g

HOT NEWS


PALESTINA
Dedy Junaidi, Republika
Juli 2002

> Heboh Balita Hamas
> Syahidnya Calon Mempelai
> Motivasi di Balik Bom Syahid

> Suara dari Para Ulama
> Simpati Cherie Blair untuk Palestina

Heboh Balita Hamas

Awal Juni, Mahkamah Agung Palestina mengambil langkah berani dengan membebaskan Ahmed Saadat dari penjara Jericho yang selama ini dijaga oleh tentara AS dan Inggris. Sejumlah pihak melihat ini sebuah kejutan. Maka, bisik-bisik segera beredar bahwa tokoh garis keras itu akan masuk kabinet reformasi yang memang sedang disusun Yasser Arafat. Arafat konon sengaja ingin menggandeng Saadat untuk menarik simpati dari kelompok kritis dan militan Palestina.
Dengan menggandeng Ahmed Saadat, Arafat berharap bisa mengendalikan aktivitas kelompok garis keras yang kerap bersikap kritis terhadap kepemimpinannya. Kelompok ini pula yang disinyalir sebagai otak di balik aksi-aksi jihad, termasuk bom syahid, melawan arogansi Israel dan sekutunya.

Rupanya rencana itu mengusik Israel dan sekutu setianya: AS dan Inggris. PM Israel Ariel Sharon dan Presiden AS George W Bush tak bisa menutupi kekhawatiran mereka. Keduanya meminta Arafat untuk membatalkan rencana radikal itu. Sharon dan Bush juga menekan agar Arafat segera menghabisi kelompok-kelompok jihad yang mereka sebut sebagai teroris laten. "Kalau Arafat tak bisa melakukannya, sebaiknya ia mundur dari kepemimpinan Otoritas Palestina atau jangan lagi bermimpi ada negara Palestina," kata Bush seperti dikutip Aljazirah.

Tekanan senada juga datang dari Inggris. PM Tony Blair meminta agar Arafat tidak bermain api dengan kelompok jihad. Dia menyarankan agar reformasi kabinet Palestina memperhatikan 'Rencana Perdamaian Timur Tengah' --seperti disodorkan AS dan pemerintah Arab Saudi-- yang menempatkan Israel sebagai mitra dan tetangga baik, bukan sebagai musuh ideologi.

Nuansa ketegangan Palestina-AS-Israel dirasakan oleh Presiden Mesir Hosni Mubarak. Dari Cairo, dia minta agar Presiden Bush memberi kesempatan pada Arafat untuk menyusun kabinetnya sendiri. Mubarak juga mengimbau AS dan PBB bersikap realistis dan proporsional dalam menyusun skenario pembentukan satu negara Palestina yang merdeka.
Sementara perang diplomasi masih berlangsung, pasukan Israel telah mengambil langkah ofensif. Tank-tank mereka kembali dikerahkan ke Nablus dan Ramalalah. Ruang kerja Arafat kembali diblokade untuk kesekian kalinya. Para serdadu Israel kian gencar berpatroli dengan tank-tank di Jenin dan Bethlehem Selatan.

Di Ramallah, operasi razia dan jam malam pun diberlakukan Israel per 10 Juni. Langkah ini didukung Bush. Dia menyeru agar Otoritas Palestina segera dirombak secara radikal sebelum fase perundingan damai dimulai. Bush menegaskan dia tak bisa menjadwalkan waktu untuk pendirian Negara Palestina. Sebagai gantinya, dia menunjuk Menlu Colin Powell untuk membuat rancangan inisiatif perdamaian Israel-Palestina.
Tetapi, hanya sehari setelah Bush menyampaikan seruannya, sebuah bom meledak di sebuah jalan di kota Hebron, Tepi Barat. Tiga warga Israel cedera akibat ledakan itu, satu di antaranya terluka parah.
Israel kontan bereaksi dengan memperketat razia dan membuldoser sejumlah rumah milik warga Palestina. Aktivis Palestina membalasnya dengan aksi bom syahid dekat kantor polisi Israel. Hari berikutnya aksi serupa terjadi lagi di Yerusalem dan mengakibatkan 20 warga Israel tewas dan 40 lainnya terluka.
Seperti Israel, AS kembali reaktif. Melalui penasihat keamanan nasionalnya, Condoleeza Rice, Pemerintah Bush mengutuk Otoritas Palestina dengan menyebutnya sebagai agen korup dan bermain mata dengan teroris. Sharon sendiri sesumbar akan menduduki tanah-tanah Palestina di Tepi Barat dan menguasainya sampai aksi bom syahid tidak terjadi lagi.

