|
Syukur,
Kunci Pengundang Nikmat
Oleh KH Abdullah
Gymnastiar
Tiada Tuhan selain Allah yang menciptakan nikmat. Dia pula yang
memberikan nikmat itu kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya.
Walaupun seluruh kata-kata kita kerahkan untuk memuja dan memuji-Nya,
pastilah tidak sebanding dengan keagungan, kebebasan dan limpahan
nikmat yang telah Allah limpahkan.
Apabila kita mencoba untuk menelaah lebih dalam, nikmat yang besar
itu pada dasarnya tergantung pada nikmat yang kecil. La
insyakartum laa adziidanakum. Barangsiapa yang menyukuri nikmat
yang ada, maka Allah akan menambah nikmat baginya. Oleh karena itu,
jangan risau dengan nikmat-nikmat lain yang belum kita miliki.
Jangan khawatir oleh aneka nikmat yang kita inginkan serta belum
kita peroleh. Tapi, risaukanlah nikmat yang ada dan belum kita
syukuri.
Boleh jadi kita sering panik ketika memikirkan sesuatu yang belum
kita miliki. Padahal, kita seharusnya lebih memikirkan tentang
bagaimana caranya kita mensyukuri apa yang telah kita nikmati. Sebab
rasa syukur itulah yang akan mengundang nikmati-nikmat berikutnya.
Ibarat sebuah lemari kaca yang di dalamnya ada makanan enak dan
lezat, tapi lemari itu terkunci. Coba, mana yang kita pikirkan lebih
dulu? Tentu kuncinya! Mati-matian menginginkan isi lemari, tetapi
sayang kita tidak mempunyai kunci untuk membukanya. Selain sengsara
oleh keinginan itu, kita kita juga tidak akan pernah mendapatkan
isinya. Karena itu, sebaik-baik langkah kita dalam menikmati nikmat
adalah mensyukurinya.
Andaikata kita benar-benar ingin menjadi ahli syukur, maka salah
satu kunci yang harus kita miliki adalah senang membalas kebaikan
orang dengan cara selalu berterimakasih kepada orang-orang yang
menjadi jalan nikmat itu. Misalnya, kita dipinjami motor oleh
seseorang, kembalikanlah dalam keadaan lebih bersih. Kalau bisa,
penuhi bensinnya walaupun dia tidak menyuruh.
Sebagai manusia, dalam menjalani kehidupan ini kita memang sering
membutuhkan bantuan orang lain. Kita mendapatkan ilmu, sebagian
lewat guru. Kita mendapat makanan, sebagian lewat orangtua, sebagian
lewat peternak yang hasilnya kita makan, sebagian lagi lewat petani
yang mencangkul dan menanam di kebun-kebun. Kita mendapatkan nikmat
pakaian melalui para penenun, penjahit. Kita mendapatkan nikmat
kesehatan sebagian lewat para dokter, para perawat, ataupun para
tabib.
Orang yang ahli syukur, yang benar-benar berusaha berterimakasih,
minimal berucap, ''terimakasih.'' Atau ''jazakallahu khairan
katsiraa,'' semoga Allah memberikan balasan kebaikan bagi Anda
yang banyak. Lalu kalau bisa kita balas juga dengan kesanggupan kita,
dengan menjadi seorang yang tahu balas budi. Atau setidaknya dalam
doa-doa sesudah shalat kita sebut nama orang yang telah menjadi
jalan nikmat bagi kita.
Orang yang senang merenungkan kebaikan orang lain, dia akan
menikmati hidup ini. Anak yang sering mentafakuri kebaikan
orangtuanya akan timbul keinginan untuk berbudi baik, membalas jasa,
dan inilah anak yang shaleh. Murid yang gemar merenungkan jasa baik
guru-gurunya, tentu ingin sekali membalas kebaikan mereka. Dan
biasanya menjadi murid yang mulia akhlaknya. Demikianlah, salah satu
bagian dari syukur nikmat adalah membalas kebaikan dengan kebaikan,
berterimakasih kepada orang-orang yang menjadi jalan nikmat. Dan
inilah, pembuka pintu-pintu nikmat lainnya.
Tentu alangkah berat jikalau kita merasa memiliki sesuatu, namun
kita takut kehilangan atau takut tersaingi. Ada sebuah perumpamaan
yang sederhana mengenai tukang parkir. Lihatlah, walaupun banyak
mobil, dia tidak sombong. Ganti-ganti mobil, dia juga tidak menjadi
takabur. Bahkan ketika semua mobil diambil sampai habis, dia tidak
sakit hati. Apa sebabnya? Sebab dia hanya merasa dititipi!
