g

KELUARGA

PMILA > KELUARGA > WANITA

 

Sebuah Refleksi di Hari Kartini
Margareta Rinastiti
Sumber: Tino

Prolog :Suatu pernyataan awal.
Pertama : kalaulah ada yang mengatakan tulisan ini tidak tepat ditampilkan dalam milist ini, tidak apa-apa, karena saya sadar bahwa ini jauh dari dunia KG (meskipun masih berhubungan dengan pendidikan).
Kedua : tulisan ini tidak bermaksud menggugat atau semakin menimpangkan ketimpangan ruang-ruang sosial gender.
Ketiga : saya tidak berani untuk memberikan persepsi-persepsi yang lebih jauh mengenai topik ini, karena saya bukan pakar studi gender maupun kependudukan.
Keempat : tulisan ini lebih pada sebuah perenungan pribadi yang membuahkan syukur, dan inilah yang ingin saya bagikan kepada teman-teman.

21 Januari, 1901, Kepada Ny.RM. Abendanon (Surat-surat Kartini, Sulastin Sutrisno, 1985)

Dari perempuanlah manusia itu pertama-tama menerima pendidikan. Di pangkuan perempuanlah seseorang mulai belajar merasa, berpikir dan berkata-kata. Dan makin lama makin jelaslah bagi saya, bahwa pendidikan yang mula-mula itu bukan tanpa arti bagi seluruh kehidupan. Dan bagaimanakah ibu-ibu Bumiputera dapat mendidik anak-anaknya, kalau mereka sendiri tidak berpendidikan? Karena itulah maka saya amat sangat gembira atas maksud yang mulia hendak memberikan pendidikan dan pengajaran kepada gadis-gadis Bumiputera itu.

Sungguh pemikiran yang luar biasa. Kartini sudah memberikan suatu buah pikiran yang melampaui jamannya. Terbukti, sekarang, ketika 101 tahun sudah berlalu, secara nyata masalah ini masih dihadapi oleh perempuan-perempuan bangsa kita . Mari kita tengok data dibawah ini :

PENDUDUK 15 THN KE ATAS YG TERMASUK ANGKATAN KERJAMENURUT PENDIDIKAN TERTINGGI YG DITAMATKAN DAN JENIS KELAMIN, INDONESIA, 2000

JENJANGPENDIDIKAN YGDITAMATKAN

STRUKTUR PENDIDIKAN PENDUDUK

STRUKTUR JENIS KELAMIN

PEREMPUAN & LAKI-LAKI

PENDUDUK PER JENJANG DIK

P

L

P

L

P+L

P

L

P+L

P+L

(1)

(2)

(3)

(4)

(5)

(6)

(7)

(8)

(9)

(10)

Univ

778,249

1,532,094

2.1

2.6

2.4

33.7

66.3

100.0

2,310,343

D3

492,612

741,703

1.3

1.3

1.3

39.9

60.1

100.0

1,234,315

D1+D2

429,924

493,390

1.2

0.8

1.0

46.6

53.4

100.0

923,314

SLTA-K

1,741,140

3,190,181

4.7

5.4

5.2

35.3

64.7

100.0

4,931,321

SLTA-U

4,085,070

9,643,954

11.1

16.4

14.3

29.8

70.2

100.0

13,729,024

SLTP-K

373,532

726,967

1.0

1.2

1.1

33.9

66.1

100.0

1,100,499

SLTP-U

4,560,000

9,644,947

12.4

16.4

14.8

32.1

67.9

100.0

14,204,947

SD

13,665,994

21,909,515

37.1

37.2

37.2

38.4

61.6

100.0

35,575,509

Tdk/Blm Tmt SD

6,744,470

7,766,303

18.3

13.2

15.2

46.5

53.5

100.0

14,510,773

Tdk/Blm Sekolah

3,992,947

3,182,987

10.8

5.4

7.5

55.6

44.4

100.0

7,175,934

TOTAL

36,863,938

58,832,041

100.0

100.0

100.0

38.5

61.5

100.0

95,695,979

 