Di bawah moncong senjata dan kepungan tank-tank Israel, Arafat 'terpaksa' mengutuk aksi jihad itu. Dia memohon agar warga Palestina tak lagi menyerang warga sipil Israel. "Aksi suicide bomber itu hanya akan membuat Israel kembali menduduki wilayah kita," kata Arafat kepada Al-Ahram.
Ariel Sharon, yang tengah bertamu ke George Bush di Washington, merespons seruan Arafat dengan pernyataan mengancam bahwa pasukannya akan menggelar aksi militer besar-besaran untuk menumpas Hamas dan simpatisannya. "Saya akan tetap menolak pendirian negara Palestina sampai aksi bom bunuh diri itu berhenti total," ucapnya.

Begitulah, sejak 20 Juni, serdadu Israel kian gencar melakukan razia dan jam malam di Ramallah dan kota-kota sekitar Tepi Barat dan Jalur Gaza. Tank-tank dan sniper mereka pun kerap menggempur siapa saja yang dinilai mencurigakan. Tak jarang aksi brutal ini salah sasaran. Pada 21 Juni, misalnya, pasukan patroli itu telah menewaskan lima warga sipil Israel, selain empat sipil Palestina di Jenin.
Sambil mengurung Ramallah, Jumat (28/6), serdadu Israel sibuk menyebar foto-foto eksklusif ke seluruh penjuru negara Israel serta kota-kota yang didudukinya di wilayah Tepi Barat, Palestina.

Kepada media Barat, mereka juga mengirim foto-foto yang diklaim sebagai calon pelaku aksi bom syahid --mereka menyebutnya dengan istilah bom bunuh diri. Satu di antaranya yang menghebohkan adalah foto seorang balita usia 18 bulan. Bocah itu tampak berseragam militer Palestina dengan ikat kepala khas Hamas. Lehernya berkalung 'tasbih' dengan manik-manik berupa tiruan peluru M-16. Sederet granat dan bahan peledak ikut memenuhi ikat pinggangnya.

Tidak jelas siapa identitas 'pejuang cilik' itu. Jangankan nama, alamat dan orangtuanya, sekadar menyebut wilayah distriknya pun aparat Israel tak berani memastikan. Mereka hanya mengklaim foto itu diperoleh dari hasil razia ke rumah-rumah penduduk sipil di Hebron, Selasa (25/6) malam.

Esoknya, koran-koran Israel memasang foto itu di halaman depan. Ha'aretz menulis foto itu menggambarkan betapa indoktrinasi jihad di Palestina telah merasuk sampai ke anak dan balita. Yedioth Ahronoth, koran terbesar di Israel, membuat headline 'Teror di Dalam Popok' (Terror in Diapers). Palestina, tulis koran itu, telah siaga mengorbankan remaja, anak-anak, bahkan balita mereka sebagai tumbal dalam aksi suicide bombers.

Seorang wartawan di Palestina, sebagaimana dikutip The Guardian, mengaku tidak yakin foto tersebut murni hasil razia. Bisa saja itu rekayasa untuk kepentingan propaganda menyudutkan Palestina di mata dunia.Belum seorang pun warga Palastina mengenali wajah bocah itu. Begitu juga kalangan aktivis Hamas maupun Brigade Al-Qosam. Aksi bom memang kian digandrungi oleh kaum muda Palestina.