Lillaahi ma fii samaawaati wa maa fil ardh, semua yang di
langit dan di bumi adalah milik Allah. Salah satu yang bisa membuat
kita tenteram dan menjadi ahli syukur adalah kita sadar bahwa semua
nikmat yang ada ini hanya berasal dari Allah dan hanya milik Allah.
Adapun kita, hanya sekedar tertitipi beberapa saat saja.
Oleh karena itu, adanya nikmat jangan membuat kita menjadi sombong,
karena itu cuma titipan. Sedikitnya nikmat juga tidak usah membuat
kita minder, karena itu juga titipan. Melihat orang lain yang
tertitipi banyak rezeki, kita sama sekali tidak perlu dengki.
Mengapa? Sebab yang mereka miliki juga hanya titipan dari Allah.
Maka, sesuka Allah-lah membagikan nikmat kepada siapa pun yang
dikehendaki-Nya. Dan kalau diambil oleh Allah pun itdak perlu sakit
hati, karena memang semua nikmat itu hanyalah titipan dari-Nya.
Percayalah, dengan melatih diri kita bahwa semua yang kita miliki
hanya titipan, maka insya Allah, kita dapat terbebas dari
kesombongan, rasa minder, kedengkian, keserakahan, ataupun sakit
hati. Sebab orang yang paling beruntung dalam hidup ini adalah orang
yang tidak terkecoh oleh pujian. Tapi kita justru seringkali rindu
pujian orang lain. Padahal, sebetulnya pujian yang datang kepada
kita hanya prasangka orang kepada kita. Seorang ahli syukur, dia
tidak akan terjebak oleh pujian. Sebab dia sadar bahwa apapun yang
membuat dirinya dipuji hanyalah kehendak Allah.
Selain kita menjadi lapang, kita juga akan terbebas dari penyakit
sombong yang memalukan. Lebih dari itu, diri kita pun akan jauh
lebih indah daripada asesoris apapun yang membuat kita dipuji.
Mengapa? Karena pada dasarnya pujian itu layak dikembalikan kepada
Allah dan insya Allah, Allah akan membalasnya dengan
memperindah akhlak kita menjadi manusia terpuji.
***
Betapa indahnya karunia Allah berupa lidah dan tenggorokan. Namun
saat kita minum sesuatu, terkadang menyebut Alhamdulillah pun
sangat kurang mutunya. Nasi yang masuk ke dalam mulut kita, jika
tidak kita syukuri maka tidak akan menjadi amal dan akan hilang rasa
nikmatnya. Dengan nikmat yang ktia terima sudah selayaknya kita
berterimakasih sebagai wujud rasa syukur kepada Allah SWT.
Firman Allah dalam Surat An Nisaa ayat 147: ''Mengapa Allah akan
menyiksamu jika kamu bersyukur dan beriman dan Allah Maha Mensyukuri
lagi Maha Mengetahui.''tu pun dalam hadits, Rasulullah Saw
bersabda: iada bersyukur pada Allah siapa yang tidak pandai
bersyukur (berterimakasih) kepada manusia.''
Oleh karena itu orang yang paling beruntung di dalam hidup ini
adalah orang yang dipenuhi oleh rasa syukur. Lantas, bagaimanakah
bentuk syukur yang dapat kita lakukan? Paling tidak, ada lima bentuk
syukur nikmat yang perlu kita renungkan.
Pertama, yakinlah bahwa semua nikmat itu hanya milik Allah.
Tidak ada pembagi nikmat selain Dia. Kedua, afdhulu du'a
alhamdulillah. Puji Allah dalam segala situasi, karena apa yang
kita nikmati sebenarnya melampaui apa yang menyusahkan diri kita.
Jika kita dipuji orang sebagai orang yang cerdas. Sadarilah! Siapa
yang menciptakan akal ini? Otak kita dan pikiran kita, adalah
ciptaan Allah. Kalau kita dipuji karena rupa dan penampilan kita,
lalu siapa yang mendesain wajah kita dan tubuh kita? Hanya Allah!
Dan kalaupun kita dipuji karena harta, itu pun ternyata titipan
belaka.
Orang yang terkecoh dengan pujian biasanya akan menjadi sombong dan
akhirnya dia jatuh karena kesombongannya. Tapi bagi ahli syukur dia
selalu mengucapkan, ''Alhamdulillah''. Segala puji hanya bagi
Allah. Kalau kita dipuji: ''Wah kamu hebat sekali!'' Ucapkan, ''Alhamdulillah,
semua hanyalah milik Allah.'' Atau begini: ''Wah, kamu kaya sekali!''
