|
|
|
|
|
|
|
g
|
|
SOROTAN
|
Kumpulan Sorotan
|
PRA
INDONESIA
Oleh Haedar Nashir
Ingin bayar utang dengan mudah? Ingin keluar dari krisis? Tanyalah paranormal
atau ustadz. Anda dijamin memperoleh jalan gampang, yang berbau klenik sekalipun.
Tak usah pakai tim ahli yang tangguh. Tidak perlu kerja keras dan menggali
potensi alam dengan teknologi. Tidak juga dengan efisiensi dan memberantas
korupsi secara susah payah. Cukuplah menggali harta karun atas petunjuk ustadz.
Dijamin beres.
Di situlah hebatnya orang Indonesia! Menyelesaikan urusan-urusan negara yang
seberat apapun masih dapat dilakukan dengan cara-cara gampangan. Bahkan dengan
cara yang beraroma irasional, mistik, klenik, dan bukan oleh ahlinya.
Jalan pintas memang menggoda. Lebih-lebih ketika kita sedang dilanda kemelut.
Betapa tak menggiurkan? Utang luar negeri Indonesia telah mencapai 146 miliar
dolar US, yang sangat memberatkan generasi kita. Sedangkan krisis ekonomi dan
lainnya tak kunjung sembuh. mengapa tak mencoba cara lain, begitulah bisikan
logika napas pendek.
Soal legitimasi atau rasionalisasi, apa sulitnya? Orang Indonesia sangat piawai
dalam mencari pembenaran. Niatnya kan baik, ingin mencari dana untuk bayar utang
negara. Mengenai irasional itu kan soal kelaziman. Tak ada yang keliru. Bila
perlu, bawalah ustadz atau bahkan Tuhan! Masa tak percaya sama ustadz? Bagi
manusia mungkin tak masuk akal, tapi bagi Tuhan semua hal menjadi mudah. Siapa
berani melawan logika atasnama ustadz dan Tuhan, bisa-bisa disebut sekuler dan
kafir!
Soal cara yang salah dan akibat yang meresahkan? Itu soal mudah. Mintalah maaf
kepada publik, semuanya beres. Tak perlu ada mundur-munduran segala. Itu kan
masalah sepele, kata pejabat tinggi negera di Republik ini. Di negeri ini kalau
sudah ada kata maaf, semua hal selesai. Tak perlu ada hisab publik.
Sampai-sampai muncul seloroh, bongkar saja Borobudur atau Prambanan yang anggun
itu. Lalu, setelah rusak, mintalah maaf dengan nada sedih. Bangsa ini sangat
pemaaf, bahkan sangat pendek memori kolektifnya.
Jadi, untuk apa berpolemik apalagi sampai masuk ke tuntutan politik mundur dari
jabatan. Juga tak perlu pula debat soal irasionalitas, terlalu berat dan berbau
akademik. Tak ada masalah yang serius, semuanya sudah selesai. Begitulah
gampangnya hidup di negeri ini. mengapa mesti susah-payah, kasihan rakyat yang
sudah susah begitu lama? Kalau masih kurang mantap alasan, bilang saja ada yang
menjebak. Ada unsur politiknya! mengapa harus dibesar-besarkan. Sudahlah, masih
banyak urusan besar di negeri ini yang harus diselesaikan. Begitulah logika
jalan gampang mencoba membangun alasan.
Soal irasionalitas? mengapa mesti ribut, bukankah bangsa ini juga para elitnya
sudah lama sering bertindak tidak rasional? Juga suka merawat praktik-praktik
klenik, perdukunan, dan hal-hal yang berbau mitis. Mengambil langkah-langkah tak
masuk nalar publik dan standar bernegara juga tidak sedikit dalam mengurus
pemerintahan. Bahkan untuk penjungkir-balikan nilai benar-salah, baik-buruk,
pantas tak pantas, juga telah menjadi hal lumrah. Mengapa mesti diributkan?