Sumber : BPS, Sakernas 2000

Ingatan saya menjadi mundur beberapa bulan silam tentang penuturan seorang ibu dari gadis kecil pada suatu hari ketika saya masih bertugas di desa ujung selatan kota Jogja. Gadis itu, berusia 11 tahun, sebutlah namanya Marsiroh (paduan antara Marsinah dan Nasiroh sebagai simbol pendobrakan perempuan terhadap sosio-kultural patriarki yang berakibat mereka menjadi tak berdaya untuk selamanya). Hari itu, saya tahu pasti adalah hari pertama ulangan umum. Maka ketika Marsiroh dan ibunya datang pada pukul 9 pagi, saya bertanya mengapa tidak bersekolah. Si gadis kecil menjawab bahwa ia sudah tidak bisa bersekolah lagi, kalaupun bersekolah dia sudah kelas 6 SD saat itu. Dari perbincangan kami, si Ibu mengatakan bahwa Marsiroh tidak dapat melanjutkan sekolah karena tidak cukup uang untuk membiayai keempat anaknya. Satu kalimat yang keluar dari bibir  Ibunda Marsiroh yang tak pernah saya lupakan adalah seperti ini : " Sebetulnya saya sangat ingin Marsiroh ini tetap sekolah, karena ia selalu juara I. tetapi bapaknya anak-anak ngotot kalau yang bersekolah haruslah kakangnya Marsiroh. Padahal si Thole itu sangat nakal dan malas, dia sudah 2 kali tidak naik kelas. Tetapi, bapakne bilang, kalau Marsiroh itu kelak kan hanya menjadi Konco Wingking, jadi buat apa sekolah" (konco wingking=teman belakang, melulu bertugas sebagai penghasil dan pemelihara anak serta tetek bengek urusan domestik =tidak adanya kemitra sejajaran).

Coba lihat, betapa rendahnya posisi tawar perempuan-perempuan marginal ini dalam hirarki keluarga. Padahal si Ibu juga bercerita bahwa ia dan Marsiroh bekerja sebagai buruh derep padi, yang berarti ia harus merambah sektor publik pula untuk menjaga agar periuk nasi mereka tetap mengepul. Sementara itu, satu kaki mereka masih terikat erat pada budaya patriarki Jawa yang tidak memungkinkan mereka untuk menyuarakan pendapat dan keinginannya.  Krisis multidimensi yang terjadi di indonesia, secara cepat telah menjerat mereka dalam lumpur kemiskinan. Akibatnya, banyak hal-hal yang harus dikorbankan agar mereka dapat bertahan hidup. Dan yang paling mudah dikorbankan adalah kelompok sub ordinat yang tidak mempunyai daya untuk berprotes. Contoh sangat gamblang terpapar  di muka saya, Marsiroh..... dia harus rela menanggalkan cita-citanya untuk menjadi sekertaris (entah mengapa dia memilih profesi ini ketika saya menanyakan cita-citanya, mungkin karena di sinetron ia selalu melihat bahwa sekertaris itu cantik dan mentereng), karena blokade terhadap akses pendidikan yang diciptakan oleh bapaknya, seseorang yang membuat ia ada di dunia ini.

Sepanjang sisa hari , saya tak bisa menghapus semua percakapan dan cerita sedih Marsiroh dan Ibunya yang sarat dengan beban.Saya juga tidak tahu, apa yang bisa saya lakukan untuk menolong mereka, meski sangat ingin. Pada akhirnya, yang tersisa dari saya adalah suatu rasa syukur yang luar biasa. Terima kasih Tuhan, Engkau telah memilihkan aku tempat lahir dan berkembang yang baik. Yang memungkinkan saya untuk berkata : "I am my self" . Atau meminjam istilah Faruk HT, "Saya bersyukur karena dapat melepaskan hak saya untuk menjadi bodoh".

Saya tahu, bahwa kita semua tidak bisa menutup mata, diluar sana masih banyak Marsiroh - Marsiroh lain.Tetapi ada suatu penghiburan lain,  karena saya  tahu bahwa teman-teman, mbak-mbak, ibu-ibu di milist ini (Red: Milist Permias ?), dengan segala "kependekarannya"  bisa mewujudkan apa yang diinginkan Puteri Sejati kita, Ibu Kartini (tidak hanya sekedar merenung dan berbicara seperti saya ini).

Epilog : Pada akhirnya penting bagi kita  masing-masing untuk tahu, menyadari dan melakukan arti kata seimbang. Karena laki-laki dan perempuan adalah anima dan animus. Laki-laki memiliki sisi feminitas dan perempuan memiliki sisi maskulinitas.Sehingga relasi yang terjadi bisa menjadi reroncen sekar melati yang indah (rangkaian bunga melati yang sangat disenangi Kartini).  Omi Intan Naomi mengatakan : " Bagaimanapun, setelah berdamai dengan diri sendiri, wanita harus bersama-sama pria menciptakan hubungan gender yang harmonis" (Sangkan Paran Gender, 1997).

Salam hangat dan Selamat hari Kartini

Tita

PS: kalau kebetulan ada yang menjadi panitia peringatan hari Kartini, tolong jangan mengadakan acara lomba memasak atau keserasian berbusana seperti yang selama ini banyak dilakukan ya... Karena saya rasa, bukan peringatan semacam itu yang dikehendaki oleh Ibu Kita Kartini untuk menghidupkan semangat beliau.

 


^ KE ATAS


Halaman Muka | Kesehatan | Rohani | Perpustakaan PMILA |  Keluarga | Info Wajib Lapor | Iptek | Serba Serbi LA | Tips and Tricks | Warta Indonesia | Perwakilan Indonesia | Lembar Anggota | Tentang Kami | Kontak Kami

© Copyright 2002-2004, PMILA. All Rights Reserved.