g

KELUARGA

PMILA > KELUARGA > ARTIKEL

 

Masa Kecilku Kunci Kebahagianku

Sejak lama, Andri merasa tak puas pada dirinya. Dia merasa tidak bahagia dengan keadaannya sekarang. Acap kali, siswa kelas satu sebuah SLTP di Jakarta ini gugup saat berbicara di depan kelas. Tidak hanya itu. Andri juga kesulitan dalam menjalin hubungan dengan teman-teman sebayanya. Alhasil, ia pun dicap minder. Andri sendiri mengaku ingin keluar dari masalah pelik itu.

Sekilas persoalan ini tampak sederhana. Banyak hal yang menyebabkan timbulnya rasa rendah diri dan ketidakbahagian yang teradi pada Andri. Diantaranya, seperti diungkapkan dr Edward M Hallowell, seorang pakar kejiwaan di Sekolah Kesehatan Harvard, Boston, Amerika Serikat, berakar dari masa lalu. Tepatnya, kata Hollewell, saat anak-anak melewati masa kecil.

Diduga, jelasnya, pada masa itu Andri tidak memperoleh cukup perhatian dan dukungan dari orangtuanya. Dampaknya, saat beranjak dewasa, ia tumbuh menjadi remaja yang kurang pede (percaya diri). ''Meski terkesan kecil, tapi pengaruh itu sangat besar,'' kata Hollewell yang juga penulis buku The Childhood Roots of Adult Happiness.

Dia menjelaskan kebahagiaan seseorang ketika berangkat dewasa, sedikit banyak ditentukan kehidupan masa kecilnya. Pada contoh kasus tadi, Andri termasuk yang kurang beruntung. Karena minder, kebahagiaannya menjadi berkurang. Mengapa ia tergolong remaja minder? Hollewell mengatakan lantaran ketika kecil orangtua Andri tidak menciptakan kepercayaan diri dalam jiwanya.

Padahal, katanya, dari bebragai hasil penelitian yang dia lakukan, kepercayaan diri dan harga diri amatlah penting ditumbuhkan sejak dini. ''Dua hal tadi menentukan kebahagiaan seseorang kelak,'' tandas Hollewell. Tentu, lanjutnya, masih ada faktor lain yang ikut berpengaruh. ''Namun, pengalaman masa lalu si anak bersama didikan orang tuanya, memberikan andil besar.''

Sentuhan ibu
Selain kurang percaya diri, depresi yang terjadi saat ini pun bisa karena alasan-alasan masa kanak-kanak dulu. Depresi merupakan gejala yang kerap ditemukan pada kaum remaja maupun orang dewasa. Tak dinyana, pemicu sering timbulnya depresi berasal dari masa lalu, tepatnya ketika kita masih bayi.

''Kurangnya sentuhan ibu saat bayi, kelak menyebabkan seseorang rentan terserang depresi saat beranjak dewasa,'' demikian ditandaskan Inna Mutmainah, psikolog yang menekuni psikologi anak dan remaja.

Sedianya, kata dia, bayi memperoleh banyak sentuhan ibu saat berusia nol hingga satu tahun. Pasalnya, kata Inna, masa itu adalah masa terpenting untuk menumbuhkan rasa aman bagi anak. Kekurangan rasa aman saat bayi, menyebabkan anak tidak mudah percaya pada orang sekelilingnya.

Selain itu, dampaknya saat beranjak dewasa, ia mudah terserang depresi. Inna menuturkan, sentuhan pada bayi, bisa dilakukan saat memberi ASI, ditambah dekapan-dekapan yang memberi rasa aman.

Menangani anak memang bukan persoalan gampang. Sebab, kata Inna, yang dibutuhkan anak bukan semata-mata perhatian fisik saja, seperti gizi atau vitamin. Lebih dari itu, orang tua mesti memberi perhatian psikologis. Ini disesuaikan dengan tahap perkembangan mereka.

Lepas dari umur satu tahun, anak mulai menunjukkan gejala lain lagi. Saat ini, kata dia, mulai timbul rasa malu dan ragu. ''Sementara anak mulai melakukan eksplorasi,'' urainya. Orang tua, dalam hal ini, harus memberikan kebebasan. Larangan-larangan yang bertubi-tubi pada masa itu, kelak menyebabkan anak jadi individu yang ragu-ragu.