Tapi jika mau ribut, ributlah dengan serius! Jangan hangat-hangat tahi ayam dan
sekadat di permukaan. Artinya, jika masalah irasionalitas yang berbau klenik
atau magik kita persoalkan dalam urusan-urusan kenegaraan, beranikah semua pihak
untuk berkaca diri. Lalu, membongkar alam pikran kita yang selama ini boleh jadi
banyak dikerangkeng oleh sangkar-besi irasionalitas itu. Selanjutnya, berani
menata kehidupan berbangsa dan bernegara secara rasional sebagaimana lazimnya
bangsa-bangsa yang berkemajuan. Termasuk dalam membongkar kerangkeng
irasionalitas dan tradisionalitas yang berbau mitis dalam kultur masyarakat kita
sehari-hari.
Kita biasanya suka ribut di permukaan. Ributnya pun hangat-hangat tahi ayam.
Sehabis itu, semua sirna seakan tanpa masalah. Lebih-lebih jika pemerintah sudah
mengatakan, kasus dianggap telah selesai. Masing-masing sudah saling memahami.
Juga ada permintaan maaf. Lalu, masalah yang semula tampak besar dan serius,
berubah menjadi sepele. Kalaupun ada tuntut-menuntut mundur, biasanya berakhir happy
ending saja. Mana ada tradisi mundur dalam kultur politik di negeri ini,
yang ada paling dipaksa mundur. Mana ada urusan benar-benar tuntas, yang ada
biasanya menimbun masalah.
Maka jika benar-benar kita gelisah soal irasionalitas, klenik, magik, dan ha l-hal
yang di luar kelaziman dalam mengurus negara dan wilayah publik maka bongkarlah
sampai ke akar-akarnya. Sebab jangan-jangan semua itu cermin dari wajah bangsa
ini. Wajah kita semua. Atau setidak-tidaknya melukiskan dari sebagian jatidiri
kita selaku bangsa. Bahwa sesungguhnya, selama ini banyak hal yang irasional di
wilayah publik. Tak kecuali dalam urusan-urusan kenegaraan.
Bukankah telah menjadi rahasiah umum, jika perilaku ke dukun, paranormal, orang
suci, dan sejenisnya telah menjadi bagian dari kultur politik di negeri ini?
Para pejabat ingin naik pangkat dan karirnya terus meroket, mereka pergi ke
orang-orang yang dianggap suci. Bahkan untuk mereka yang berada di puncak
kekuasaan, selalu dikaitkan dengan dunia supranatural. Pergi ke tempat-tempat
keramat, ziarah ke kuburan untuk tabarruk, hingga menghitung hari-hari
baik dan buruk untuk kelanggengan kekuasaan.
Masyarakat pun akrab dengan dunia klenik dan supranatural yang dianggap
irasional itu. Bahkan anak sapi hilang pun, bisa merujuk untuk bertanya kepada
paranormal atau dukun, bukan lapor ke pak RT atau polisi. Itulah yang direkam
dengan apik oleh penyanyi dangdut Alam dengan Mbah Dukun-nya! Jangan-jangan Alam
sedang menyindir bangsa ini bahwa tradisi klenik memang telah menjadi
darah-daging dari masyarakat Indonesia.
Dunia agama pun masih diliputi alam pikiran religio-magis. Bahkan, hal-hal yang
bercorak magis atau mitis bisa memperoleh rujukan teologis dalam alam pikiran
yang bernama tarikat, tasawuf, atau paham tentang iman kepada yang ghaib.
Sehingga paham tahayul, syirk, bid'ah, dan khurafat bisa direlatifkan dan
dikaburkan.
Maka janganlah terlalu bermimpi dengan alam pikiran liberal. Itu suatu kemewahan
dan santapan elit pemikir saja. Apalagi jika gerakan liberal itu terjebak pada
paradoks dalam dirinya sendiri. Rasanya, kelompok yang merasa liberal atau neo-modernis,
agaknya sering tak berdaya ketika berhadapan dengan kaumnya yang irasional.