Tapi, sulit dipercaya ada balita yang dipersiapkan atau sanggup mengemban misi seberat itu, "Hanya mereka yang punya kesadaran dan militansi tinggi yang tegar mengorbankan jiwa raganya untuk bangsa, negara, dan agamanya."Hanan Ashrawi, tokoh di Parlemen Palestina, juga meragukan orisinilitas foto tersebut. "Anak-anak muda Palestina memang gandrung dengan aksi bom syahid. Mereka juga senang berpakaian ala militer, plus macam-macam senjata mainan. Foto baby bomber itu hanya provokasi untuk menyudutkan kami."

Mengutip keterangan sumber-sumber Palestina, televisi Sky News di London, Inggris, melaporkan foto itu hanya sebagai mainan dan guyonan. It's just a joke. Tanpa harus melakukan razia terhadap aktivis Hamas, siapa pun bisa membuat foto seperti itu. Apa sulitnya? dedi junaedi (bersambung)

Syahidnya Calon Mempelai

Jumat itu dia bangun jauh lebih awal dari biasanya. Padahal, menurut ibunya, semalaman ia nyaris tidak tertidur. Sampai tengah malam dia masih membaca Alquran. "Tatkala saya terjaga, dia sedang asyik shalat malam. Dia baca ayat-ayat An-Nabaa sambil menangis!"

Usai Shubuh, Ayat Al-Akhras (16) --remaja shalihah itu-- kembali membaca Alquran. Ayat-ayat jihad dibacanya berulang-ulang dengan nada bergetar. Sesekali ia terhenti, menahan isak tangis. Menjelang pukul 06.00 waktu Palestina, dia menulis sesuatu di meja belajar. Sejurus kemudian Ayat sudah berseragam dan bergegas menuju dapur untuk menemui ibundanya.

Kepada Ny Al-Akhras, dia pamit hendak pergi ke sekolah. "Ada pelajaran dan tugas tambahan. Hari ini boleh jadi merupakan saat terpenting dalam hidup ini. Saya mohon doa restu Ibu," ucapnya dengan mata berbinar.
Ny Al-Akhras tercekat. Dia sedikit bingung, heran, dan kaget melihat tingkah putrinya. "Semoga Allah selalu melindungi dan merahmatimu, Anakku. Tapi, bukankah Jumat adalah hari libur?"

"Doa itulah yang nanda harap, Bu," jawabnya. Ayat tak lagi berkata-kata. Dia hanya tersenyum dikulum, cium tangan, kemudian memeluk erat sang ibu yang masih kebingungan. Dan, dengan tetap tersenyum, dia menarik tangan adiknya, Samaah (10). Mereka, tulis Muslimedia, pun sama-sama bergegas ke sekolah.

Beberapa jam kemudian, Jumat 22 Maret 2002 sekitar pukul 10 waktu setempat, Radio Israel memberitakan ledakan bom di supermarket Nataynya, dekat Yerusalem. Peristiwa ini menyebabkan tiga orang tewas dan lebih dari 40 orang luka-luka. Pelakunya diduga kuat seorang putri Palestina.

Jantung Ny Al-Akhras berdegup kencang menyimak kabar itu. "Jangan-jangan dia ..." bisiknya saat itu. Pirasatnya menguat manakala dia mendapatkan Samaah pulang sendirian sambil terisak-isak. Dia mengaku tak tahu persis ke mana sang kakak bergi. Ayat, kata dia, hanya berpesan, "Jangan cemas dan takut. Allah selalu bersama orang-orang beriman. Sampaikan salam buat semua, dan berdoalah. Mudah-mudahan Allah memberi pengampunan dan kemenangan!"

Tinggal di kamp pengungsian, Ny Al-Akhras mengaku sempat cemas dengan nasib anaknya. Batinnya bertanya-tanya, "Ke mana dia pergi? Apakah dia sudah mewujudkan impiannya untuk menjadi syahidah?" Pertanyaan lain terus bermunculan di benaknya. "Bagaimana dengan impiannya yang lain? Soal pinangan, rencana pernikahan, dan pakaian pengantin yang sudah dijahitnya sendiri? Bukankah dia juga bercita-cita untuk melahirkan anak-anak, kemudian membina mereka menjadi mujahid-mujahid tangguh?"

