|
Merdeka, Tapi Tetap Terjajah
Seorang
siswa kelas II sebuah madrasah di Depok, Jawa Barat, melompat tangkas ke
dalam sebuah minibus, lalu menengok ke arah teman-temannya yang masih
tertinggal di depan sekolah. Ia tertawa, dan mengacungkan jari tengahnya.
Seorang ibu yang menumpang angkutan yang sama berseru terkejut,
"Eh, kasar sekali kamu! Dari mana kamu belajar itu?" Si ibu
itu lalu menjelaskan bahwa gerakan yang dilakukannya adalah sebuah
makian paling kasar dan jorok, dan kalau ia lakukan itu di sebuah
masyarakat Barat ia mungkin akan ditempelengi orang. Si bocah hanya diam
kebingungansebab, ia hanya menirukan sesuatu yang ia lihat banyak
dilakukan tokoh-tokoh film barat di televisi.
Sebuah
survei yang dilakukan Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia (YKAI) tahun
lalu pada 306 siswa kelas empat sampai kelas enam SD di Jakarta
menunjukkan betapa waktu yang dihabiskan anak-anak kita di depan TV
semakin meningkat dari tahun ke tahun. Pada tahun 1997 rata-rata
anak-anak menonton TV selama sekitar 22-26 jam per minggu, atau
tiga-empat jam sehari. Pada tahun 2001, anak-anak kita menghabiskan
rata-rata 35 jam seminggu, atau lima hingga enam jam sehari, di depan
layar kaca. Separuh dari semua anak yang disurvei menyadari bahwa
terlalu lama di depan TV menyebabkan mereka tidak bisa belajar dan bodoh,
tapi mereka menyatakan tidak dapat lepas dari pengaruh TV. Waktu belajar
mereka ternyata kalah dibanding lamanya waktu menonton TV, demikian
menurut salah seorang peneliti YKAI. Peningkatan waktu menonton TV
tersebut tampaknya signifikan kalau melihat hasil survei yang dilakukan
Marketing Research Indonesia. Survei ini dilakukan terhadap 1.400 anak
usia tujuh sampai 14 tahun, dan 1.400 ibu rumah tangga yang memiliki
anak usia 0-14 tahun, di enam kota yaitu Jakarta, Bandung, Semarang,
Surabaya, Medan, dan Makassar. Salah satu hasilnya menyebutkan,
anak-anak diberi kebebasan penuh oleh orangtua untuk menonton TV.
Orangtua juga tidak memberi batasan kepada anak-anaknya tentang waktu
menonton maupun acara apa saja yang boleh ditonton. Bukan hanya jumlah
jam yang dihabiskan anak-anak di depan TV saja yang bertambah, tetapi
juga terjadi pergeseran tontonan yang paling banyak diminati anak-anak.
Penelitian
YKAI tahun 1997 menyebutkan 65,6 persen anak-anak memilih acara film
animasi sebagai tontonan favoritnya. Pada penelitian terakhir, film
animasi masih menjadi tontonan favorit anak-anak (Doraemon dan Crayon
Sin Chan), namun tempat berikutnya adalah sinetron, antara lain "Wah...
Cantiknya !!!" Tontonan lain yang masuk 10 acara di layar kaca yang
dipilih anak-anak pada penelitian YKAI terakhir juga menunjukkan,
sebagian anak-anak terbiasa dengan kekerasan. Ini bisa dilihat dari
kegemaran mereka menonton tayangan gulat, WWF Int'l Smackdown di RCTI,
Jumat, 22.00. Acara ini menduduki peringkat keempat sebagai tayangan
yang paling disukai. Rangkaian data di atas mengenai pola anak-anak
Indonesia menikmati tayangan televisi , merupakan salah satu bukti
rusaknya peradaban, yang diakibatkan mental terjajah kaum wanita,
keluarga serta masyarakat pada umumnya. Sementara deretan bukti berikut
ini akan semakin melengkapi kenyataan, betapa rusaknya peradaban
masyarakat kita.
Jumud,
Tak Mau Berubah Kelompok
bermental terjajah yang mengimplikasikan rasa rendah dirinya dalam
bentuk terlalu menutup diri, akan mengembangkan kepribadian yang pasif,
menutup diri, berpandangan jumud, minder dan menolak datangnya pembaruan.
Dengan dicari-carikan dalil dari Al Qur'an dan sunnah, mereka
beranggapan bahwa wanita seperti ini telah memiliki jaminan surga.
Akibatnya, para ibu yang pengetahuannya sangat terbatas dan tak mampu
bersaing untuk terjun langsung berkarya di tengah umat pun menghibur
diri dengan menenggelamkan diri dalam urusan domestik kerumahtanggaan di
rumahnya. Dengan keyakinan bahwa pengabdian total di dalam rumah saja
sudah bisa membawanya ke surga, maka para ibu ini pun tak lagi memiliki
keinginan untuk melakukan hal yang lain.Tak ada keinginan untuk membaca,
tukar pendapat atau mendengar berita informasi dari televisi serta
radio. Jika ada kesempatan justru dipergunakan untuk menikmati hiburan
sinetron dan lagu-lagu yang hanya berfungsi menyenangkan hati sesaat
saja. Mereka ini merasa tak perlu serius meningkatkan pengetahuannya.
