|
Hidup Bertetangga
Oleh : KH Abdullah
Gymnastiar
"Sembahlah
Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan
berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak, karib kerabat, anak-anak
yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang
jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya
Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan
membangga-banggakan diri." (QS An Nisaa' 4: 36)
Salah satu yang harus kita nikmati dalam hidup adalah bagaimana
rukun dengan tetangga kita. Kita tidak bisa memilih tetangga yang
selalu sesuai dengan keinginan kita.
Tetapi kita harus bisa menyikapi setiap tetangga dengan sikap
terbaik kita. Kelebihannya kita sikapi dengan sikap terbaik,
sehingga menjadi ladang yang kita syukuri. Kita bisa mendapatkan
manfaat dari tetangga yang banyak kebaikan. Demikian pula kekurangan
tetangga pun harus menjadi ladang amal bagi kita. Karena, dia juga
adalah saudara kita, yang harus kita bantu menjadi lebih baik dalam
hidupnya.
Kita pun harus senang untuk melupakan, jangan merasa berjasa, merasa
lebih. Karena, kalau kita banyak berharap dari tetangga kita, akan
banyak terluka hati kita. Karena ingin dihargai, ingin dihormati,
ingin dipuji, maka akan makin tertekan diri kita. Pendek kata
merdekakan diri ini dengan banyak berbuat, bukan banyak berharap
dari tetangga-tetangga kita.
Kita tidak akan pernah rugi dengan situasi apapun jika kita selalu
bersikap benar di jalan yang Allah sukai. Tapi kita akan rugi kalau
kita menjadi zalim kepada orang lain. Kalau kita berbuat kebaikan,
maka kebaikan itu akan kembali kepada kita.
Tetapi, kalau kita berbuat keburukan, maka keburukan itu pula yang
akan kembali kepada kita. Mudah-mudahan dengan latihan hidup rukun
dalam bertetangga, lingkungan akan bisa kita nikmati di dunia ini
dan bisa menjadi amal untuk kelak di akhirat nanti.
Alangkah beruntungnya jika kita hidup dan bertetangga dengan
orang-orang yang mulia. Walaupun rumah sempit, kalau tetangganya
baik, akan terasa lapang. Dan, alangkah ruginya, jika rumah kita
dikelilingi oleh tetangga-tetangga yang busuk hati. Walaupun rumah
lapang, niscaya akan terasa sempit.
Memang sungguh nikmat jika kita memiliki tetangga-tetangga yang baik
ahlak, ramah, dan penuh perhatian. Kendati demikian, kita tidak
pernah bisa memaksa orang lain untuk selalu bersikap baik, kecuali
kita paksa diri kita sendiri untuk bersikap baik terhadap siapapun.
Musik yang bagus berawal dari suara dan tangga nada yang
berbeda-beda, namun kalau dipadukan akan menjadi indah. Artinya,
kita tidak bisa mengharapkan tetangga-tetangga kita persis sama
dengan kita. Bisa jadi perbedaan keadaan tetangga malah memperindah
ahlak kita. Ada tetangga yang melimpah rizkinya, ada yang kurang
rizkinya, ada yang berkedudukan tinggi, ada yang tidak berkedudukan,
ada yang rumahnya di gang sempit (berdempet-dempet), ada yang
bertipe menengah, perumnas, atau BTN, bahkan ada yang besar luas
sampai tidak tahu tetangga kanan kiri. Ini adalah sebuah simponi
yang kalau disikapi dengan niat yang indah, niscaya akan menjadi
sesuatu yang menyenangkan.
Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW bersabda, "Hak tetangga
ialah, bila dia sakit, kamu kunjungi. Bila wafat, kamu mengantarkan
jenazahnya. Bila dia membutuhkan uang, maka kamu pinjami. Dan bila
mengalami kesukaran/kemiskinan, maka jangan dibeberkan, aib-aibnya
kamu tutup-tutupi dan rahasiakan. Bila dia memperoleh kebaikan, maka
kita turut bersuka cita dan mengucapkan selamat kepadanya. Dan bila
menghadapi musibah, kamu datang untuk menyampaikan rasa duka. Jangan
sengaja meninggikan bangunan rumahmu melebihi bangunan rumahnya,
lalu menutup jalan udaranya (kelancaran angin baginya). Dan
janganlah kamu mengganggunya dengan bau masakan, kecuali kamu
menciduknya dan memberikan kepadanya."
