|
Memberdayakan
Film Untuk Edukasi Anak
Sumber:
Republika
Banyak film anak impor
yang ditayangkan di teve sesungguhnya tidak layak disaksikan oleh
anak-anak.
Tidak selamanya nonton film tak bermanfaat bagi pendidikan. Meskipun
film diciptakan oleh sebuah industri hiburan yang memang
berorientasi pada nilai material (pasar), namun, pada sisi tertentu
banyak hal yang bisa didapat dari kebiasaan menonton film.
Sebagai sebuah media audio visual, film jelas memiliki kelebihan
dibanding media lain. Dengan kelebihannya tadi, film dengan sebuah
cerita yang menarik, gabungan antara ketegangan dan kelucuan di
samping nilai-nilai edukatif yang dirasakan oleh penonton sebagai
bagian dari hiburan itu sendiri.
Buku sebagai teks kovensional memang tak tergantikan terhadap
perkembangan pendidikan dan ilmu pengetahuan. Tapi diperlukan media
lain yang sekiranya dapat menambahkan peran tersebut. Pilihan itu
jatuh kepada media audio visual karena media gambar mempunyai
kemudahan dalam menerangkan sesuatu.
Disadari atau tidak, selama ini di Indonesia sebuah film masih
dianggap sebagai media hiburan saja. Sementara di negara maju film
seolah sudah menjadi bagian dari tradisi kehidupan. Tentu diperlukan
kesadaran tinggi untuk membuat film dengan pendekatan seperti itu.
Bahwa film saat ini bukan lagi hanya sarana hiburan semata yang
mampir di benak penonton dan kemudian hilang begitu mereka keluar
dari gedung bioskop. Jika penonton yang keluar dari gedung bioskop
masih menyisakan ilmu pengetahuan baru dari apa yang ditontonnya,
tidak salah jika nantinya gedung bioskop akan menjadi laboratorium
atau perpustakaan baru bagi masyartakat.
Amat disyukuri dalam beberapa tahun belakangan, sineas tanah air
sudah mulai mencoba membuat film yang sarat bermuatan edukasi.
Walaupun belum mencukupi dalam segi kuantitas, namun, apa yang
dirintis para insan film tersebut patut diacungi jempol. Setidaknya
dunia perfilman Indonesia mampu bersikap kritis terhadap
perkembangan yang terjadi, khususnya pada pendidikan anak-anak.
Beberapa film bisa menjadi catatan khusus. Sebut misalnya //Anak
Seribu Pulau// garapan Garin Nugroho. Seting lokal dalam film itu
mampu membawa penonton pada kenyataan lain tentang beragam kehidupan
dunia anak-anak di seantero nusantara. Atau suksesnya film //Petualangan
Sherina// karya Riri Reza. Kendati tidak dibuat spesifik, Sherina
dinilai berhasil membawa anak-anak yang menonton film tersebut
berjalan-jalan ke kebun teh atau menyaksikan bintang di planetarium
Boscha.
Selain itu, sejumlah sineas juga tengah merancang program-program
khusus untuk sekolah. Kiat untuk menarik empati orang tua ini dapat
dilakukan jika setiap film punya kandungan nilai ilmu pengetahuan.
Yang terjadi kemudian adalah, produksi film dengan melibatkan banyak
pihak, seperti ahli pendidikan dan psikologi untuk menilai apakah
film yang diproduksi bertentangan dengan nilai keluarga atau tidak.
Pengenalan film sebagai media edukasi anak sudah harus dimulai sejak
dini. Sebab diyakini, kesan pertama yang diterima oleh anak, akan
lama tertanam di benak dan sulit dilupakan. Tinggal kemudian para
pembuat film menyajikan tontonan yang bermutu serta bisa akrab
diterima sang anak. Ini jelas bukan pekerjaan mudah.
Lantas, jenis film yang bagaimana yang dapat langsung diterima anak
usia 6-10 tahun? Mohammad Boy Rivai dari Bening Kampung Animasi
menyebutkan film animasi adalah salah satu media penyampai pesan
yang efektif untuk anak. Dengan gambar yang menarik dan lucu,
perhatian anak akan langsung tertuju ke sana. Sementara mengenai
tema, Boy menyatakan cerita-cerita legenda dari berbagai daerah di
tanah air merupakan alternatifnya.
Untuk itulah, sejak beberapa bulan lalu, Bening Kampung Animasi
sudah mulai mencoba memproduksi film animasi bertemakan legenda
daerah.''Kami sudah berhasil membuat film animasi berjudul //Bawang
Merah Bawang Putih, Malin Kundang, Lutung Kasarung// dan lainnya,''
ujarnya pada diskusi //Film Sebagai Media Bermain Anak// di Jakarta
akhir pekan lalu.
Saat ini sangat banyak film animasi impor yang tayang di televisi.
Akan tetapi jika diperhatikan, film-film impor itu kurang bermuatan
edukatif bagi anak selain hanya hiburan saja. Satu contohnya adalah
film //Sinchan//. Meskipun dikemas secara animasi, film ini tidak
cocok ditonton oleh anak-anak karena ceritanya yang kadang //kebablasan//.''Film-film
semacam itu dibuat amat instan, lain dengan cerita legenda yang
mengajarkan untuk menolong orang lain tanpa pamrih,'' imbuh Boy.
Pada kesempatan sama, artis Iga Mawarni mengatakan para orangtua
perlu lebih teliti terhadap tontonan bagi anak-anaknya. Sebab pada
perkembangannya, penayangan film anak di televisi pun terkadang
tidak tepat sasaran. Misalnya, saat diputar film animasi anak, di
sela tayangan iklan muncul adegan //re-run// sinetron dewasa. Hal
ini jelas akan berpengaruh pada anak-anak.
Menyangkut film yang tepat untuk anak, Iga menyatakan sebaiknya film
tersebut dikemas secara sederhana namun sarat muatan edukasi dan
filosofi. Dia sependapat bahwa cerita-cerita legenda dari daerah
merupakan tema yang paling komunikatif sekaligus mendidik.
Dalam memperingati Hari Anak Nasional bulan Juli mendatang dan Hari
Film Nasional, Komunitas Mata Air bekerjasama dengan LIPI, Bening
Kampung Animasi dan Dinas Pendidikan Dasar DKI menyelenggarakan
Kampanye Melek Media 2002 dengan tema //Anak dan Media : Wujudkan
Masyarakat Melek Media//. Acara ini digelar sepanjang bulan Maret
hingga Oktober 2002 berisi kegiatan seminar, berbagai lomba untuk
anak usia SD dan //roadshow// Legenda Nusantara ke 10 sekolah dasar
di DKI. yus
|