|
Alam
Semesta dan Tantangan Kehidupan Abad ke-21
Oleh: Dr Moedji
Raharto
Dosen
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam ITB
Bagian
Satu dari Dua Tulisan
Islam agama hingga akhir
zaman, Islam mengajak umatnya untuk mengenal langit, mendekatkan
langit yang jauh ke hati manusia. Manusia dan langit tak terpisahkan,
sebagai mahluk Allah yang fana.
Mengenalkan langit untuk keperluan praktis kehidupan manusia
sehari-hari hingga keperluan akherat, elemen untuk mendekatkan
manusia kepada eksistensi zat Pencipta alam semesta dan isinya
dengan qadar waktu yang telah ditetapkanNya.
Perhatikan masalah keperluan praktis misalnya penentuan waktu ibadah
shalat lima waktu, ibadah shaum Ramadhan, ibadah Haji adalah contoh
untuk penggunaan Matahari dan Bulan untuk keperluan manusia.
Fenomena siang dan malam sebagai tanda eksistensi zat Pencipta bagi
mahluk berakal, bagi mahluk cerdas.
Ada malam lailatul qadr di bulan Ramadhan, malam yang lebih baik
dari seribu bulan, merangkai rasionalitas dan iman. Anda bisa
menanyakan berbagai pertanyaan rasionalitas manusia tak bisa
menjangkaunya bila tak disertai keimanan, percaya bahwa Allah zat
pencipta dan tak pernah ingkar terhadap janjiNya dalam al Quran.
Pencantuman nama benda langit sebagai nama surat dalam al Quran juga
merupakan sebuah indikator kuat untuk menyadarkan umat manusia
tentang pentingnya benda langit dan alam semesta sebagai bagian
dalam kehidupan manusia.
Langit menyimpan informasi tentang kemahabesaran Allah pencipta
berbagai fenomena langit yang sangat besar di luar kekuasaan manusia,
manusia diberi akal untuk menjangkaunya, menjangkau tepi batas alam
semesta, menjangkau yang lebih jauh kehidupan akherat. Pantas bila
manusia merupakan mahluk ciptaan-Nya yang sempurna, sebagai khalifah
di muka Bumi.
Perjalanan panjang kehidupan yang melampaui batas-batas dunia fana.
Islam menuturkan bahwa dunia fana perlu dilalui dengan
sebaik-baiknya sebagai bekal perjalanan panjang selanjutnya
perjalanan akherat. Dunia fana ibarat sebuah temporary file
sebuah kehidupan yang bisa diedit setiap saat dan pada waktunya akan
menjadi final version dari sebuah kehidupan.
Pertarungan di alam dunia memang sangat luar biasa, untuk mencapai
kemenangan tidaklah mudah. Manusia senantiasa diminta selalu berdoa
dan berdoa kepadaNya agar diberi kekuatan lahir dan batin melawan
godaan setan.
Persoalan besar yang dihadapi rasionalitas umat manusia abad 21 ini
adalah mencari jawab tentang struktur dan evolusi alam semesta
selain itu adalah mencari bukti kehidupan di luar planet Bumi,
kehidupan di extrasolar planet dan di alam semesta.
Episode kehidupan alam semesta merentang dari kelahiran (15-20
miliar tahun silam) dan kehancuran alam semesta merupakan kurun
waktu yang sangat panjang (hingga 10.100 tahun mendatang) dibanding
dengan kehidupan manusia atau koloni kehidupan di planet Bumi yang
hanya beberapa puluh tahun.
Fosil yang berjuta dan bermiliar tahun juga masih terlalu singkat
dalam pagelaran usia alam semesta yang sangat panjang. Alam semesta
berusia antara 15-20 milyar tahun, usia matahari sekitar 5 miliar
tahun dan planet Bumi 4,6 miliar tahun sedang fosil kehidupan awal
di planet Bumi 3,2 miliar tahun. Usia planet Bumi relatif sangat
muda dibanding dengan umur alam semesta, begitu pula usia kehidupan
di planet Bumi.
Di antara masa kelahiran dan kehancuran planet Bumi, mahluk cerdas
manusia diberi kesempatan untuk memahami dan mencari makna kehidupan
atas ciptaan-Nya. Ciptaan Allah meliputi mahluk hidup dan materi
mati, benda dan fenomena langit yang jauh, benda dan fenomena
sehari-hari yang dekat kehidupan manusia di planet Bumi.