Sementara pikiran liarnya bertanya-tanya, kalbunya mendapat isyarat bahwa calon mempelai itu telah gugur dalam aksi bom syahid. Dan, begitu laporan resmi mengidentifikasi jenazah Ayat, Ny Al-Akhras hanya berkata, "Inna lillaahi wainna ilaihi raji'un. Semoga Allah mencatatnya sebagai shahidah. Mudah-mudahan dia juga bisa menjadi pengantin Palestina yang bisa melahirkan kehormatan dan kemerdekaan bagi umat dan bangsanya."
Jumat siang itu Ayat Al-Akhras pergi mengikuti jejak Issa Farah dan Saa'id, dua kerabatnya, yang gugur diterjang helikopter Israel.

Lahir 20 February 1985 di kamp Dheishes, Ayat adalah anak keempat dari 11 bersaudara. Dia punya tiga saudara laki-laki dan tujuh saudara perempuan. Di akhir hayatnya, dia tercatat sebagai siswa kelas tiga sekolah menengah atas.

Ayat, menurut ABC News, termasuk anak cerdas dan rajin belajar. Sampai saat-saat menjelang syahidnya, dia masih rajin menasihati teman-teman untuk terus belajar dan belajar. "Penguasan ilmu dan teknologi amat penting dan diperlukan untuk mendukung perjuangan kita, apa pun bentuknya."

Hayfaa, teman baiknya, berujar, "Dia selalu menasihati kami bahwa belajar harus tetap berjalan, meski rintangan dan bahaya mengancam di sekeliling kita."

Tentang jihad, Ayat selalu berkata, "Jihad itu kewajiban setiap Muslim. Termasuk wanita. Mengapa kita harus membiarkan nyawa kita terenggut sia-sia oleh kebiadaban zionis Israel." Kematian seorang mujahid, kata dia, akan membangkitkan keberanian mujahid-mujahid lain, bukan sebaliknya.
Hayfaa tak menyangka Ayat syahid secepat itu. Dalam hari-hari terakhirnya, dia rajin mengumpulkan foto-foto mujahid Palestina. Di meja belajarnya berjejer slogan-slogan jihad dan kepahlawanan. "Dia pergi untuk bergabung dengan barisan syuhada lainnya."

Ayat, menurut catatan Islamic Movement Crescent, kini tercatat sebagai syahidah kedua di Palestina atau yang keenam dalam barisan pelaku aksi bom syahid sepanjang tahun 2002. Syahidah pertama adalah Wafa Idris (27), janda kembang yang berporfesi sebagai paramedis di Ramallah. Dia gugur dalam aksi menjelang akhir Januari 2002 yang menimbulkan seorang Israel tewas dan melukai 100 orang lainnya.

Di Palestina, aksi bom syahid sendiri telah berlangsung setidaknya dalam 21 bulan terakhir dan melibatkan sedikitnya 250 mujahid, umumnya berusia di bawah 30 tahun.

Meski tahu bahwa syahidah adalah cita-cita tertinggi anaknya, Ny Al-Akhras tetap saja merasa kehilangan. Dengan mata berlinang, dia mengulang kata-kata sang anak ketika berdiskusi soal kewajiban jihad bagi setiap warga Muslim Palestina. "Apa nikmatnya hidup di dunia ketika kematian selalu mengintai kita. Mana yang lebih indah, mati dalam ketidakberdayaan dan kehinaan atau gugur di medan jihad."

Samaah, adik sekaligus teman terdekat Ayat, merasakan hal yang sama. Sambil menangis, dia berkisah tentang saat-saat akhir bersua dengan kakaknya. "Saya lihat cahaya di mukanya dan sebuah rona kebahagiaan tak pernah dilihat sebelumnya." Sambil memberi sepotong coklat manis, lanjutnya, Ayat berkata lirih, "Shalat dan doakan agar kakak sukses melaksanakan tugas suci ini."