Inilah keadaan rumah Rasul, ketika beliau memasak maka tetangga yang
mencium bau masakan tersebut ikut mendapat makanan. Namun, yang
paling penting, kita melihat bahwa kebahagiaan kita itu bukan soal
kita mendapat sesuatu atau tidak dari tetangga. Yang harus kita
latih, kenikmatan bertetangga bukan mengharapkan sesuatu dari
tetangga, tapi berupaya agar kita bisa berbuat yang terbaik untuk
tetangga.
Kita akan tertekan ketika kita berharap banyak. Sebab, yang namanya
rizki tidak selalu bermakna apa yang telah kita dapatkan, melainkan
apa yang bisa kita lakukan. Jangan sampai gorden rumah kita copot
gara-gara terlalu sering melihat tetangga. Makin sering nengokin
tetangga, bisa jadi akan semakin menderita, sebab kedengkian kita
kepada tetangga tidak akan mempengaruhi rizki tetangga, sebab yang
membagikan rizki adalah Allah.
Sialnya jika kita dengki sama tetangga namun tetangga tambah nikmat.
Tentu kita tambah menderita. Tetangga makin pulas, kita nggak
bisa tidur. Mau keluar rumah susah, mau masuk juga susah. Bagaimana
tidak, sosok tetangga yang kita dengkikan itu terus muncul di depan
kita.
Maka di sini kita harus mampu mengemas kehidupan bertetangga menjadi
ladang amal kita. Kalau kita punya tetangga kaya, sukses, jangan iri
hati dan jangan suka mengintip. Apabila tetangga memperoleh
kesuksesan atau keluasan rizki, belajarlah senang dengan kesuksesan
orang. "Alhamdulillah, dia ternyata sekarang dititipi
rizki. Mudah-mudahan barokah, mudah-mudahan bisa banyak manfaat."
Kalau ada tetangga kita yang kekurangan, harus menjadi ladang amal
bagi kita. Tidak termasuk orang yang beriman kalau kita kenyang dan
pada saat yang sama tetangga kita lapar. Tidak akan miskin dengan
menyantuni tetangga. Jika beras cukup, sisihkan sebagian untuk
tetangga. Baju bekas anak-anak yang masih layak pakai, kalau belum
sanggup memberikan baju bagus, berikan pada anak tetangga. Panci
kita sudah agak penyok-penyok, berikan pada tetangga yang
membutuhkan, kalau kita belum sanggup memberinya panci yang bagus.
Tentu saja, jika mampu, berikanlah barang-barang yang berkualitas
terbaik.
Di sinilah sebenarnya hasil ibadah kita akan terlihat, karena alat
ukur ibadah kita bukan ketika sedang shalat saja, tapi bagaimana
sesudahnya. Misalnya, shalat itu 5 x 10 menit atau 50 menit,
dibulatkan menjadi sekitar 1 jam sehari, sedangkan 1 hari 24 jam.
Bagaimana mungkin yang 1 jam baik, sedang yang 23 jam jelek semuanya?
Tidak akan rugi berbuat baik pada tetangga. Makin tetangga merasa
nikmat dengan kita, dengan sendirinya mereka akan ikut membela kita.
Sehebat apapun kita, tetap butuh tetangga. Misalnya, kita punya
saudara dokter, tapi saat anak sakit yang duluan menolong pasti
tetangga. Punya saudara anggota pemadam kebakaran, jika kompor di
rumah meletus, yang lebih dulu membantu memadamkan pasti tetangga.
Punya saudara jendral atau polisi, datang maling ke rumah, lantas
kita teriak, yang duluan ngejar juga tetangga.
Maka kalau punya tetangga, terus perhatikan. Setiap kebahagiaannya,
kita ikut bahagia. Anaknya lulus, alhamdulillah. Anaknya
dapat kerjaan, alhamdulillah. Anak tetangga dapat jodoh, alhamdulillah.
