|
Hakikat
Kemerdekaan
Oleh : Didin Hafidhuddin
Tidak ada yang pantas
kita ucapkan selain rasa syukur ke hadirat Allah SWT. Atas rahmat
dan karunia-Nyalah segenap komponen masyarakat dan bangsa kita dapat
merayakan hari kemerdekaan yang ke-57 Republik Indonesia pada 17
Agustus 2002 kemarin, walaupun di beberapa tempat terjadi berbagai
insiden yang telah merenggut nyawa.
Peristiwa ini sangat bersejarah karena 57 tahun lalu para pemimpin
bangsa, bersama seluruh lapisan masyarakat, telah menklarasikan
kepada dunia bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa berdaulat yang
berhak menentukan nasibnya sendiri dan telah terbebas dari belenggu
penjajahan asing. kemerdekaan yang diraih merupakan hasil dari
sebuah proses perjuangan yang sangat panjang, yang bergelimang
dengan darah dan air mata, dan dihiasi dengan pengorbanan yang luar
biasa, baik harta maupun nyawa. Semuanya, demi meraih cita-cita dan
harapan masa depan yang lebih baik.
kemerdekaan pada dasarnya merupakan sesuatu yang sangat emosional
bagi setiap pribadi maupun bangsa. kemerdekaan merupakan hak yang
sangat asasi dan bersifat fundamental dalam kehidupan. Jika
kemerdekaan individu terganggu, maka dengan serta merta ia akna
berusaha merebut kembali kemerdekaanya. Kemerdekaan itu akan
menjadikan hidup menjadi lebih berarti dan bermakna, manakala diisi
dan dihiasi dengan nilai-nilai, norma-norma, dan amal yang
bermanfaat bagi kehidupan umat manusia.
Ajaran Islam adalah ajaran yang sangat menghormati kemerdekaan
setipa individu dan bangsa. Islam memandang bahwa manusia adalah
makhluk yang dilahirkan dalam keadaan merdeka sehingga segala bentuk
penindasan dan eksploitasi terhedap kemerdekaan setiap individu dan
bangsa sangat ditentang oleh ajaran Islam. rasulullah SAW telah
menegaskan bahwa tidak ada diskriminasi kemerdekaan terhadap setiap
manusia yang lahir ke dunia, meskipun memiliki berbagai perbedaan
latar belakang, suku, kekayaan, kedudukan, status sosial, maupun
atribut keduniaan lainnya. Rasul dengan tegas menyatakan dalam
sebuah sabdanya: ''Wahai sekalian manusia, kalian semua berasal dari
Adam, dan Adam diciptakan dari tanah. Tidaklah orang Arab lebih
mulia daripada orang non-Arab, tidak pula orang kulit putih lebih
baik daripada orang kulit hitam, kecuali ketakwaannya.''
Adalah suatu sunatullah bahwa manusia diciptakan dengan beragam
karakter dan latar belakang. bersuku-suku dan berbangsa-bangsa.
Namun, adanya perbedaan tidak otomatis menjadikan suatu bangsa
menjadi lebih baik dari bangsa lainnya. Allah SWT menciptakan kita
berbeda-beda dengan tujuan agar kita saling mengenal dan saling
berinteraksi atas dasar prinsip persamaan (QS 49:13). Kemduian
seseorang atau suatu bangsa dibanding dengan individu/bangsa lainnya
hanya ditentukan oleh satu indikator: ketakwaan kepada Allah SWT.
semakin tinggi derajat ketakwaan suatu bangsa, maka akan semakin
mulia bangsa tersebut. bangsa yang bertakwa akan senantiasa mendapat
rahmat dan karunia-Nya. Sebaliknya semakin kufur suatu bangsa, maka
akan semakin hina bangsa tersebut. Allah pun akan menurunkan bangsa
yang kufur dengan berbagai limpahan azab dan kesulitan hidup,
seperti dikisahkan dalam QS 16:112 yang artinya: ''Dan Allah telah
membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman
lagi tentram, rezekinya datang melimpah ruah dari segenap tempat,
tetapi (penduduknya) mengingkari nikmat-nikmat Allah. karena itu,
Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan,
disebabkan apa yang selalu mereka perbuat.''