Keluar tampak liberal dan radikal, tetapi ketika ke dalam ikut larut dalam
kultur irasional. Mereka masih percaya pada dunia wali yang ma'shum, pada
pemimpin yang tak tersentuh dosa, pada struktur paternalistik, hingga ke
mitos-mitos langit di jagat politik yang profan.
Di negeri Barat alam pikiran mistis atau mitologis telah lama dibongkar oleh
alam pikiran positif yang menjunjung tinggi rasionalitas. Namun di negeri ini,
semuanya bisa bercampur aduk tidak karuan. Hal-hal yang irasional dapat dianggap
rasional dengan alasan khazanah tradisi. Bahkan bisa meminjam pisau kaum post-modernisme
bahwa hal-hal yang tradisional dan terkesan irasional itu diklaim sebagai dunia local-knowledge,
kearifan lokal yang anggun.
Maka, paradoks pun sering terjadi. Dunia irrasional bersandingan dengan dunia
rasional. Ziarah kubur untuk cari berkah, mitos wali, pemimpin darah biru,
wangsit, teja , dan hal-hal yang berbau religio-magis bisa masuk ke dunia
politik, ke wilayah publik. Secara individual banyak orang berpikir dan
bertindak liberal. Tetapi nalar komunalnya masih kental ke dunia mistik,
irasional, dan religio-magis atas nama kearifan tradisi!
Maka, jadilah bangsa ini serba percaya diri dengan dunia tradisional yang serba
religio-magis. Bahkan untuk mengurus negara sekalipun. Celakanya dunia yang
tradisional semacam itu dianggap sebagai mutiara di tengah kegersangan
modernisme, dan memperoleh simpati peneliti asing yang melankolis. Padahal,
apalah Indonesia yang compang-camping dan masih terbelakang ini. Janganlah
terlalu jauh masuk ke wilayah liberal dan post-modernisme, dunia modernisme pun
masih belum akil-balig. Kita sebagai bangsa masih hidup di dua kultur yang
saling antagonis, tradisionalitas "sisa-sisa laskar Pajang" dan
modernisme yang setengah hati.
Kalau kita gelisah dan ingin ribut, bongkarlah sangkar-besi irasionalitas dan
tradisionalitas yang membelenggu itu secara radikal. Jangan setengah hati. Sebab
masalah yang mendasar terletak dalam cara kita mengambil keputusan. Masak hal
yang menyangkut hajat hidup publik dan urusan negara begitu gampang ditangani
secara serampangan dan dengan memakai pertimbangan ustadz atau paranormal, tidak
berdasar pada analisis dan proses pengambilan keputusan yang menyeluruh? Jika
sementara ini orang tak setuju agama masuk ke wilayah negara, bagaimana bisa
hanya pertimbangan seorang ustadz dapat diambil keputusan yang menyentuh wilayah
publik dan menjadi urusan negara? Ini soal akuntabilitas publik dan cara kita
mengelola negara, bukan urusan maaf memaafkan!
Mungkin benar tudingan keras Sutan Takdir Alisyahbana ketika terlibat polemik
kebudayaan tahun 1930-an. Bahwa kita belum menjadi Indonesia. Indonesia yang
menghargai intelektualitas dan individualitas. Indonesia yang berkemajuan
sebagai Barat pasca renaisans dan pencerahan. Kita masih pra-Indonesia.
Indonesia yang anti-intelektualisme, di samping anti-anti lainnya seperti
individualisme. Sebuah bangsa yang terlampau cemas dengan Barat yang rasional,
lalu ingin kembali ke Timur yang serba melankolis dalam buaian tradisionalitas
yang terbelakang.
