|
|
|
|
|
|
|
g
|
|
SOROTAN
|
Kumpulan Sorotan
|
Tap Ekonomi 2002
(*Tugas Presiden & Kabinet
Menjabarkannya)
Oleh : Didik J Rachbini
Kinerja ekonomi di bawah pemerintah
dan kabinet gotong royong jauh dari memadai, jika tidak hendak dikatakan
mengecewakan. Betapa tidak, tingkat pertumbuhan dari kuartal ke kuartal dan
kecenderungannya pada 2002 ini tidak menunjukkan kinerja yang lebih baik,
terutama dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
Akibatnya, kesempatan kerja baru bagi masyarakat tidak berkembang. Hal yang sama
terjadi pada tingkat pendapatan masyarakat, yang pasti tidak bertambah baik pada
saat perekonomian bertumbuh rendah. Semua itu terjadi karena kebijakan
pemerintah dan kabinetnya tidak efektif atau bahkan dapat dikatakan terjadi
kekosongan kebijakan yang memadai untuk menyelesaikan permasalahan ekonomi
secara umum.
Proses menuju ke arah pemulihan ekonomi masih bertele-tele dan baru kinerja
sektor moneter yang stabil dalam kondisi masih semu. Perbaikan ekonomi secara
lebih menyeluruh masih belum terjadi sehingga ekonomi masyarakat kebanyakan
masih dalam kondisi memprihatinkan. Itu berarti masalah pengangguran, baik
terbuka maupun terselubung, masih belum dapat diselesaikan.
Sejak setahun yang lalu pers dan analis ekonomi menyampaikan gagasan perlunya
Ketetapan MPR yang memayungi pemerintah untuk pemulihan ekonomi. Gagasan
tersebut datang dari Perhimpunan Indonesia Baru, yang disiapkan hendak menjadi
partai. Ide tersebut masuk terlambat ke dalam Sidang Tahunan MPR 2001 sehingga
pembentukan komisi dan pembahasannya ditunda sampai 2002 sekarang ini.
Pada masa sidang inilah saya mengajukan gagasan langsung kepada komisi B1
melalui Tim Perumus dan fraksi-fraksi. Bahkan sebagian dari gagasan itu saya
tuliskan di media massa selama persidangan itu berlangsung. Kini butir-butir
arahan politik dari MPR kepada presiden sudah dituangkan dalam Tap, sehingga
mempunyai ketetapan hukum untuk dijabarkan lebih detail dan dilaksanakan oleh
presiden dan kabinetnya.
Ketetapan MPR itu bersifat politik dan hanya merupakan arahan pokok agar
presiden dan kabinetnya berjalan sesuai substansi Tap itu. Tap MPR itu sangat
jelas, yakni bertujuan untuk mempercepat pemulihan ekonomi guna membangkitkan
sektor riil dan perluasan kesempatan kerja, melalui upaya kebijakan stabilisasi
makroekonomi (inflasi, suku bunga, kurs), serta upaya promosi investasi dan
ekspor.
Perluasan kesempatan kerja adalah kata kunci yang merupakan arahan politik dari
wakil-wakil rakyat tersebut. Ini ditegaskan oleh MPR karena satu tahun terakhir
ini masalah kesempatan kerja tidak berhasil diatasi karena pertumbuhan ekonomi
rendah, investasi dalam negeri dan asing menurun, dan kegiatan ekonomi produktif,
ekspor dan perdagangan secara umum tidak menunjukkan perbaikan yang signifikan.
Hal yang kritis untuk diselesaikan adalah masalah stagnasi investasi. Program
promosi semestinya digalakkan bersamaan dengan perbaikan iklim investasi yang
memadai, perbaikan kualitas sistem hukum, keamanan, dan sistem pendukung lainnya.
Tetapi, usaha-usaha seperti itu tidak dilakukan secara proporsional karena
masalah kapasitas dalam pemerintah dalam kebijakan kolektif.
Masalah yang juga disesalkan adalah penurunan kegiatan ekspor, yang sebenarnya
sudah mempunyai fondasi cukup kuat sejak akhir 1980-an. Nilai ekspor nasional
sudah di atas 50 miliar dolar AS, yang lebih banyak dikontribusi oleh industri
non-migas. Ini merupakan pilar ekonomi nasional yang sekarang terbengkalai dan
absen sentuhan kebijakan sehingga nilai ekspornya cenderung melorot.
Tap MPR ini juga memberi arahan agar kegiatan ekonomi produktif riil
dikembangkan dengan peningkatan investasi dan orientasi ekspor agar bersaing
dengan pelaku internasional. Tidak hanya itu, kegiatan ekspor yang dinamis dapat
menarik gerbong jajaran tenaga kerja yang banyak jumlahnya. Tetapi, kemampuan
pemerintah menurun dalam usaha untuk mempertahankan kegiatan ekspor ini.
Jika tahun yang akan datang gagal, terutama kinerja investasi dan ekspor, maka
pertumbuhan ekonomi akan berjalan lambat. Arahan Tap MPR ini tidak dilaksanakan
dengan baik karena perluasan kesempatan kerja tidak dapat dicapai dengan
pertumbuhan ekonomi yang rendah.
Parlemen (MPR dan DPR) dengan instrumen Tap Percepatan Pemulihan Ekonomi itu
bisa mengontrol dan mengevaluasi pemerintah dalam bidang ekonomi. Jika
pemerintah gagal melaksanakannya, maka MPR dapat melakukan koreksi dan
menyampaikan kepada masyarakat bahwa pemerintah sekarang tidak bisa menunaikan
amanat rakyat untuk memperbaiki kesejahteraan masyarakat.
Karena itu, sejak saat ini presiden dan kabinet wajib menerjemahkan Tap tersebut
lebih detail dengan ukuran kuantitatif untuk mencapainya. Dengan dasar Tap dan
matriks detailnya, pemerintah dapat menetapkan kebijakan-kebijakan dan
mengembangkan program-program ekonomi.
|
|
|
|
|