"Tugas apa?" Samaah bertanya. "Hari ini kamu akan mendengar satu berita baik. Mungkin inilah hari terbaik dalam hidup saya. Inilah hari yang lama saya nantikan. Tolong sampaikan salam hormat saya kepada Akh Shaadi," tutur Ayat sambil memberikan secarik kertas.

Shaadi Abu Laan (20), calon suami Ayat, termangu beberapa saat ketika kabar itu sampai padanya. Dia nyaris tak percaya Ayat pergi begitu cepat mendahuluinya. Padahal Juli ini, jelas Shaadi, "Kami sudah berencana untuk resmi berumah tangga. Begitu Ayat lulus ujian, kami akan menempati rumah sederhana yang belum didekor." Mereka, tulis Azaalcity, sudah satu setengah tahun ber-khitbah (saling meminang). Keduanya bahkan telah menyiapkan nama 'Adiyy untuk bayi pertamanya.

Mereka bertekad mendidik si kecil sebaik-baiknya dengan harapan kelak menjadi seorang mujahid yang akan membebaskan Al-Aqsa dan Palestina dari pendudukan Israel.

"Allah ternyata punya rencana lain," ucap Shaadi kepada Islamicline. "Semoga kami bisa bertemu di syurga kelak, seperti harapan Ayat dalam surat terakhirnya. Saya tahu dia gadis berkepribadian kuat, tegar, dan cerdas. Dia mencintai negara dan agamanya lebih dari apa pun."

Setiap saat, lanjut Shaadi, Ayat memang selalu memimpikan operasi syahid. "Kami pun pernah bercita-cita untuk syahid bersama-sama. Ternyata Allah telah memilih dia duluan. Kalau ada kesempatan, saya akan menyusulnya segera. Semoga Allah mengabulkannya," ucap pemuda Palestina yang baru saja meraih gelar sarjana muda hukum ini.

Motivasi di Balik Bom Syahid

Mereka membuatnya dari bahan sederhana dan murah. Terdiri dari campuran pupuk (amoniak), gula, dan bubuk metal dengan kadar tertentu. Hasilnya berupa ramuan eksplosif yang dirakit dengan memakai paku, sekrup, dan sedikit kabel. Daya ledaknya amat bervariasi dan tidak stabil. Maklum, seluruh proses produksinya dijalankan diam-diam pada kamp-kamp pengungsi di sekitar wilayah Tepi Barat yang kerap dipatroli serdadu Israel.

Meski begitu, pihak keamanan Israel menyebut hasil rakitan itu sebagai ''bom cerdas'' (smart bombs). Alasannya, meski sederhana, bom-bom itu dioperasikan dengan sistem kendali manusia serta didukung oleh jaringan intel yang amat loyal dan terlatih. Manusia-manusia di belakang bom rakitan itu bekerja dengan militansi tinggi. Mereka hanya mencari ridha Allah dan berharap kelak masuk surga.

"Bom-bom itu sesungguhnya bekerja lebih akurat dari rudal-rudal canggih kami. Pengebom dapat beraksi di mana saja. Setiap saat Mereka bisa meledakkan restoran, markas polisi, pos keamanan, terminal, pusat belanja, atau apa saja,'' kata Mayjen Eival Gilady, kepala Perencanaan Strategi Militer (CSP) Israel kepada The Guardian. Yang lebih mengerikan, tambah Gilady, ''Suicide bombers itu tidak takut apa pun. Kematian malah dicari, bukan dihindari.''

Hasrat untuk melakukan aksi bom syahid di Palestina itu luar biasa. ''Ini fenomena sosial yang mencengangkan. Sulit dibayangkan, di zaman yang serba hedonis dan permisif ini masih ada kelompok manusia yang rela mati muda,'' ungkap Suzanne Goldenberg, wartawan The Guardian.

Di camp-camp Tepi Barat dan Jalur Gaza, Goldenberg menyaksikan betapa banyak orang muda Palestina gandrung terhadap aksi syahid. Dari hari ke hari, antrean di pos-pos jihad --Brigade Al-Qosam, Brigade Al-Aqso, Hamas, Al-Fatah, dan Hizbullah-- bertambah panjang. Mereka berlomba untuk mendapat prioritas pertama ketika aksi bom syahid direncanakan.