Jangan-jangan kita masih pra-Indonesia! Cobalah perlebar paradoks itu. Katanya
demokrasi, tapi masih memuja feodalisme dan paternalisme. Pemimpin dipilih bukan
karena kemampuan berdasarkan nalar rasional, tetapi atas dasar kepercayaan akan
kharisma dan darah-biru. Pemimpin tak berkemampuan bukan masalah, yang penting
ada garis kebangsawanan. Memilih pemimpin sekadar dari kesan luar, asal
tampangnya kelihatan tenang dan arif, tak peduli soal kemampuan dan kearifan
nyata. Pemimpin diam tentu tak banyak salah, maka kredit pointnya tinggi di
hadapan rakyat. Sedangkan pemimpin yang berbuat, pasti ada salahnya, lalu
dianggap tak mampu. Maka, pemimpin yang baik di negeri ini ialah Satria Piningit,
Ratu Adil, dan siapapun yang dianggap berwibawa secara bawaan.
Katanya ingin civil-society, tapi masih mengawetkan struktur paternalisme
yang membuat umat atau rakyat dibuat tak berdaya di hadapan pemimpinnya. Katanya
memperjuangkan demokrasi, tetapi sangat sensitif dengan kritik dan perubahan.
Katanya liberal, tetapi tak pernah berani menyentuh menara-gading tradisi yang
diawetkan. Itulah irrasionalitas yang lain, dan semua itu masih dibenarkan
dengan berbagai logika legitimasi. Masih banyak perilaku dan alam pikiran yang
pra-Indonesia di negeri ini, yang masih dibongkar, jika memang mau.
Levy-Bruhl, seorang pemikir Prancis menyebut perilaku pra-logis yang berbau
mitis, sebagai cermin dari primitive mentality, mentalitas primitif.
Mentalitas kekanak-kakanakan, mentalitas pra-akil-balig. Tentu kita akan protes
dengan predikat-predikat yang stereotipe semacam itu. Itu bias modernisme yang
memojokkan tradisionalisme! Itu produk alam pikiran positivisme!
Tapi, tunggu dulu. Kenyataan hidup kita sebagai bangsa memang masih banyak
kekanak-kakanakan, primitif, dan tidak rasional. Memang, orang bisa mencari
pembenaran pada kearifan tradisi, sehingga hal-hal yang disebut alam pikiran
magis, mitis, irrasional, dan supranatural bisa menjadi kerangkeng baru dalam
dunia modern yang fungsional. Lebih-lebih ketika kemoderenan melahirkan sisi
trauma, yang dicemaskan dan ditakutkan. Sehingga dengan mudah orang untuk
kembali merindukan dunia serba mitis, magis, klenik, dan supranatural.
Namun, tradisi kita pada kenyataannya juga banyak yang compang-camping, tak
membuahkan kearifan. Kita terpuruk di Sampit, Poso, Ambon-Maluku, kekerasan di
Jawa Timur menjelang SI MPR, hingga ke berbagai perang antar kampung. Kita tak
berdaya dengan gelombang narkoba, kekerasan, hingga ke korupsi. Rezim-rezim
kekuasaan di negeri ini juga sangat lekat dengan idiom- idiom tradisi, tetapi
tak membuahkan kearifan dalam mengelola kekuasaan, bahkan memunculkan perilaku
otoriter dan kediktatoran. Semua itu telah merobek keadaban dan kemanusiaan yang
otentik di tengah ninabobok kearifan tradisi. Mungkin kalaupun tersisa, kita
hanya masih bisa merawat tradisi dalam hal gotong royong ketika tujuh belasan,
itu pun sering tak fungsional untuk peduli pada nasib sesama.
Maka sangkar-besi tradisionalitas yang bersifat mitis itu sangat boleh jadi
telah saling mengawetkan dengan alam pikiran dan perilaku pra-Indonesia yang
tergopoh-gopoh . Indonesia yang membenarkan klenik, magis, paranormal, dan serba
irasional atas nama kearifan tradisi yang mengoyak anugerah nalar dan
objektivitas keilmuan. Celakanya, dunia pra-Indonesia itu bahkan dilanggengkan
dengan melibatkan idiom-idiom agama dan Tuhan, yang membuat orang sungkan untuk
bersikap kritis!
|
|
|
|
|