|
Pancaran
Pribadi Bersih Hati
Oleh : KH Abdullah
Gymnastiar
Maha Suci Allah, Dzat
yang menguasai segala-galanya dengan Maha Cermat dan Sempurna. Dzat
yang Maha Tahu apa pun yang kita lakukan, tidak hanya lirikan mata,
tapi juga niat di balik setiap lirikan mata. Tidak hanya kata yang
terucap, namun juga niat di balik setiap patah kata.
Berbahagialah bagi orang-orang yang selalu menyadari bahwa Allah
Maha Menatap, Maha Mendengar, dan Maha Menilai segala apa yang kita
lakukan. Sebab pastilah tidak ada yang luput dari genggaman-Nya,
walau setitik noktah pun. Pastilah pula Allah akan memberikan
ganjaran yang setimpal dan balasan (siksa) yang setimpal pula dari
setiap yang kita lakukan.
Dan apa pun yang kita perbuat sebenarnya adalah pancaran dari kalbu
kita. Seumpama sebuah teko, ia hanya akan mengeluarkan isi yang ada
di dalamnya, jika di dalamnya air kopi, maka yang keluar juga air
kopi. Bila di dalamnya air teh, maka yang keluar juga air teh,
begitu seterusnya. Dan begitu pula dengan perilaku lahiriah kita
adalah cermin kalbu kita yang sesungguhnya.
Apabila seorang hamba, kalbunya telah bersih, bening, dan lurus,
karena telah terkelola dengan baik akar tercermin pula dari perilaku
lahiriahnya. Di antaranya dapat dilihat dari raut muka atau wajah,
karena kalau hati cerah, ceria, senang, tulus, dari wajah juga akan
tersembul pancaran ketulusan, dan senantiasa memancar energi yang
membahagiakan orang lain.
Mungkin wajahnya tidak begitu cakep, kurang jelita, mungkin kulitnya
hitam, mungkin hidungnya tidak begitu mancung, boleh jadi alisnya
kurang begitu simetris, atau wajahnya ada kekurangan, katakanlah ada
cacatnya, tapi tidak bisa dipungkiri bahwa kalau hatinya bening,
jernih, dan tulus ia akan senantiasa memancarkan sinar keindahan,
kesejukan, dan kenyamanan.
Orang yang hatinya bersih akan tercermin pula dari kerapian dan
kebersihan di lingkungan sekitarnya. Kita sepakat bahwa kumal, kusut,
kotor, dan bau adalah sesuatu yang tidak kita sukai. Namun, entah
kenapa sebagian kita ada yang malas merawat diri. Bahkan enggan
menyisir rambutnya agar kelihatan rapi. Bukan tidak boleh punya
rambut bermode, tapi yang lebih penting adalah bagaimana agar ketika
orang lain melihat penampilan kita, pikirannya tidak menjadi jelek.
Ketika suatu waktu lewat di depan taman kota, terlihat ada
sekelompok pemuda dengan potongan rambut landak gaya duran-duran,
punk, dan ada juga yang dicat pirang. Tentu saja ini akan membuat
orang lain berpikir jelek tentang mereka.
Maka, pastikan rambut kita selalu tersisir rapi. Pada kaum laki-laki,
tidak usah diperbudak oleh mode. Intinya, kalau orang lain melihat
penampilan kita, orang itu menjadi cerah, tenteram, senang, dan
merasa aman. Tidak usah pula centil dengan menempelkan segala
atribut, gambar tempel, atau juga tanda jasa supaya orang lain tahu
siapa kita, buat apa? Semuanya harus wajar, proporsional, dan tidak
berlebih-lebihan.
Bagi seorang wanita yang memiliki hati yang bersih akan terpancar
pula dari penampilannya yang tidak over acting, tidak
berdandan mencolok, semuanya serba wajar dan proporsional. Hal ini
menjadikan orang yang melihatnya juga menjadi enak, wajar, dan
normal, walaupun tidak dipungkiri bahwa setiap orang punya standar
penilaian yang berbeda-beda. Namun, yang terpenting adalah penilaian
menurut Allah SWT. Kalau orang-orang yang berpenyakit hati
kadang-kadang penilaiannya selalu negatif, walau sebenarnya kita
sudah melakukan yang terbaik.
