|
|
|
|
|
|
|
g
|
|
SOROTAN
|
Kumpulan Sorotan
|
Sepatu
Oleh : Anif Punto Utomo
Suatu ketika serombongan orang
Indonesia memasuki pertokoan di Los Angeles, AS. Salah seorang dari mereka ingin
membeli sepatu. Setelah pilih sana-sini dan dicoba, akhirnya ditemukan sepatu
bermerek dengan harga cukup mahal yang cocok. Lantas digeseklah kartu kredit
untuk membayar sepatu pilihannya.
Beberapa hari kemudian sampailah bapak muda itu di tanah air. Dengan bangga
ditunjukkannya sepatu yang dia beli pada keluarganya. Tapi setelah salah satu
anggota keluarganya dengan detil memperhatikan sepatu itu, ditemukanlah tulisan:
made in Indonesia. Betapa menyesalnya dia, sudah jauh-jauh beli, ternyata
bikinan sini juga.
Di Jawa Timur, Asosiasi Persepatuan Indonesia (Apresindo) memperkirakan pada
2002 ini akan ada pemutusan hubungan kerja (PHK) 60.000 buruh setelah tutupnya
empat pabrik dan terancamnya enam pabrik sepatu. Perkiraan itu menyusul
dihentikannya order dari Reebok pada PT Primarindo Asia Infrastructure.
Di Jawa Barat, ribuan buruh pabrik sepatu juga terancam PHK susulan. Terakhir
kita dengar, buruh PT Doson Indonesia yang mendapat order Nike Inc
berdemo karena order-nya disetop. Jika benar terjadi, maka tujuh ribu
buruh akan menganggur.
Sejak awal 1990-an, Indonesia memang menjadi salah satu relokasi produsen sepatu
bermerek. Produsen biasanya perusahaan patungan ataupun asing. Sepatu dibuat di
sini dengan standar dari pusat, dan diekspor ke negara maju. Jadi, produk
Indonesia tak mungkin dapat Anda temukan di sini, kecuali di factory outlet.
Sepatu bermerek yang dijual di sini bisa jadi buatan Cina atau Vietnam.
Tiga besar yang mendominasi order pembuatan sepatu adalah merek Nike,
Reebok, dan Adidas. Ketiga merek tersebut memberikan kontribusi sekitar 80
persen. Beberapa merek lain yang juga dibuat di negeri ini, di antaranya adalah
Bally, Palolo, Converse, Caterpillar, dan Eagle. Kebanyakan sepatu olahraga yang
di-order.
Puncak produksi pada 2001. Saat itu, produksi mencapai 460 juta pasang sepatu
olahraga dan 290 juta nonolahraga. Nilai ekspornya 1,6 miliar dolar AS (lebih
kecil ketimbang tahun sebelumnya meski pesanan tinggi). Tenaga kerja yang
terserap 350 ribu yang bekerja langsung dan 200 ribu lainnya tak langsung. Jika
tiap pekerja punya tanggungan dua orang, berarti 1,65 juta orang menggantungkan
hidup dari industri sepatu.
Tapi tampaknya masa emas persepatuan akan meredup. Industri sepatu sudah menjadi
sunset industry. Penyebabnya bukan masalah bergesernya selera konsumen,
melainkan karena persaingan investasi. Kini yang dilirik para investor asing
untuk membangun pabrik pembuatan sepatu adalah Cina dan Vietnam.
Pertimbangan mereka pindah, di antaranya adalah upah buruh yang terus naik yang
tidak diimbangi produktivitas, buruknya keamanan, dan berbagai kenaikan tarif
seperti bahan bakar minyak (BBM) dan listrik. Masing-masing kelemahan itu punya
bobot yang menjadikan investor mulai berhitung ulang.
Cina dan Vietnam terkenal dengan upah rendah dan jaminan keamanan.
Menurut Apresindo, upah buruh di Cina 12 dolar AS lebih murah per bulannya. Tapi
untuk masalah ini, Cina lagi disorot dunia. Bahkan Business Week di edisi
Juni lalu, menjadikan rendahnya upah buruh di Cina sebagai laporan utama.
Intinya, kehidupan para buruh di sana tidak segemerlap pertumbuhan ekonomi
mereka.
Kita tentu tidak mungkin menurunkan upah buruh yang sudah rendah. Melihat
perilaku PLN dan Pertamina, juga tidak mungkin tarif listrik dan BBM turun.
Kelemahan yang bisa diperbaiki adalah keamanan, baik keamanan pabrik, maupun
radikalisme buruh. Kondisi tersebut tentu membuat investor ketar-ketir. Kalau
semua tak bisa diperbaiki, bisa berabe nasib buruh.
Mungkin, kelak jika lelaki yang menyesal tadi beli sepatu lagi di Los Angeles,
dia akan puas karena bukan buatan Indonesia. Tapi barangkali, dia akan menyesal
jika tahu bahwa kepuasan tersebut ternyata dibayar dengan di-PHK-nya ratusan
ribu pekerja pabrik sepatu di negerinya.
|
|
|
|
|