Karakter wanita yang taat dan qanaah diterjemahkan sebagai larangan
keras membantah kata suami, penanaman kepasrahan diri, nrimo, serta
pengorbanan hak seksual dan reproduksi. Akhirnya, paham 'nrimo tanpa mau
berubah' inipun terbawa ke dalam kebijakan mereka dalam menghadapi
segala sesuatu. Kaum wanita dan keluarganya di daerah kota kecil dan
pedesaan, masih banyak yang menjadi korban kerusakan peradaban jenis ini.
Terlalu
Terbuka, Feminis dan Pergaulan Bebas Kelompok
berikutnya adalah kelompok mereka yang mengimplikasikan rasa rendah
dirinya dalam bentuk terlalu terbuka. Kelompok ini beranggapan bahwa
citra diri wanita dan keluarga baru akan terangkat jika berkiblat kepada
pola kehidupan wanita dan keluarga di Barat. Akibat dari adanya perasaan
bahwa dirinya bodoh, terjajah dan terbelakang, mereka berpantang untuk
mempertahankan budaya dan pola hidupnya selama ini. Akibatnya, perlahan
namun pasti, mereka melakukan upaya merubah sistim dan pola kehidupan
masyarakat agar meneladani kehidupan para penjajah dan penguasa dunia.
Dalam hal menentukan posisi wanita, misalnya. Keinginan mencontoh
persamaan derajat, hak dan kewajiban antara pria dengan wanita,
melahirkan feminisme dan tumbuhnya tren kehidupan melajang. Pola
pergaulan bebas masyarakat 'Barat' dianggap sebuah kemajuan. Akibatnya,
wanita bebas pergi kemana saja dengan aurat terbuka sebagian maupun
seluruhnya. Pornografi dan pornoaksi dianggap hiburan. Tak heran jika
kemudian angka perceraian kian meningkat, perkosaan kian merambah ke
usia yang kian muda, dan pasangan hidup kumpul kebo pun menjadi biasa.
Institusi keluarga mulai diragukan manfaatnya. Karena
profil negara 'Barat' identik dengan bar dan alkohol, begitu pulalah
mental terjajah masyarakat kita dengan cepat menirunya. Remaja kita akan
merasa minder jika belum pernah minum minuman keras. Apalagi sekedar
merokok ! Narkoba bahkan sudah menjadi kebanggaan. Para artis dari 'Barat'
yang terkenal, bisa dijadikan dewa oleh remaja kita. Jika mereka datang
untuk melakukan show ke Indonesia, para remaja berebut menontonnya,
melambaikan tangan dan memandangnya dari dekat. Bahkan nyawa pun
dijadikan taruhannya, asal bisa masuk ke dalam gedung pertunjukan yang
sudah penuh sesak penonton. Dandanan sang artis, mulai dari ujung rambut
hingga ke ujung kaki, ditiru dan dibangga-banggakan. Semua ini adalah
akibat mental terjajah memandang kepada kebesaran para penjajahnya.
Barat
versus Timur = Penjajahan Penggunaan istilah 'barat' dan 'timur'
awalnya dipergunakan untuk membedakan antara paham Sosialis-Komunis yang
diwakili Rusia dan China serta Liberalis-Kapitalis yang diwakili Amerika
dan Eropa pada umumnya. Kedua negara ini sempat menjadi super power
dunia selama beberapa dekade. Namun perlahan tapi pasti, istilah ini
semakin diperlebar maknanya. Istilah Barat untuk menyebut bangsa-bangsa
yang maju, kaya dan memiliki kekuasaan . Sementara 'timur' dijadikan
julukan bagi negara berkembang dan terbelakang, Tertutup dan pasif,
sehingga mengakibatkan citra negatif bagi julukan 'timur' tersebut.
Pembagian ini semakin memperparah mental terjajah yang sudah ada,
semakin memperburuk citra diri sebagai bangsa 'timur'. Akibatnya dapat
terlihat pada pola perilaku bangsa Indonesia pada umumnya, manakala
bertemu dengan turis dari negara asing. Dari anak-anak hingga dewasa,
akan merasa bangga jika bisa berfoto, berbincang atau bersalaman dengan
si turis. Apalagi jika sampai berkenalan dan berteman, apalagi kalau
sampai bersuamikan orang bule, sungguh kebanggaan luar biasa ! Segala
apa yang datang dari 'barat' akan cepat digandrungi. Apakah itu musik,
film , juga produk-produk yang dibutuhkan sehari-hari. Merek dari 'Barat'
ini mendapat tempat istimewa di hati rakyat. Di otak kita seakan sudah
tertanam akan kehebatan-kehebatan orang barat itu. Jika diungkapkan
dalam bahasa anak-anak, mereka akan berkata, "Kasihan deh lu..."·
(Ummu Muthmainnah - Ira)
|