|
Pelita
Widi Yarmanto
(Gatra)
PEMIMPIN
perampok itu, Tekuk Penjalin, tak berkutik di tanah. Nyawanya di
ujung tanduk, setelah dia kalah duel. Sekali lawan menggebrak pasti
maut yang menjemputnya. Maka, ketimbang mati sia-sia, Tekuk meludahi
wajah pemuda yang mau membunuhnya. Keruan saja, pemuda itu, Gafur,
merah padam mukanya karena marah.
Namun, saat itu pula, niat Gafur membunuh urung. Dia tak ingin
tangannya berlumur dendam pribadi. "Mengapa aku tak jadi kau
bunuh," tanya Tekuk. Jawab Gafur: "Karena kau tadi telah
membuatku marah. Dan aku tidak boleh menghukum seseorang dalam
keadaan marah. Itu termasuk dosa."
Sebuah jawaban yang sulit dimengerti. Manusia macam apa ini? Musuh
sudah tidak berkutik, ditambah menghina dengan meludahi muka, kok
malah diampuni. Alasan Gafur, jihad fisabilillah yang dilakukannya
telah ternoda: membunuh atas dasar nafsu pribadi!
"Hatiku marah, aku tersinggung. Dan, yang marah itu pribadiku.
Aku tidak boleh mencampuradukkan kepentingan pribadi dengan niat
berjuang di jalan Allah," kata Gafur, seorang murid Kakek
Bantal dari Gresik, Jawa Timur. Bantal tak lain adalah Syekh Maulana
Malik Ibrahim, seorang wali yang lembut, welas asih, dan berilmu
tinggi. Malik Ibrahim meninggal tahun 1419.
Kemarahan Gafur memang melenceng dari jalan Allah. Dia ngeri
menanggung dosa besar. "Bukan atas dasar perang di jalan Allah,
sesuai dengan ajaran agamaku," kata Gafur. Tekuk tertegun.
Matanya menatap, tapi hatinya kosong. Betapa luhur ajaran itu.
"Apa nama agama itu?" tanya Tekuk dengan nada melunak.
"Islam," jawab Gafur.
Pria berangasan itu kontan berdiri. Lalu, dia berteriak menyuruh
anak buahnya agar menghentikan bertarung dengan penduduk. Seketika
itu pula dia bertobat, dan tak ingin melumuri tangannya dengan dosa.
Dia berhenti dari dunia kejahatan. ''Hari ini aku masuk Islam, dan
menjadi pengikut Gafur Satria Mega Pethak,'' kata Tekuk.
Seruan ke jalan yang benar itu diikuti sebagian anak buah Tekuk,
tapi sebagian lain memilih tetap menjadi perampok. Begitulah yang
tertuang dalam kisah "Wali Sanga". Jalan menuju kesadaran
Illahi oleh manusia memang beragam. Mungkin, hati Tekuk mulai
disinari ''pelita'' berkat pertemuannya dengan Gafur.
Mengubur nafsu amarah atau ingin membalas dendam memang membutuhkan
perjuangan. Selama ini, di Poso, Ambon, Aceh, atau di tempat lain,
nafsu membunuh dan mengumbar dendam tak terelakkan. Apalagi kala
emosi sudah di ubun-ubun, punya kesempatan, serta ada yang
memprovokasi. Yang berhati lembut bisa berubah sangar, yang pengasih
pun bisa beralih jadi sadistis.
Manusia memang mudah dibentuk, sesuai dengan apa yang hendak dicapai.
Agar tercipta kebencian, misalnya, memori masa lalu dibangkitkan
kembali. Digali perilaku negatifnya. Kesalahan si Fulan, kelicikan
si Badu, kebrengsekan si Mamat, kembali diungkit agar bisa menuntut
balas "dosa-dosa" masa lalu mereka.
Persis suami-istri sedang bertengkar. Di depan mata keduanya hanya
terlihat sederet daftar dosa dari sudut pandang masing-masing. Yang
satu berteriak: ''Kamu galak, main bentak! Tak lagi sayang keluarga!''
Yang lain tak kalah sewot: ''Kamu sok ngatur! Cemburu buta!''
Gemuruh emosi menggelegak di dada masing-masing.
Lantangnya kemarahan itu senada dengan suara orang-orang yang
mengaku penegak demokrasi. "Perjuangan ini demi agama, demi
umat, dan demi kemanusiaan!" Padahal, faktanya, aksi mereka tak
lebih dari memenuhi kebutuhan perut sendiri. Atau, berteriak
mengumpat dan menghujat hanya untuk mengincar kursi.
Yang punya jabatan pun sama saja. Selagi masih punya power, segala
"permainan" ada pada genggamannya. Tak aneh jika mulut
mengutuk korupsi, tapi tangannya menyabet kanan kiri. Dan hatinya
berbunga-bunga karena akan dapat "rezeki pukulan besar".
Suara hati kecil ditindasnya: "Penguasa dulu juga begitu."
Jika hati sudah jadi sarang setan, maka semuanya terasa halal.
Begitulah. Manusia memang gudangnya khilaf dan angkuh. Sok jago, sok
ngatur, sok pintar, sok kuasa, sok hebat, sok pahlawan, sok santun,
sok kaya, dan sederet sok yang bisa dijejer sendiri
sepanjang-panjangnya. Makin kita tidak menyadari sebagai hamba
Allah, daftar itu makin mbelerot. Mata kita sempurna, tapi
penglihatan kita tertutup.
Jika begitu kondisinya, agaknya, apa yang diungkapkan Al Ghazali
dalam buku Ihya' Ulumuddin, bahwa manusia itu "tidur",
benar adanya. Jika mati, di situlah baru dia terjaga. Persoalannya,
mampukah kita membuat selalu "terjaga"?
Kunci utama itu ada di hati, dalam iman seseorang. Iman di hati
manusia diibaratkan cahaya lampu. Redupkah sorotnya, atau mampukah
menerangi sekitar. Iman para wali, misalnya, diumpamakan cahaya
bulan, sedangkan iman para nabi diibaratkan cahaya matahari, yang
bisa memberi pencerahan pada seluruh umat di dunia.
Lalu, sekuat apakah sinar iman kita? Masih dalam bentuk yang
menyerupai cahaya ublik, teplok, obor, neon, ataukah sokle? Yang
pasti, iman Tekuk Penjalin mulai tersinari, walau, mungkin, awalnya
mirip pelita minyak jarak.
|