Kehidupan di planet Bumi merupakan sebuah episode semasa bintang
matahari masih aman dan ramah bagi biosfer planet Bumi, semasa
planet Bumi tidak dihujani batu-batu purba tatasurya berukuran
raksasa, semasa manusia bisa mengembangkan pengetahuan dan agama.
Kecanggihan kehidupan hewan dan manusia di planet Bumi dapat kita
saksikan sebagai karya besar dari sang Pencipta.
Paradigma integrasi sains dan agama dalam perspektif mencari
kebenaran dapat diterjemahkan sebagai ihtiar mencari kebenaran
melalui rasio dan iman dalam memahami ayat al Quran dengan metode
tafsir ayat Quran dan memahami fenomena alam melalui metodologi
sains.
Manusia mengembangkan dunia sains, manusia mengenal fakta-fakta
kehidupan di planet Bumi dan fakta-fakta di langit yang diperoleh
melalui eksperimen dan pengamatan yang berulang-ulang. Alam semesta
dan isinya yang besar dan berproses panjang dari kelahiran dan
kehancurannya hanya dapat diamati, manusia tak diberi kuasa untuk
melakukan eksperimen.
Fakta-fakta benda dan fenomena langit yang hadir saat ini diukur
dengan seksama dan menjadi pengetahuan manusia. Melalui fakta-fakta
fenomena langit atau eksperimen fisika dicari hukum alam yang
mendasari fenomena fenomena alam diantaranya ada hukum Newton
tentang gaya yang bekerja pada benda-benda dan dinamika beda-benda
tersebut, hukum Snellius tentang refraksi cahaya (pembelokan cahaya
oleh medium), dsb.
Perlu diketahui bahwa hukum-hukum fisika tersebut walaupun
mengkaitkan sebab dan akibat atau kemungkinan akibat dari suatu
penyebab, masih mempunyai peluang untuk direvisi pada suatu keadaan
yang lebih presisi. Hukum Newton tentang gravitasi misalnya bisa
menjelaskan hukum Kepler tentang gerakan planet secara global, namun
belum cukup untuk bisa menjelaskan fenomena lensa gravitasi,
berbeloknya cahaya bintang atau galaksi oleh sebuah obyek yang
bermassa besar diantara pengamat dengan obyek tersebut.
Melalui sains dicoba didiskripsikan apa dan bagaimana proses
fenomena alam bisa terjadi dalam konteks eksperimen dan pengamatan,
ada parameter yang bisa diamati dan diukur. Agama memperluas
spektrum makna alam semesta bagi manusia tentang kehadiran
benda-benda alam semesta, kehidupan dan manusia.
Jawaban singkat tentang pertanyaan Siapa pencipta alam semesta
beserta hukum-hukum alamnya, Allah adalah zat yang Maha Pencipta.
Agama memperluas pengetahuan yang dicakup oleh metodologi sains dan
rasionalitas manusia seperti berkenalan dengan alam ghaib, akherat,
dsb.
Ke
Atas
Bagian
Terakhir dari Dua Tulisan
Manusia mencoba untuk
mendefinisikan berbagai zaman di dalam alam semesta. Di antaranya
zaman primordial yang berlangsung antara 10-50 hingga 105 tahun.
Zaman Bintang 106-1.014 tahun, zaman materi terdegenerasi
1.015-1.039 tahun, dan zaman Black Hole antara 1.040 sampai 10.100
tahun. Tidak ketinggalan, zaman gelap 10.101-10??? tahun, serta
zaman Kehancuran Alam Semesta 10.200???? tahun.
Tanpa fakta-fakta yang diketahui manusia (atas izin Allah), akhirnya
manusia hanya bisa berspekulasi dan tak bisa mendefinisikan berbagai
keadaan. Sebagai contoh, soal kelahiran dan kehancuran alam semesta.
Dalam perspektif besar alam semesta, kehidupan sekarang adalah
secuplik kecil episode kehidupan di zaman bintang -- zaman yang agak
jauh dari kelahiran dan kehancuran fisik alam semesta.
