sering masuk ke
dalam watak dan perilaku manusia yang memporakporandakan ukhuwah dan
kebersamaan akan dicabut oleh Allah SWT dengan sebab seringnya
bersama-sama dalam ruku dan sujud tersebut. Kebersamaan dalam ibadah
ini mudah-mudahan akan terimbas pada kebersamaan di dalam
melaksanakan muamalah yang sangat dibutuhkan oleh kita bersama.
Seperti dalam membangun lembaga pendidikan yang berkualitas, lembaga
ekonomi dan keuangan yang tangguh, maupun hal-hal lain yang
dibutuhkan bersama.
Mari kita habiskan energi dan kekuatan kita untuk membangun umat
dalam berbagai bidang kehidupan, dan bukannya dihabiskan untuk
saling membunuh, saling mencelakakan, saling menfitnah dan saling
menjatuhkan. Tidak ada yang diuntungkan dengan dendam dan permusuhan
itu, kecuali syatan dan golongannya. Wallahu a'lam bi ash-shawab.
|