Insya Allah, kita akan bahagia terus. Hidup penuh kesyukuran kepada
Allah Yang Maha Pemurah.
Makin tetangga sayang kepada kita, makin berbahagia hidup kita.
Karena itu, bersilaturahmi dengan tetangga itu jangan cuma sisa
waktu. Maksudnya, luangkan waktu, tenaga, fikiran untuk terus
bersilaturahmi memperhatikan tetangga. Kalau mereka ingin maju,
majulah bersama-sama. Karena, kalau kita maju sendirian dan tetangga
tidak ikut maju, bisa jadi muncul kecemburuan sosial. Hal ini tentu
akan merusak iklim pergaulan sosial di sekitarnya.
Jika kita jadi orang kaya namun tinggal di lingkungan perumahan
sederhana, kemudian bikin rumah lima lantai sendiri tapi di
sekelilingnya gubuk, tentu bisa menimbulkan sakit hati. Usahakan
kalau kita punya rumah jangan sampai terlalu menyolok, membuat orang
lain dengki. Seperti kata Rasul, jangan sampai menutupi cahaya,
kecuali kalau mereka ridha. Kalau tidak, berikan kompensasi yang
memadai. Pokoknya jangan berbuat yang membuat tetanga tidak suka
kepada kita.
Pertanyaannya, bagaimana kalau tetangga kita yang kurang baik
ahlaknya? Ini juga bisa jadi ladang amal. Kalau dalam satu RT ada
tetangga yang ahlaknya kurang bagus, kita jangan meladeni dengan hal
yang sama, sebab nanti di tempat itu jadi ada dua yang sama jeleknya:
dia dan kita.
Tetangga yang kurang baik, yang kurang bijaksana, harus menjadi
ladang amal bagi kita. Kita berkewajiban memberi contoh bagaimana
sikap bertetangga yang baik. Sikap emosional, sikap membalas dendam,
hanya akan membuat kehidupan bertetangga bagai api disiram bensin.
Bila kita sudah berusaha berbuat baik terhadap tetangga kita, namun
ternyata tetangga kita berbuat sebaliknya, misalnya dia kurang
mengetahui etika bertetangga, kita perlu pahami bahwa orang berbuat
salah, berbuat jelek, belum tentu orang itu ingin berbuat zhalim.
Ada orang berbuat salah karena dia merasa hal itu adalah benar
menurut standar dia. Dia belum tahu, maka tugas kita adalah memberi
tahu. Ada yang sudah tahu, tapi masih susah menghilangkan
kesenangannya, maka kita bantu agar secara pelan tapi pasti dia bisa
mengganti kesenangannya tanpa merugikan orang lain.
Sebagai pelajaran, hati-hati dalam berbuat. Jangan sampai tetangga
merasa teraniaya. Yang paling penting adalah jangan hadapi tetangga
dengan kebencian, karena kalau kita sudah benci kita akan cenderung
menjatuhkan, menyakiti, membeberkan aib, dan semua ini tidak menjadi
solusi.
Tetangga memang orang terdekat dengan kita. Menurut Imam Syafi'i,
mereka adalah empat puluh rumah di samping kiri, kanan, depan, dan
belakang. Mau tidak mau, setiap hari kita berjumpa dengan mereka.
Baik hanya sekadar melempar senyum, lambaian tangan, salam, atau
malah ngobrol di antara pagar rumah. Tetangga adalah orang
terdekat dengan kita. Orang tua bilang, mereka adalah 'andalan'
untuk segala suasana.
Rasanya, kita senantiasa harus melakukan instrospeksi terhadap diri
pribadi. Apakah tetangga kita menyukai kehadiran kita atau
jangan-jangan mereka malah terganggu dengan kehadiran kita. Maka
sudah saatnya kita menebarkan salam, senyum, pada orang yang berada
di sekitar tempat tinggal kita. Menjaga perasaan mereka, mengulurkan
bantuan sekuat tenaga sebagaimana sabda Rasulullah SAW, "Barang
siapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah ia memuliakan
tetangganya." (HR Muslim).
|