|
Festival
Om Do'
Oleh : Emha Ainun Nadjib
Mengambil hikmah dari
falsafah Rukun Islam, kita bisa mengurai karakter manusiaa kedalam
lima tipologi.
Pertama, 'tipe syahadat'. Yakni orang yang titik berat karakternya
terletak pada kemampuan berbicara. Wajahnya diwakili oleh
pernyataannya. Mungkin seluruh dirinya adalah pernyataan-pernyataan
itu sendiri. Pada konotasi yang positif, manusia syahadat adalah
seorang yang punya keteguhan atas pendapat dan keyakinannya,
sehingga menjadi landasan yang kokoh bagi perilakunya.
Tapi, pada konotasi negatifnya, manusia syahadat adalah Om Do' alias
omong doang. Atau NATO, no action talk only. Dia itu bicara,
bicara dan bicara doang, belum tentu dia mengerjakannya. Dia itu
bersyahadat doang, belum tentu mewujudkannya dalam shalat dan zakat.
Dalam kebudayaan modern, mereka ini semacam manusia peragawan. Dia
sekedar memperagakan, entah pakaian, entah iklan motor, entah busana
muslimah, entah ayat, entah ekspresi nilai-nilai apapun. Batasnya
hanya pada peragaan. Tidak usah kita tunggu pelaksanaan dan
pewujudannya. Dia efektif jari juru kampanye, bintang iklan, tukang
pidato dan jual jamu.
Kedua, 'tipe shalat'. Orangnya rajin berupacara. Absen di kantor tak
pernah lowong. Pegawai yang tertib. Sangat diperlukan oleh birokrasi,
organisasi, perusahaan, negara dan partai politik. Tenaga sejarah
yang tidak boleh tidak ada. Tetapi, jangan mengharap kedalaman dan
pendalaman darinya. Pekerja yang baik, tapi bukan kreator, bukan
penghayat dan internalisator.
Ketiga, 'tipe puasa'. Resminya orang yang suka melakukan riyadhah
atau menahan hawa nafsunya terhadap hal-hal yang disenanginya. Akrab
dan sanggup menemukan kegembiraan dalam berpuasa. Bisa bahagia
dengan berpuasa. Bisa bahagia, meskipun tidak memiliki harta. Bisa
menemukan kenikmatan hidup, meskipun tidak berkuasa. Tidak berat
untuk tidak korupsi. Tidak susah untuk tidak mencari kekuasaan atau
mempertahankannya.
Susahnya orang tipe puasa ini, sebagaimana hakikat puasa itu sendiri,
adalah manusia sunyi. Ibadah puasa itu sangat privat. Allah meminta
puasa manusia untuk diri-Nya sendiri. Berbeda dengan pahala ibadah
lain yang berlaku untuk manusia pelakunya sendiri. Puasa itu
marjinal. Kesepian. Formula kenikmatan hidupnya tidak dipahami oleh
kebanyakan orang.
Bahkan konsep puasa itu sendiri seakan-akan anti-budaya. Wong
hidup ini nikmat kok malah puasa. Bukankah semua aktivitas
perdagangan, persaingan politik, perebutan kekuasaan dlsb, itu
tujuannya adalah untuk 'berbuka puasa'? Lha kok ini ada orang
malah puasa melulu.
Maka, orang tipe puasa tidak populer. Susah mencarinya di peta
kekuasaan dan konglomerasi. Jelasnya, susah mencari pemimpin yang
berpuasa, yang gampang menemukannya adalah yang berbuka: makan terus,
ambil ini itu, bepergian ke sana kemari.
Keempat, 'tipe zakat'. Arti bakunya yakni orang yang suka beramal (shadaqah)
kepada fakir miskin dan sesama. Ini manusia aneh bagi habitat umum. Lha
yang sini setengah mati mencari harta dan menumpuk-numpuknya kok
yang situ malah membuang-buangnya. Ini juga semacam anti-ekonomi.
Tapi di sinilah letak kualtias manusia. Setiap masyarakat
membutuhkan etos saling memberi, bukan tradisi saling meminta,
saling menuntut, saling menagih, saling tidak terima, saling tidak
rela, sebagaimana yang sekarang sedang memproses kehancuran bangsa
kita.
Kelima, 'tipe haji'. Yakni orang yang sudah sampai ke makna ihram.
Universalitas diri. Deprimordialisasi. Sudah di ujung tauhid. 'Menghilangkan'
identitas dirinya dalam masyarakat, karena dirinya sudah lebur dalam
kehendak-Nya: sehingga amal perbuatan sehari-harinya selalu
bermanfaat bagi lingkungannya. Ia manusia demokrat sejati, karena
egonya sudah ia nomerduakan. Ia pemimpin yang luas daya tampungnya.
Tapi, sesudah kita sepuluh kali naik haji, mungkin saja secara
kualitatif ternyata kita belum haji. Jumlah haji juga tidak ada
kaitannya dengan tingkat kebaikan sosial di masyarakatnya. Semakin
banyak haji, tidak semakin sehat keadaan masyarakat dan negara.
Ternyata selama menjalankan proses haji, kita memang sudah
meniadakan identitas sosial kita, sudah melepaskan premis-premis
sejarah, sudah menanggalkan simbol-simbol budaya, dan kita
masing-masing menjadi Om Do'....
|