g

ROHANI

PMILA > ROHANI > HIKMAH

 

Sumber Malapetaka


Oleh KH Didin Hafidhuddin

Hampir setiap hari kita disuguhi berbagai berita melalui media cetak maupun media elektronik yang menggambarkan kondisi bangsa dan negara yang semakin carut-marut dan semakin tidak menentu. Semakin hari semakin banyak persoalan yang terjadi, sementara persoalan-persoalan yang telah ada sebelumnya, belum terselesaikan secara tuntas.

Persoalan pengungsi para TKI dan TKW ilegal, yang jumlahnya mencapai ratusan ribu, kini ditampung di Nunukan, Kalimantan Timur, merupakan persoalan yang sangat ironis dan tragis, yang merupakan tragedi kemanusiaan yang sangat dahsyat, sekaligus mempermalukan bangsa kita di dunia internasional. Betapa pemerintahan kita tidak memiliki visi dan program yang jelas dalam mengatasi masalah ketenagakerjaan, sekaligus terkesan menyepelekan persoalan tersebut, padahal persoalan ini berkaitan dengan hak asasi manusia. Setiap warga negara Indonesia berhak untuk mendapatkan pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan (UUD 1945 pasal 27 ayat 2).

Walaupun Presiden Megawati mengadakan lawatan ke beberapa negara, dengan tujuan konon untuk menaikkan citra dan martabat Indonesia di mata dunia internasional, tetap saja akan kontra-produktif dan akan sia-sia jika persoalan kemanusiaan dalam negeri tersebut tidak segera dituntaskan. Persoalan pertikaian di Ambon yang sempat mereda beberapa saat, kini memanas kembali dan bahkan telah menambah kembali jumlah korban yang tewas. Persoalan Nangroe Aceh Darussalam yang tidak kunjung selesai tampak semakin tidak memperlihatkan titik terangnya. Lagi-lagi yang ada adalah jumlah korban meninggal dan luka-luka berat yang terus semakin bertambah, akibat tindak kekerasan.

Recovery di bidang ekonomi belum memperlihatkan perubahan positif yang signifikan yang tercermin dari kuatnya daya beli masyarakat terhadap kebutuhan hidupnya. Yang ada justru penduduk miskin semakin membengkak jumlahnya. Anak-anak yang kesehariannya berada di jalan-jalan, di bawah lampu-lampu lalu lintas, dan yang hidup di kolong-kolong jembatan dan tidak mendapatkan tempat tinggal dan pendidikan yang layak, juga menunjukkan grafik angka yang menaik. Padahal mereka adalah aset masa depan bangsa. Dapat kita bayangkan apa yang akan terjadi jika anak-anak kita tersebut yang tidak mendapatkan pendidikan yang memadai.

Kemarau yang diprediksi akan berlangsung lama di beberapa daerah, telah memperlihatkan imbasnya. Tanah-tanah persawahan yang seharusnya siap dipanen, menjadi tandus dan terlantar. Kekurangan air bersih untuk keperluan sehari-hari, seperti untuk minum dan mandi, juga tampak sangat mengkhawatirkan.

Supremasi hukum yang telah dicanangkan sejak awal reformasi empat tahun yang lalu, belum juga memperlihatkan kekuatannya. Proses peradilan yang telah digelar belum sepenuhnya memenuhi rasa keadilan masyarakat, apalagi jika yang diadili itu adalah orang-orang yang memiliki jabatan dan kedudukan yang tinggi. Akibatnya tindakan main hakim sendiri dengan cara-cara yang brutal dan mengerikan semakin sering terjadi. Dan yang menjadi korban adalah selalu dan pasti rakyat kecil yang tidak memiliki keberdayaan.
Sementara itu dalam bidang sosial politik, partisipasi rakyat secara maksimal belum terakomodasi dengan baik, walaupun untuk memilih kepala daerahnya sendiri, seperti yang terjadi pada pemilihan Gubernur DKI Jakarta pada hari Rabu, 11 September 2002. Ribuan pengunjuk rasa yang notabene adalah rakyat yang hendak menyuarakan aspirasinya ditekan dengan tindak kekerasan yang mengarah ke represif. Itulah sebagian kecil dari berbagai persoalan kompleks yang dihadapi oleh bangsa kita sekarang ini.
Yang sangat memprihatinkan adalah justru perilaku dari sebagian pejabat kita yang sama sekali tidak memperlihatkan sense of crisis. Ini tercermin dari ucapan dan tindakannya. Seolah-olah persoalan-persoalan tersebut adalah persoalan yang dianggap kecil dan sepele, meskipun sudah jatuh korban nyawa. Alangkah baiknya jika pejabat kita merenungkan apa yang pernah disampaikan oleh Umar bin Khattab ketika menjadi khalifah: ''Aku takut kepada Allah andaikan ada seekor keledai yang mati kelaparan pada saat aku menjadi khalifah''. Persoalan nyawa dan jiwa manusia adalah persoalan serius yang mempunyai implikasi dunia dan akhirat. Dalam sebuah hadits riwayat Imam Baihaqi, Rasulullah SAW bersabda: ''Sungguh hilangnya dunia dan segala isinya, jauh lebih ringan dalam pandangan Allah SWT daripada hilangnya nyawa seorang mukmin.''

