|
Ramadhan
adalah 'Sepotong Taman Surga'
Oleh : KH
Hasyim Muzadi
Pernahkah
terbayang dalam benak kita mengenai "sepotong surga" yang
melayang-layang di atas bentangan langit dunia? Ia diangkat
tinggi-tinggi oleh sepasukan malaikat Allah dan diantarkan oleh para
bidadari yang mengirimnya hingga ke langit terbawah.
Dalam "sepotong surga" ini tampak pula
sepotong kolam yang berair tenang hingga kita dapat melihat diri
kita sejelas-jelasnya. Jelas dosa-dosa kita, jelas pula kekurangan
dan sifat alpa kita. Inilah tempat paling jujur bagi kita untuk
melihat diri. Dan, dialah, Ramadhan yang kehadirannya selalu
dinanti-nanti.
"Sepotong surga" ini sengaja dihidangkan
Allah untuk para hamba-Nya. Ia, tentu saja diidam-idamkan oleh semua
makhluk Allah. Berbeda dengan kilatan komet yang datang sekian puluh
tahun sekali, "potongan surga" ini datang sekali setahun,
selama satu bulan. Komet hanya sekilas lalu menghilang. Hanya
dinikmati oleh mereka yang dekat dengan teropong. Tetapi potongan
surga ini, sungguh luar biasa menakjubkan, diperuntukkan untuk semua
hamba-Nya.
Baginda Rasul, Nabi Muhammad SAW, jauh-jauh hari
sebelum bulan termulia ini datang, selalu melakukan
persiapan-persiapan. Beliau menampakkan rasa gembiran serta
keriangan tiada tara, karena bulan ini akan memberikan kesempatan
emas bagi beliau dan terutama bagi umatnya.
Ramadhan adalah bulan penuh berkah, bulan kasih
sayang Allah, bulan ampunan Allah dan bulan di mana Allah membuka
pendaftaran bagi hamba-Nya yang ingin dibebaskan dari sergapan dan
jilatan api neraka.
Setelah sebelas bulan lamanya kita bergelimang dosa,
badan ditaburi dengan makan-makanan yang syubhat serta
haram, mata hanya menikmati pemandangan yang mengundang murka Allah,
telingan hanya mendengarkan yang berbau maksiat, tangan digunakan
untuk memeras; kini tiba saatnya, selama satu bulan, kita menahan
ini semua.
Betapa sayang dan kasihnya Allah kepada kita, meski
berjuta dosa menumpuk, meski serangkaian pengkhianatan kita lakukan,
meski setiap janji dengan-Nya kita selalu menyertainya dengan
pelanggaran, tetapi Allah tak pernah bosan untuk menyayangi kita.
Alangkah indahnya kasih Allah kepada kita, tetapi
alangkah nistanya kita sebagai hamba-Nya. Setiap saat Allah antarkan
nikmat-Nya kepada kita, tetapi setiap malam para malaikat-Nya juga
mengantarkan catatan-catatan keburukan kita kepada Allah.
Maksiat kita kepada-Nya tiada henti tetapi ampunan
Allah kepada kita juga tidak pernah terputus. Alangkah nikmatnya
Ramadhan. Beruntunglah kita masih diberi kesempatan oleh Allah untuk
bertemu Ramadhan karena tidak sedikit di antara saudara kita yang
pernah bertemu Ramadhan tahun lalu, tetapi tak bisa menikmatinya
tahun ini. Ketahuilah, ini semua terjadi karena kita masih disayang
Allah. Janganlah kasih dan sayang-Nya kita balas dengan tindakan
yang justru menistakan diri kita.
Untuk membasuh seluruh daki-daki dosa, untuk
membersihkan sifat angkara murka, untuk menyucikan kembali jiwa kita,
Allah telah memerintahkan para malaikat-Nya mengantarkan "sepotong
surga" agar kita dapat membasuh diri, membersihkan jiwa serta
menyucikan hati melalu bulan Ramadhan. Karena itu, jangan sia-siakan
kedatangan Ramadhan ini, jangan telantarkan hidangan yang tengah
disajikan para malaikat-Nya kepada kita.
