'Mari Kita Bangun Indonesia yang Bersih dari Korupsi'
Sumber : Republika
JAKARTA -- Bagaimana rasanya memimpin bangsa yang terkenal korup? Inilah pengakuan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, kemarin malam, pada acara bertajuk ''Teriakan Antikorupsi 100 Selebriti, Wartawan, dan Tokoh Masyarakat''. ''Anda semua mungkin bisa membayangkan bagaimana perasaan saya. Sepertinya 21 pasang mata kepala negara melihat saya. Karena, dalam publikasi manapun, kalau membicarakan indeks korupsi, tidak pernah negara kita tidak masuk,'' katanya.
Berdiri di depan ratusan hadirin, dalam acara yang berlangsung di halaman kantor Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (KPTPK), Yudhoyono berkisah pengalamannya saat menghadiri sidang APEC di Santiago, Cile, bulan lalu. Ia merasa ketika itu, saat forum membahas masalah korupsi, semua mata menatap tajam dirinya.
''Semua cas cis cus menceritakan upaya masing-masing dalam memberantas korupsi dan mewujudkan pemerintahan yang bersih. Bisa Anda bayangkan, bagaimana perasaan saya. Nama kita sungguh kurang menyenangkan ketika forum membicarakan masalah korupsi,'' tutur Presiden. Yudhoyono tak ingin situasi itu terulang. Ia bertekad untuk dapat duduk tenang pada pertemuan serupa di Seoul, Korea Selatan, pada November 2005. ''Mudah-mudahan saya bisa duduk lebih enak, tidak seperti duduk di atas bara api,'' katanya.
Ratusan orang mendengar tekad itu, termasuk Ketua KPTPK Taufiqurrahman Ruki, Ketua DPR Agung Laksono, Ketua DPD Ginandjar Kartasasmita, dan Ketua MK Jimly Asshiddiqie. Hadir pula pada acara kemarin, para menteri, pemimpin redaksi media massa, dan artis. Digelar di bawah tenda, acara dimulai tepat pukul 19.00 WIB dengan lagu berjudul ''Reformasi Haru'' yang dinyanyikan Jaduk Ferianto. Setelah itu, artis tiga zaman Titiek Puspa membacakan puisi berjudul ''Bisikan Antikorupsi''. Ia pun menyanyikan lagu perjuangan.
Suasana tampak cair. Sejumlah artis lain mengisi acara dengan membaca puisi dan bernyanyi. Arswendo Atmowiloto, pasangan Sherly Margaretha dan Ray, membacakan dua puisi karya Yudhoyono. Kedua puisi, ''Reformasi tidak Mati'' dan ''Mahligai Kasih'' yang dibuat di Cikeas pada Januari 2004 itu pun menyinggung masalah korupsi.
Lalu, Jimmy Gideon dan Miing membawakan humor yang bertemakan korupsi. Menyusul kemudian Syaharani, Butet, dan Inul Daratista. Usai Pretty Asmara berpantun ''Mencari Jodoh'', Ikang Fauzi menyanyikan lagu yang baru ia ciptakan, ''Preman Berdasi''. Lagu ini ia serahkan kepada KPTPK. ''Mungkin bisa dijadikan jingle dalam upaya pemberantasan korupsi,'' katanya.
Presiden kemudian menorehkan tinta di atas kanvas putih. Kata-kata yang ia tulis adalah, ''Mari Kita Bangun Indonesia yang Bersih. Bersih dari Korupsi.'' Sementara, Agung Laksono mencoretkan pesannya, ''Jangan Ragu Berantas/Sikat Habis Korupsi.''