Beras Pun Menjadi Barang Mewah
Sumber: Republika

Kakak beradik Sudri (10 tahun) dan Sinta (8 tahun), warga Tapen, Desa Cimarga, Kabupaten Lebak, Banten, terpaksa berjualan abu gosok untuk bisa membeli beras. ''Kami sudah empat hari ini belum makan nasi karena kakek tak mampu membeli beras, apalagi kakek kami usianya sudah lanjut,'' kata Sudri.

Setelah kedua orang tuanya meninggal dua tahun lalu, Sudri dan Sinta tinggal bersama kakek mereka bernama Ruminta (70 tahun). Namun, akhir-akhir ini sang kakek sering sakit, sehingga tak mampu lagi bekerja di sawah maupun ladang. Penghasilan sang kakek pun terhenti. Tak ada lagi yang bisa mereka gunakan untuk membeli beras yang kini harganya mencapai Rp 5.200 per kilogram itu.

Tak ada pilihan buat keduanya selain harus membanting tulang untuk bisa memenuhi kebutuhan pokok: Makan nasi. Dengan abu gosok, keduanya mampu memperoleh pendapatan rata-rata Rp 12 ribu per hari dan bisa dipakai untuk membeli dua liter beras, plus sedikit lauk. Dalam kondisi sulit seperti itu, kenaikan harga beras tentu menjadi tekanan yang sangat memberatkan mereka.

Sudri dan Sinta menjadi cermin yang sangat bening untuk melihat secara langsung dampak yang harus dipikul kelompok masyarakat di lapis bawah akibat kenaikan harga beras yang terjadi akhir-akhir ini. Tak hanya harus menahan lapar, mereka pun kehilangan kesempatan untuk bersekolah karena waktu harus digunakan untuk berjualan abu gosok. Untuk berjualan abu gosok, mereka biasanya berangkat dari rumah sekitar pukul 04.00 WIB dan menempuh perjalanan sekitar 20 kilometer menuju Rangkasbitung, Banten.

Sudri dan Sinta tak sendirian. Di kampung mereka, banyak keluarga yang bernasib serupa. Bahkan dampak kenaikan harga beras ini tak cuma menyusahkan warga lapis bawah di Banten. Di Ternate, Maluku Utara, lonjakan harga beras membuat warga terpaksa mengurangi konsumsi jenis makanan tersebut.

Seorang warga Ternate, Dian, mengaku untuk memenuhi kebutuhan keluarga, ia membutuhkan 3 kg beras setiap hari. Dengan semakin tingginya harga beras saat ini, dia terpaksa mengurangi jatahnya menjadi 2 kg per hari. Jika harus memaksakan membeli 3 kg beras per hari, dia tak akan mampu membeli lauk pauk. ''Harga beras di pasaran Ternate saat ini terus naik. Kami sepertinya tak sanggup lagi membelinya,'' ujar dia.

Rambatan harga beras yang semakin mantap juga menyiksa warga yang tinggal di Desa Suranenggala, Kecamatan Kapetakan, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat. ''Kami terpaksa makan nasi aking karena tak mampu lagi membeli beras,'' kata wanita yang bernama Cadini (40 tahun), warga desa tersebut. Nasi aking adalah nasi daur ulang yang terbuat dari sisa yang kemudian dijemur sampai kering. Setelah itu, ditanak lagi agar kembali menjadi seperti nasi. Dalam kondisi normal, nasi seperti ini biasanya digunakan untuk makanan ternak.

Wanita yang biasanya bekerja sebagai buruh tani itu menuturkan, harga nasi aking hanya Rp 1.500 sampai Rp 2.000 per kg. Sedangkan harga beras, telah mencapai Rp 5.000 per kg. Sejak sawah milik majikannya mengalami gagal panen akibat kekeringan Agustus 2006 silam, maka praktis tak ada lagi sumber penghasilan yang bisa digunakannya untuk membeli beras.

Menurut Cadini, penghasilan suaminya yang bekerja sebagai tukang becak, paling banyak Rp 10 ribu per hari. Dengan Rp 10 ribu per hari, sangatlah sulit bagi keluarga ini untuk bisa membeli beras setiap hari. Ditambah lagi, selain beras, keluarga ini harus memenuhi kebutuhan pendidikan anak-anaknya. Daripada kelaparan, nasi aking yang dijual pedagang keliling pun menjadi pilihannya. Cadini mengungkapkan bahwa setiap hari keluarganya menghabiskan sekitar 1,5 kg nasi aking.

Selain Cadini, hal serupa juga menimpa Danisa, (50 tahun) warga Desa Kertasura, Kecamatan Kapetakan. ''Saya tahu makanan itu tidak bergizi, terutama untuk anak-anak. Tapi saya tidak punya pilihan lain karena tidak memiliki cukup uang,'' ungkap Danisa, yang mengaku memiliki dua anak yang masih duduk di bangku sekolah menengah pertama.

Ketua RT 03/05 Desa Suranenggala, Tarsa (45), mengungkapkan, dari 90 KK yang ada di RT 03/05, seperempat di antaranya terpaksa makan nasi aking. Menurut Tarsa, kondisi tersebut disebabkan penghasilan warganya yang tak bisa lagi mengimbangi perkembangan harga beras saat ini. Hal ini terutama didorong oleh terjadinya kekeringan yang cukup panjang di tahun ini. Sebagian mereka pun gagal panen.

Selain menjadi potret kemiskinan, beredarnya nasi aking ini juga menjadi petunjuk terpeliharanya kesenjangan ekonomi. Di satu sisi ada kelompok masyarakat kelebihan memasak nasi sehingga tidak semuanya termakan. Nasi sisa itu kemudian dibuat nasi aking. Bersamaan dengan itu, di sisi lain terdapat warga yang tak mampu membeli beras, sehingga terpaksa makan nasi daur ulang tersebut. Ironis bukan?