Persoalan-persoalan kompleks tersebut jika berlangsung terus tanpa ada kendali, dikhawatirkan akan menjadi malapetaka yang membahayakan bagi kelangsungan kehidupan berbangsa dan bernegara. Dari berbagai penjelasan Rasulullah SAW melalui beberapa haditsnya disebutkan bahwa sumber malapetaka tersebut, antara lain adalah hilangnya sifat amanah, hilangnya rasa malu, terbiasa berdusta, takabbur, hasad dan rakus/tamak (H.R. Thabrani dan H.R. Ibn Asy-Syakir). Keenam sifat dan watak buruk tersebut biasanya berkaitan satu dengan yang lainnya. Sebagai contoh, pemimpin yang berkhianat terhadap amanah yang diembannya biasanya akan hilang rasa malunya dalam melakukan berbagai hal yang bertentangan dengan tugasnya. Dia tidak segan-segan berdusta untuk mengelabui masyarakat dan menutupi berbagai kesalahan yang dilakukannya, bahkan Agama hanyalah dijadikan kedok dan tameng bagi perilaku buruknya. Inilah salah satu tanda perilaku kemunafikan, sebagaimana dikemukakan Rasulullah saw daslam Hadits Riwayat Imam Bukhari dan Muslim, bahwa tanda orang munafik itu ada tiga: ''Jika berbicara selalu berdusta, jika berjanji selalu mengingkari, dan jika mendapatkan amanah selalu berkhianat''. Khianat terhadap amanah yang diemban, sesungguhnya hanya akan mengundang kefakiran dan kemiskinan sebagaimana dinyatakan oleh Rasulullah saw dalam sebuah Hadits Riwayat Imam Dailami: ''Amanat itu akan mengundang rizki, sedangkan khianat akan mengundang kefakiran''.

Watak rakus dan tamak akan menempatkan kepentingan dirinya sendiri di atas kepentingan orang lain. Segala macam akan dipergunakan untuk mendapatkan berbagai jabatan dan kedudukan yang dianggapnya akan memperkaya dan menguntungkan diri dan kelompoknya. Jabatan akan dipertahankannya walaupun secara etika dan moral sudah tidak layak disandangnya, karena banyak anggota masyarakat yang menolak kepemimpinannya.

Terhadap orang-orang semacam itu, Rasulullah SAW mengingatkan dengan sabdanya: ''Kalian sungguh-sungguh akan berusaha mendapatkan kedudukan dan jabatan (di dunia), padahal akan menjadi kesengsaraan di akhirat...''. (H.R. Imam Bukhari). Korupsi kian mudah dilakukan walaupun dengan mengorbankan kepentingan masyarakat yang lebih luas, bahkan dengan cara-cara mengatasnamakan kepentingan rakyat itu sendiri. Tindakan korupsi ini sesungguhnya akan mengundang laknat dan kutukan sebagaimana dinyatakan dalam sebuah Hadits Riwayat Imam Empat, Abu Hurairah berkata: ''Rasulullah saw melaknat orang yang menyuap dan yang menerima suap dalam bidang hukum''.
Kerakusan dan ketamakan terhadap harta dan jabatan ini sesungguhnya adalah wujud dari kefakiran rohani dan kemiskinan batin serta jiwa, sebagaimana dinyatakan oleh Rasulullah saw dalam sebuah hadits Riwayat Imam Thabrani: ''Jauhilah oleh kalian sifat rakus dan tamak karena sesungguhnya sifat ini adalah bentuk kefakiran yang sesungguhnya''.

Berbagai malapetaka dan musibah yang menimpa masyarakat dan bangsa kita sekarang ini, tidak mungkin dapat kita hindari, kecuali dengan berusaha semaksimal mungkin menghilangkan sumber malapetaka tersebut, yang sesungguhnya beradal dari perilaku kita. Karena itu, berbagai kegiatan dakwah, pendidikan dan penciptaan aturan dan sistem harus ditujukan untuk menghilangkan atau meminimalisir perilaku-perilaku buruk tersebut dengan menjadikan diri kita sendiri sebagai contoh dan suri tauladan. Semoga Allah SWT akan selalu membimbing kita semua ke arah kehidupan yang lebih baik. Amin.
Wallahu A'lam bi ash-Shawab.


^ KE ATAS


Halaman Muka | Kesehatan | Rohani | Perpustakaan PMILA |  Keluarga | Info Wajib Lapor | Iptek | Serba Serbi LA | Tips and Tricks | Warta Indonesia | Perwakilan Indonesia | Lembar Anggota | Tentang Kami | Kontak Kami

© Copyright 2002-2004, PMILA. All Rights Reserved.