Kemerdekaan, pada hakikatnya, bukanlah semata-mata membebaskan diri
dari belenggu penjajahan asing. Tetapi lebih dari itu, kemerdekaan
yang hakiki adalah kemampuan untuk membebaskan diri dari belenggu
hawa nafsu. Manusia yang merdeka adalah manusia yang mampu
memerdekakan dirinya dari berbagai penghambaan kepada selain Allah
SWT. Seorang pejabat atau pemimpin yang merdeka adalah pejabat/pemimpin
yang mampu membebaskan dirinya dari ambisi-ambisi pribadi (dan
kelaurganya), dan hanya memikirkan kepentingan dan kesejahteraan
rakyatnya. Dia memandang jabatan itu sebagai amanah yang harus
dipertangungjawabkan di hadapan Zat yang maha Merdeka, yaitu Allah
SWT. Ia akan selalu berusaha untuk mengikis habis ruang-ruang bagi
berkembangnya praktik-praktik KKN. Seorang ulama/cendikiawan yang
merdeka adalah ulama yang hanya takut kepada Allah SWT (QS 35:28),
yang selalu menyuarakan kebenaran dan keberpihakan kepada masyarakat
banyak. Ia tidak akan melakukan upaya pembodohan kepada masyarakat,
apalagi dengan menggunakan dalil-dalil dan alasan-alasan yang
sengaja didistorsikan atau disalahtafsirkan.
Seorang penegak hukum (hakim, jaksa, polisi maupun pengacara) yang
merdeka adalah orang yang memiliki komitmen kuat untuk menjadikan
hukum yang benar sebagai panglima. Asas keadilan dan obyektivitas
akan benar-benar dijunjungnya. Ia tidak akan berani mempermainkan
hukum hanya karena iming-iming jabatan atau materi. Hukum ditegakkan
tanpa pandang bulu.
Seorang pegawai yang merdeka adalah orang yang berusaha
mengoptimalkan potensi dirinya untuk meraih prestasi kerja yang baik
dan bermanfaat, dengan landasan ibadah kepada Allah dan mencari
rezeki yang halal. Rakyat dan bangsa yang merdeka adalah rakyat yang
kritis dan bertanggungjawab terhadap keselamatan dan kemaslahatan
bangsanya, serta menjadikan amar ma'ruf nahyi munkar sebagai
bagian integral dari kehidupannya. rakyat yang merdeka tidak mudah
diprovokasi oleh unsur-unsur yang tidak bertanggungjawab yang
bermaksud menjadikan mereka sebagai obyek perasan dan kuda
tunggangan.
Kita sadar betul bahwa kemerdekaan yang sudah berusia lebih datri
setengah abad ini belum mampu menghantarkan masyarakat dan bangsa
kita kepada kemerdekaan yang hakiki. Kita masih dihadapkan pada
kenyataan adanya penjajahan dalam berbagai bidang kehidupan,
sehingga krisis demi krisis datang silih berganti seolah tidak akan
pernah berakhir. Krisis kepemimpinan, krisis politik, krisis ekonomi,
krisis sosial, krisis hukum dan krisis akhlak. Semuanya merupakan
pekerjaan rumah yang semakin kompleks dan berat. Untuk itu, dalam
momentum peringatan HUT Kemerdekaan RI kali ini. kita semua harus
melakukan langkah-langkah berikut:
Pertama, kita semua harus mawas diri (muhasabah) dan bertobat
dengan sebenar-benarnya tobat kepada Allah SWT atas segala
sepakterjang kita selama ini yang mencerminkan pengingkaran terhadap
ketentuan Allah SWT. Berbagai perilaku buruk, seperti senang mencaci
maki, menfitnah, melemparkan kesalahan kepada orang lain, melakukan
kebohongan publik, harus segera kita hentikan. Makna syukur terhadap
nikmat kemerdekaan harus diluruskan kembali. Jangan sampai ungkapan
rasa syukur justru malah mengundang azab Allah yang lebih besar,
seperti upacara seremonial (penurunan bendera) yang dilakukan sore
hari sampai meninggalkan waktu shalat maghrib, dan mengadakan
kegiatan kesenian semalam suntuk yang jauh dari nilai-nilai agama.
Kedua, mengisi kemerdekaan dengan kegiatan dakwah, yaitu mengajak
diri, keluarga dan lingkungan terdekat pada perbuatan yang ma'ruf
dan menjauhkan mereka dari perbuatan yang munkar sehingga melahirkan
masyarakat yang memiliki kekuatan akhlakul karimah.
Ketiga, berusaha menggali potensi sumberdaya yang dimiliki, baik
insani maupun alam, dengan penuh kesungguhan, kekuatan dan
kebersamaan dari seluruh komponen bangsa sehingga mampu membebaskan
diri dari ketergantungan terhadap kekuatan asing.
Keempat, setiap kita harus berusaha untuk menjadi contoh dan figur
manusia yang merdeka. Wallahu'alam bi ash-showab.
|