Pancaran bersih hati lainnya akan tampak terealisasikan pula dari
struktur bibir atau senyuman. Pastilah kita akan enak kalau melihat
orang lain tersenyum kepada kita dengan tulus, wajar, dan
proporsional. Dan senyum itu bukanlah perkara mengangkat ujung bibir
--itu perkara tipu-menipu-- tapi yang paling penting adalah
keinginan dari dalam diri untuk membahagiakan orang yang ada di
sekitar kita, minimal dengan sesungging senyuman. Dan tentu saja
dilanjutkan dengan sapaan tulus, ucapan salam, ''Assalamualaikum'',
keluar dari hati yang ikhlas, insya Allah ini akan membuat suasana
menjadi enak, tenteram, dan menyenangkan.
Suatu yang patut kita renungkan, saat duduk di masjid sewaktu shalat
berjamaah atau juga acara majelis taklim, kadangkala kita suka
enggan menyapa orang di samping kita, sepertinya ada tabir atau
benteng yang kokoh menghalang. Padahal yakin sama-sama umat Islam,
yakin sama-sama mau sujud kepada Allah. Kalau kita ada dalam kondisi
seperti ini seharusnya tidak usah berat untuk menyapa duluan. Kenapa
kita ini ingin disapa lebih dulu? Etikanya memang, yang muda kepada
yang tua, yang berdiri kepada yang duduk, yang datang kepada yang
diam. Namun sebaiknya, mumpung kita punya kesempatan, lebih baik
kita yang duluan menyapa. Kalau kita sebagai bapak, saat pulang
kerja ke rumah cobalah tebarkan salam, ''Assalamualaikum
anak-anakku sekalian!'' dibarengi senyuman ramah dan belaian
sayang, daripada marah-marah, ''Anak-anak diam, Bapak lagi capek!
Seharian Bapak membanting tulang memeras keringat, tiada lain hanya
untuk menghidupi kalian tahu!?'' Wah, kalau begini pastilah
anak-anak tidak akan merasa aman.
Juga para bos, pimpinan, direktur, manajer, ketua kelas, wali kelas,
atau siapa saja yang jadi atasan, jangan sampai seperti monster. Apa
itu monster? Yaitu makhluk yang kehadirannya ditakuti. Kalau kita
datang orang jadi tegang, panik, jantung berdebar kencang, dibarengi
badan yang berguncang hebat. Ini berarti apa yang salah pada diri
kita. Maka, sudah seharusnya sapaan kita itu tidak hanya mengoreksi,
mengkritik, tapi juga berupa penghargaan, pujian, ucapan-ucapan doa
yang tidak harus ada hubungannya dengan masalah pekerjaan. Artinya
kalau orang lain bertemu kita, haruslah orang lain itu merasa aman.
Kalau mau bicara, sapaan kita juga harus aman, harus bersih dari
membuat orang lain terluka. Pokoknya kalau orang lain datang, orang
itu harus merasa aman. Ini ciri-ciri orang yang pengelolaan kalbunya
sudah bagus. Kata-kata, lirikan mata, sikap diri kita harus kita
atur sedemikian rupa sehingga mampu memberikan kebahagiaan bagi
orang lain, sebab hati tidak bisa disentuh kecuali oleh hati lagi.
Maka, berusahalah agar keluarga kita, orang-orang di sekeling kita
merasa aman dan senang ketika dekat (berinteraksi) dengan kita.
Jangan sampai ketika dekat kita, mereka merasa ketakutan, tidak aman,
hingga akhirnya keluarga kita mencari rasa aman dengan orang-orang
di luar kita, yang belum tentu berperilaku baik. Para guru jangan
sampai membuat panik para muridnya. Ketika lonceng tanda masuk
berdentang, haruslah murid merasa bahagia. Jangan sampai sebaliknya,
ketika bapak/ibu guru masuk semua menjadi panik.
Sudah seharusnya menjadi cita-cita jauh di lubuk hati kita yang
terdalam untuk menekatkan diri menjadi seorang pribadi bersih hati
yang selalu dicintai dan dinanti kehadirannya. Karena sungguh akan
sangat berbahagia orang-orang yang sikapnya, tingkah lakunya,
membuat orang di sekitarnya merasa aman. Karena perilaku kita adalah
juga cerminan kondisi kalbu kita. Kalbu yang bening, maka tingkah
lakunya akan bening menyenangkan pula. Hal ini tiada lain buah dari
pengelolaan kalbu yang benar, sungguh-sungguh dan istiqomah insya
Allah. Wallahu A'lam.
|