Menginjak umur tiga hingga lima tahun anak mulai mengambil inisiatif. Mereka sering melakukan trial and error. Memang, saat itu anak belum mempunyai konsep moral, mengenai baik dan buruk. Orang tua, jelas Inna, jangan lalu memarahi anak habis-habisan saat mereka berbuat salah. Tapi berilah dulu kesempatan.

''Jika berbuat salah sedikit saja langsung dimarahi, kelak membentuk kepribadian sering merasa bersalah pada anak,'' ujar psikolog lulusan Universitas Indonesia (UI) ini.

Juga ketika anak berangkat ke bangku sekolah, pada usia enam hingga 12 tahun. Masa ini adalah tahap kenal lingkungan. Orang tua, sambung Inna, mesti mendampingi dan memberi pengarahan. Namun, katanya lagi, jangan sekali-kali memberi label buruk untuk anak. ''Akibatnya anak jadi rendah diri,''. c21

 

Tips Agar Anak Bahagia Kelak

Apa yang mesti dilakukan orang tua agar tidak tercipta Andri-andri lainnya? Dr Edward M Hollewell memberikan beberapa tips.

Merasa dicintai
Keyakinan perasaan anak bahwa orang tua mereka di rumah sayang kepadanya, membuat jiwanya tenang. ''Ini menciptakan fondasi rasa aman dalam jiwanya,'' tutur Hollewell.

Yang tertanam, adalah perasaan bahwa dirinya bagian dari sebuah keluarga. Dampaknya ia merasa terlindungi. Lebih dari itu, mesti ditanamkan juga dalam benaknya bahwa dirinya bagian dari teman-teman di lingkungannya atau di sekolahnya.

Malahan Hollewell menyarankan anak-anak memiliki binatang kesayangannya sendiri.

Biarkan mereka bermain
''Ini sangat penting,'' papar Hollewell. Lewat bermain, sang anak berlatih memecahkan problem-problemnya sendiri. Tanpa disadari, ia menciptakan skenario sendiri dan mendayagunakan kemampuan-kemampuan yang masih tersembunyi dalam dirinya. Buntutnya, sambung Hollewell, sang anak pun menemukan dimana bakatnya.

Terus berlatih
Tatkala anak menemukan dimana bakat yang disukainya, ia bakal terus mencoba. ''Di sini peran orang tua bermain.'' Mereka, kata Hollewell, harus cepat menangkap apa yang disukai anaknya. Lalu, tugas orang tua adalah memberikan dorongan atau memfasilitasinya. Dari sini tercipta benih-benih kepandaian.

Ciptakan satu kemampuan
Berangkat dari latihan yang terus menerus, anak mulai menunjukkan kekhasannya pada satu keahlian. Bidang apapun itu, mulai dari kemampuan membuat sangkar burung, menggambar, atau bermain piano, tidak jadi masalah.

''Yang penting kemampuan mereka diteguhkan oleh orang tuanya,'' tegas Hollewell. Alhasil, timbul keyakinan dalam diri anak, bahwa dia mampu melakukan sesuatu. Perlahan, ini membangun harga diri dan kepercayaan diri.

Beri pengakuan
''Ini yang paling penting,'' ungkap Hollewell. Ketika anak merasa yang dilakukannya direspon atau berpengaruh pada keluarganya, maka bulatlah keyakinan dalam dirinya.

Terlebih jika pengakuan itu juga datang dari teman sekelasnya atau di timnya. ''Dukungan ini menjadikan anak yakin pada kemampuannya,'' kata dia.

Dampaknya, ia memiliki persepsi bagus tentang dirinya. Hollewell menegaskan ini bukanlah persoalan sepele. Tentunya, siapapun tidak ingin salah langkah, katanya.

''Lakukan lima tips tadi untuk putra putri anda,'' saran dia. Ini, berarti Anda telah memberikan satu harapan bagi mereka. Yakni untuk menikmati kehidupan yang menyenangkan dan berarti kelak, tandas Hollewell.

 


^ KE ATAS


Halaman Muka | Kesehatan | Rohani | Perpustakaan PMILA |  Keluarga | Info Wajib Lapor | Iptek | Serba Serbi LA | Tips and Tricks | Warta Indonesia | Perwakilan Indonesia | Lembar Anggota | Tentang Kami | Kontak Kami

© Copyright 2002-2004, PMILA. All Rights Reserved.