Bulan ini akan mengajarkan kepada kita bagaimana
melakukan pengendalian, bagaimana melakukan pelurusan serta
bagaimana melakukan penjernihan terhadap rohani kita. Hal ini semua
dapat dengan mudah dicapai bila kita secara sadar mampu
mengendalikan nafsu, karena salah satu elemen kamanusiaan ini memang
diciptakan Allah dengan kehendak tak terbatas. Nafsu selalu
cenderung kepada hal-hal negatif (an-nafsul ammaaroh bis suu')
dan untuk menundukkannya kita harus bisa memberikan jalan dan ruang
yang jelas agar nafsu dapat dimafaatkan dengan benar. Inilah
sebenarnya barometer paling nyata yang diberikan Allah kepada
hamba-Nya untuk dapat mengukur kehambaan kita kepada-Nya.
Jika seorang hamba mampu mengendalikan nafsu dan
memanfaatkannya dengan baik, maka nafsu (an-nafsul lawwamah)
akan sangat membantu membangunkan stimulus dalam diri kita untuk
selalu menyelaraskan kehendak kita dengan kehendak Allah. Kalau bisa,
malah meletakkan kehendak Allah di atas kehendak kita.
Menikmati makanan karena lapar, merasakan kesejukan
air karena dahaga, dan berhubungan intim karena memenuhi kebutuhan
biologis, adalah kehendak kita. Di bulan Ramadhan, kita mencoba
mengendalikan kehendak-kehendak ini di bawah kendali kehendak Allah.
Allah berkehendak agar kita berpuasa dari makan, menahan dahaga
serta menjauhi hubungan intim.
Ini semua harus kita lakukan meski kita meyakini
benar harta yang kita makan adalah milik kita, air yang kita minum
adalah milik kita, dan wanita yang kita gauli adalah istri kita.
Puasa bukan sekadar melarang kita untuk melakukan hal-hal yang
diharamkan Allah, tetapi apa yang menjadi hak kita pun harus
dibatasi dari terbit fajar hingga terbenam matahari. Pada strata ini,
kita baru sukses menjadi orang yang berpuasa "shoumul 'umum".
Pada strata lanjutan, seorang hamba akan disebut
mampu menangkap pesan moral ibadah puasa ketika ia bukan sebatas
menahan makan, minum, dan seks, tetapi bila ia berhasil
mengendalikan pembicaraannya, pendengarannya, dan pandangannya.
Bulan ini akan mampu mengantarkan kita melakukan
"shoumul khusus", kalau kita mampu puasa bicara.
Kita bukan sekadar mampu mengendalikan lidah untuk tidak menggunjing,
menfitnah, berbicara kotor, karena di luar bulan Ramadhan pun hal
itu tak boleh kita lakukan. Kondisi ini akan semakin baik jika kita
juga mampu melakukan puasa mendengarkan.
Bukan sekadar berpuasa mendengarkan yang jelek-jelek,
karena di luar bulan Ramadhan pun hal itu sudah jelas-jelas dilarang.
Kita mencoba mendengarkan yang baik serta membiasakan telinga kita
menyimpan hal-hal yang baik. Begitu pula dengan puasa melihat. Kalau
jenjang ini berhasil kita lakukan, maka strata kita sudah meningkat
menjadi "shoumu khususil khusus".
"Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan
atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum
kamu agar kamu bertakwa." (Al-Baqarah: 183).
Jika bangsa ini merasa betapa berlimpahnya kesulitan
menghadang, seakan tidak ada lagi harapan, maka Ramadhan adalah saat
di mana Allah tidak akan mengecewakan hamba-hamba-Nya. Karena itu,
seharusnya kita bersimbah air mata karena kerinduan yang mendalam
ingin mendapatkan jaminan Allah SWT.
Baginda Rasul pernah bersabda, "Inilah bulan
yang ketika engkau diundang menjadi tetamu Allah dan dimuliakan
oleh-Nya. Pada bulan ini napasmu menjadi tasbih, tidurmu menjadi
ibadah, amal-amalmu diterima, dan doa-doamu diijabah.
Bermohonlah kepada Allah, Rab-mu dengan
hati yang tulus dan hati yang suci agar Allah membimbingmu untuk
melakukan shaum dan membaca kitab-Nya. Sungguh celakalah
orang yang tidak mendapatkan ampunan Allah pada bulan yang agung ini.
Wallaahu a'lamu bis-shawaab.
|