|
Di
Dalam Tuhan
Oleh : Miranda Risang
Ayu
Jika badan saya
pegal-linu karena kurang tidur atau gagal menghindar dari angin awal
musim semi Australia yang terkenal temperamental, saya sering
merindukan perempuan tua itu. Ia tukang pijat kampung di kota kecil
Tasikmalaya yang tinggal di gubuk. Ia tanpa mencantumkan tarif,
tetapi selalu mengawali dan mengakhiri kerjanya dengan doa bagi
kesembuhan orang yang dipijatnya.
Memijat adalah satu-satunya keterampilan yang didapatnya dalam
penantian, ketika saat gerakan PKI menghangat sekitar bulan
September 1965, suaminya pergi mengajar ke langgar yang dibangunnya
sendiri, dijemput oleh dua orang berseragam yang tidak dikenal, dan
setelah berhari, berbulan, bertahun, tidak pernah kembali lagi. Ia
mengakui kabut yang hampir abadi itu menyelimuti paruh hidupnya
sejak saat itu. Absurdnya, selama puluhan tahun ia masih berharap
akan kepulangan suaminya.
Selain memercayai dan mengasihi sesama, banyak agama besar
menganggap berharap sebagai sebuah kemestian, bukan saja secara
natural, tetapi juga secara spiritual. Bahkan, ada agama yang
mewajibkan umatnya untuk selalu berharap.
Sejauh ini, tidak ada jawaban yang memuaskan, mengapa semua itu
diharuskan. Karena bukan psikolog, saya juga tidak tahu mana yang
benar: psikologi analitis yang menyatakan bahwa berharap adalah
tanda pelarian orang sakit jiwa yang dikecewakan oleh realitas yang
tidak adil, atau psikologi humanis yang meyatakan bahwa berharap
justru adalah tanda dari kesehatan mental seseorang, yang berani
kecewa, berani menyelam sampai menemukan dasar kekecewaannya, dan
menjadi pemenang dengan menemukan harapan yang lebih sejati di
lembah terdalam kekecewaannya. Yang pasti, setiap orang hidup
agaknya dapat menemukan bahwa berharap itu refleksi jiwa, alami, dan
bahkan sebuah berkah, seperti halnya bernapas.
Lucunya, setiap menghikmati kehadiran Mak Iti, saya justru seperti
mau gila, bukan dia. Bagaimanapun, dia bisa terus tersenyum dengan
shalawat dan tasbih dalam berharap naif seperti itu? Apakah bukannya
ia sedang membiarkan diri dilukai terus-menerus oleh harapan yang
tidak pernah menjadi kenyataan? Mengapa ia tidak disadarkan untuk
secara jujur memberi kesempatan bagi dirinya untuk terluka, dan
mengganti harapannya dengan hal-hal yang lebih mungkin terpenuhi?
Tetapi, bibirnya selalu basah dengan nama-Nya. Derita itu tampaknya
telah menjadi tangga rohnya untuk menggapai Allah. Saya yakin bahwa
Mak Iti pasti telah pernah sampai kepada titik ketika hubungan
dengan-Nya agak rumit, yakni ketika doa akan kepulangan suaminya
tidak kunjung dipenuhi, tetapi ia sadar bahwa Allah tetaplah Allah,
Yang Mahakuasa, yang hanya dengan mengucapkan "Kun" saja,
sesungguhnya, bisa membuat yang menurutnya "harus terjadi"
menjadi "terjadi".
Tetapi Mak Iti memilih mengikuti para nabi. Para nabi yang menyitir Fromm,
tidak pernah memprediksi masa depan atau membingkai kekiniannya
dengan harapan di masa depan, tetapi melihat realitas di depannya
dengan apa adanya, dengan bebas dari kebutaan manusiawi, prasangka
buruk, bahkan opini publik dan kekuasaaan. Dengan zikirnya, ia telah
masuk ke dalam paradoks harapan: ia memiliki harapan yang baik,
tetapi tidak bergantung kepadanya. Ia memilih tergantung kepada
sumber dari segala sumber harapan: Allah. Karenanya, sebuah realitas
spiritual yang rumit telah dicapainya, ketika berharap. Ia menemukan
Allah dalam diri-Nya. Ketika berzikir, ia menemukan diri di dalam
Allah, dan dalam kekuasaan-Nya, Allah nyata menguatkan, meskipun
tidak bisa ditunjuk dengan jari.
|