Manusia bersama koloni kehidupan berada dalam sebuah wahana
antariksa ciptaan-Nya. Bentuknya seperti Bola, terbuat dari tanah,
batu, air, dan udara dengan bobot total 5.98 x 1.027 gram. Bola Bumi
diiringi sebuah satelit alam bernama Bulan dengan bobot 7.3 x 1025
gram atau 0.0123 kali massa planet Bumi.
Bulan berjarak rata-rata 384.400 km dari planet Bumi dan beredar
dengan periode 27,3 hari. Planet Bumi bersama Bulan mengapung diikat
dengan gaya gravitasi beredar mengelilingi Matahari yang bobotnya
hampir 332 ribu kali lebih besar (1.99 x 1033 gram) dibanding dengan
planet Bumi. Bumi berada pada jarak hampir 150 juta km (1.496 x 1011
meter).
Matahari merupakan wahana antariksa yang mengorbit galaksi Bima
Sakti dengan periode yang lebih besar 220 juta tahun. Matahari
berjarak sekitar 8.5 kpc (2.6231 x 1020 meter atau 1.753.252.500
kali jarak rata-rata Bumi-Matahari) dari pusat Galaksi. Galaksi
adalah sebuah wahana antariksa yang jauh lebih besar dari planet
Bumi atau sebuah Matahari.
Galaksi bisa mengikat bermiliar bintang dan planet. Alam semesta
berisi dengan bermiliar galaksi yang terikat dalam gugus-gugus
galaksi. Planet Bumi dalam skala manusia adalah wahana antariksa
raksasa yang terus beredar mengelilingi jagat raya yang besar.
Wahana antariksa hanya bisa dimuati oleh beberapa manusia dan
usianya tidak bisa langgeng hingga bermiliar tahun. Dalam wahana
antariksa planet Bumi ini dilengkapi berbagai ciptaan-Nya yang
sangat menarik.
Di antaranya adalah nyamuk, lalat, lebah, ulat, unta, ular, burung,
serta mahluk kecil dan besar yang mempunyai kecanggihan mekanik.
Mereka digerakkan dengan energi kehidupan yang relatif sangat kecil
diperoleh dari makanan sekelilingnya. Kecanggihan itu merupakan
indikator adanya wahyu Illahi yang mendesain komponen hidup mahluk
tersebut sehingga masih tetap hidup dan berkembang biak.
Penjelajahan manusia telah sampai pada ke struktur yang lebih rinci
dan lebih kecil untuk mengetahui komponen penting pembeda kerja
komponen kehidupan antar mahluk-mahluk. Kita mengenal molekul DNA
yang terdiri dari berjuta sel hidup dan RNA bekerja untuk
pertumbuhan dan membentuk kekhasan mahluk hidup.
Di Planet Bumi ini diturunkan al Quran untuk pedoman hidup dan
memberi makna kehidupan bagi mahluk-Nya yang berakal. Dalam wahana
ini diharapkan manusia bisa dekat kepada-Nya, bersujud dan bersyukur.
Sebagian keagungan Allah diperlihatkan di alam semesta. Karya yang
maha cendekia di Bumi yang kecil dan di semesta yang sangat luas itu
seharusnya sudah menghabiskan waktu hidup manusia untuk bersujud dan
bersyukur.
Manusia patut bersykur karena dikaruniai akal untuk bisa menjelajah
lebih jauh kebesaran Allah dibalik penglihatan kasat mata manusia.
Bersujud karena melihat karunia Allah yang maha pemurah dan maha
penyayang. Perjalanan hidup di planet Bumi ini hanya sementara dan
perjalanan hidup menuju alam lain yaitu alam baka, alam kubur, dan
alam akherat.
Dulu manusia melihat pemandangan alam semesta yang megah ini sebagai
suatu kerajaan yang menakutkan. Eksistensi manusia sebagai mahluk
cerdas di Planet Bumi, kemungkinan baru beberapa juta tahun silam.
Planet Bumi berusia 4,6 milyar tahun. Melalui kecerdasannya manusia
dapat menerawang kehidupan masa silam alam semesta dan masa depan
alam semesta.
Melalui pengetahuan itu kita menyadari bahwa alam semesta merupakan
alam fana, berbagai proses dalam alam fana dari pembentukan materi
hingga kehancuran materi tersebut dalam dimensi ruang waktu.