Katakanlah: ''Alhamdulillah, semuanya adalah titipan Allah.''
Ucapan Alhamdulillah yang muncul dari pikiran yang sehat dan
sempurna pasti akan menimbulkan rasa syukur atas segala nikmat yang
diterimanya dan peristiwa yang terjadi di sekitarnya. Ucapan Subhanallah
akan menimbulkan rasa takjub yang mengartikan kebesaran Allah serta
kesucian-Nya dari segala sifat-sifat kekurangan.
Ketiga, berterimakasihlah kepada orang yang menjadi jalan
nikmat. Harus disadari, bahwa selain syukur pada Allah, kita juga
harus bersyukur pada manusia. Sebab tidak disebut seseorang itu
sebagai ahli syukur kecuali ia juga syukur kepada manusia. Hati kita
yakin bahwa semua yang kita dapatkan merupakan pemberian Allah
melalui prosedur tertentu. Anak yang tahu balas budi kepada
orangtuanya, maka dia bisa disebut sebagai ahli syukur. Berarti anak
yang paling tahu balas budi kepada orangtuanya, maka dia bisa
disebut sebagai ahli syukur. Berarti anak yang paling tahu balas
budi kepada orangtua adalah anak yang paling nikmat hidupnya, sebab
sikapnya itu Allah akan selalu akan selalu menambah nikmat-Nya.
Keempat, jadikan setiap kenikmatan itu menjadi jalan pendekat
kepada Allah. Caranya, dapat dilakukan dengan memanfaatkan sesuatu
sesuai dengan porsi dan peruntukannya. Orang yang bersyukur karena
memiliki keturunan, maka ia mempunyai kewajiban untuk mendidik anak
keturunannya itu agar dekat dengan Allah. Sebab tidak sedikit
orangtua yang tercoreng aib gara-gara anaknya sendiri. Sesungguhnya
itu bukan salah siapa-siapa, tapi kita harus sering melakukan
instrospeksi diri. Bisa jadi coreng aib itu muncul karena di
masa-masa sebelumnya orangtua tidak hati-hati dalam mendidik anak.
Instrospeksi diri tidak pernah ada ruginya.
Bagi mereka yang memiliki profesi sebagai guru atau pendidik juga
merupakan suatu keberuntungan. Karena hidupnya telah menjadi jalan
ilmu bagi orang lain. Bukankah salah satu yang akan jadi cahaya di
kubur adalah ilmu yang bermanfaat selain amal jariah dan anak-anak
shalih? Kalau kita jadi guru, jadilah guru yang ikhlas, jangan
sampai kita mengharapkan sesuatu dari anak-anak. Sebaliknya, kita
harus mampu membekali mereka dengan ilmu untuk masa depannya. Itulah
investasi kita di alam kubur. Perkara rizki itu masalah Allah. Inti
menjadi seorang guru adalah mampu menjadi contoh bukan hanya sekadar
bekerja mengajar saja. Itulah yang paling penting dalam mensyukuri
profesi ini, yaitu menjadi suri tauladan dan selalu berjuang
mendidik anak-anak agar lebih baik dari diri kita sendiri.
Dan yang kelima, ceritakanlah nikmat yang kita dapatkan. Hal
ini semata-mata agar orang lain juga dapat mendekat kepada Allah,
sehingga membuat mereka memuji Allah ketika melihat nikmat yang ada
pada diri kita. Namun jangan sampai kita yang ingin dipuji, sebab
itu namanya riya'. Memperlihatkan nikmat merupakan bagian dari
syukur. Misalnya acara syukuran, acara tersebut merupakan
salah satu cara kita untuk tahadduts hinni'mah (menyebut-nyebut
nikmat Allah). Tapi tetap saja kita harus hati-hati agar terhindar
dari niat untuk dapat pujian dan orang lain. Luruskan niat karena
kita yakin semua nikmat yang kita terima adalah dari Allah dan hanya
Allah-lah yang patut mendapat pujian.
Banyak hal yang membuat kita tenggelam dalam penderitaan disebabkan
karena kita kurang terampil mensyukuri nikmat Allah. Padahal, kita
tidak akan pernah mulia dengan kesombongan. Kebahagiaan sebagai buah
dari rasa syukur, hanya dapat dirasakan oleh orang yang gemar memuji
Allah. Alhamdulillahirabbil'alamin. Semoga kita menikmati
hidup ini dengan merasa dititipi, bukan dengan merasa memiliki.
Selamat menikmati syukur nikmat. Semoga Allah mengaruniakan nikmat
lainnya -- berkah dari rasa syukur atas nikmat yang ada. Wallahua'lam.
|