Berbagai episode kehidupan telah berlangsung di Planet Bumi di
antaranya adalah kepunahan mahluk Dinosaurus 65 juta tahun yang
silam.
Kepunahan itu diduga karena tabrakan tata surya, Planet Bumi dengan
asteroid. Tabrakan itu menimbulkan bencana temporer yang sangat
dahsyat di biosfer Planet Bumi sehingga sebagian besar mahluk hidup
di planet Bumi punah.
Komunikasi antara manusia dengan obyek lain di alam semesta dijalin
lewat kurir informasi satu di antaranya adalah cahaya, gelombang
radio. Bintang dan Galaksi yang jauh dikenal manusia lewat kurir
informasi dalam bentuk foton cahaya. Cahaya itu ada yang telah
menempuh perjalanan bermiliar tahun, berjuta tahun, atau hanya
beberapa menit dari sumber cahaya bintang maupun galaksi.
Cahaya mempunyai kecepatan terbatas. Melalui siraman cahaya ini
mahluk cerdas di planet Bumi mencoba memahami langit dan isinya.
Mata manusia sebagai alat utama, akal manusia dan berbagai inspirasi
diturunkan Allah untuk kehidupan mahluk cerdas manusia.
Kini disadari bahwa gemerlapan bintang yang jauh, dibangkitkan
melalui energi nuklir. Inspirasi ini diperoleh manusia ketika
menyelami dunia atom dunia mikro, nano, femto, fermi, dst. Interaksi
nuklir mempunyai gaya terbesar dengan jangkauan terpendek, skala
inti atom, berfungsi mengikat inti atom, netron, dan proton dsb.
Interaksi elektromaknit gaya yang umum dijumpai dalam kehidupan
sehari-hari sekitar 10-2 lebih lemah dari gaya nuklir. Interaksi
lemah, peluruhan inti atom sekitar 10-14 lebih lemah dari gaya
nuklir. Interaksi gravitasi sekitar 10-40 kali lebih lemah dari gaya
nuklir dan menjadi gaya yang berarti bila massa obyek sangat besar
contoh gaya tarik bulan terhadap bumi dan gaya tarik bumi terhadap
Bulan.
Ada hirarki dalam kehidupan. Manusia tak akan bisa berkembang biak
bila tidak ada kehidupan lain penyangga kehidupan manusia. Manusia
tak kuasa mengolah sebongkah tanah menjadi sebuah pisang yang
diperlukan untuk dimakan, tanpa pohon pisang. Ada hewan pemakan
bangkai dan mengembalikan jasad manusia menjadi tanah, namun ada
hewan yang dimakan manusia untuk pertumbuhan dan aktivitas manusia.
Hidup merupakan sebuah sistem yang kompleks, ada mata rantai
kehidupan antar mahluk hidup.
Kehidupan di Planet Bumi sukar dibayangkan bisa berkembang di Bulan
-- sebuah bongkah batu yang dekat dengan Planet Bumi. Walaupun Bulan
relatif berjarak dari matahari dan berjarak hampir seperti kedudukan
Planet Bumi ke matahari sekitar 150 juta km.
Manusia mengetahui kondisi di Planet Venus yang lebih dekat ke
matahari atau planit lainnya yang lebih jauh dari matahari.
Kehidupan yang diciptakan-Nya di Planet Bumi tampaknya sangat sukar
atau tidak mudah berkembang di planet lainnya.
Manusia dapat menyimak secara lebih detail keindahan mekanistik cara
mahluk Allah menghidupi dirinya di Planet Bumi, dan akan menemukan
ke maha besaran Allah pencipta segalanya. Keindahan tatanan warna
warni, aneka ragam bentuk, kemegahan alam semesta dan aneka ragam
proses kehidupan yang panjang dan yang singkat.
Makna baru berbagai pengetahuan komprehensif telah dicapai umat
manusia mulai dari materi kecil atom, inti atom hingga alam semesta.
Dan itu telah memperlihatkan berbagai proses indah, intelegen, dan
megah terkait dengan kehidupan di Planet Bumi. Proses itu pun
menyentuh lapisan pintu-pintu penutup atau penghalang tingkat
keimanan manusia yang lebih tinggi kepada zat yang Maha Esa, Maha
Pencipta dan Maha Kuasa atas segalanya.
Dr Moedji Raharto
Dosen Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam ITB
|