Sejak Syeikh Ahmad Yasin (66 tahun) --tokoh spiritual Hamas dan inspirator gerakan jihad yang masih ada-- merestui upaya Nabil Arir (24) meledakkan permukiman Israel di Kota Gaza, pada 26 Oktober 2000, sudah sekitar 250 pejuang Palestina terlibat dalam aksi seperti itu. Sebagian besar mereka adalah kaum muda. Bahkan, dalam 56 aksi terakhir, pelakunya berusia di bawah tiga puluh tahun. Tiga orang diantaranya adalah wanita: Wafa Idris (27), Ayat Al-Akhras (16) dan Dari Abu Aysheh (20).

Di luar itu, ribuan calon mujahid lainnya masih antre menunggu. Mereka terobsesi menyusul nama-nama syuhada beken seperti Syeikh Izzuddin Al-Qassam (ulama Suriah dan inspirator pertama gerakan jihad di Palestina), Dr Abdullah Azzam (pejuang Afghanistan dan Palestina serta guru spiritual Usamah bin Ladin), Abu Barra alias Muhandis Yahya Ayasy (ahli bom yang diberondong senapan mesin Israel pada 1994), Muhammad Sider (tokoh Islamic Jihad yang syahid Desember 2001), serta Raid Al-Karmi (pemimpin Brigade Al-Aqsho di Tulkarem yang syahid Januari 2002).

Para relawan itu juga mengagumi langkah aktivis muda seperti Abdul Bassith Odeh (23), Fuad Harami (20), Mahir Habashi (21), Izzadin Masri (23), dan Said Hasan Hutary (22). Di mata remaja, mereka adalah pionir mujahidin yang berani mengorbankan nyawa di sarang lawan.

Said Hasan Hutari (22), misalnya, adalah pelaku aksi bom syahid di Tel Aviv pada Jum'at (1/6). Aksinya menewaskan lebih dari 20 serdadu Israel yang tengah menikmati pantai Tel Aviv. Dalam wasiat --dipublikasi Islamonline beberapa hari setelah peristiwa-- dia menulis, ''Saya Al-faqir Ilallah. Sudah lama sekali saya merasakan kegalauan umat. Saya ingin membela bangsa dan kesucian Al-Aqsha.''

Lewat tulisan tangannya, Said Hutari mengajak saudaranya, kaum muslimin di seluruh dunia, bekerja sama menegakkan jihad untuk kemerdekaan Palestina dan menegakkan syariat Islam di bumi Allah mana pun. ''Saya persembahkan jiwa raga saya di jalan Allah.... Saya akan membalas jerit hati kalian, keperihan kalian, dan luka-luka yang kalian derita.... Saya akan jadikan tubuh saya sebuah bom yang membakar dan menghancurkan orang-orang Zionis itu .... Semoga ini dapat menjadikan kelegaan hati orang-orang beriman.''

Umar, ayah Said, bangga dengan kepahlawanan anaknya. Dia pun mengulang kembali apa yang pernah diwasiatkan tokoh karismatik Ikhwanul Muslimin Asy-Syahid Abdullah Azzam menjelang akhir hayatnya. ''Bila persiapan untuk mempertahankan diri itu disebut teroris, biarlah kami disebut teroris. Bila upaya merebut kemerdekaan itu disebut ekstremis, kami siap jadi ekstremis. Dan bila jihad fisabilillah memerangi musuh Islam disebut fundamentalis, maka kamilah fundamentalis itu.''

Menurut investigasi The Guardian, Brigade Al-Qosam --sayap militer Hamas-- merupakan pemasok relawan jihad terbesar di Palestina. Dalam 56 aksi bom syahid terakhir, kelompok ini memasok sekitar 20 kadernya. Urutan berikutnya adalah kelompok Brigade Al-Aqsho, Islamic Jihad, dan Popular Front for the Liberation of Palestine (PFLP). Masing masing menyumbang 14, 11, dan dua mujahid.

Brigade Al-Aqsho disebut-sebut merupakan sayap militer dari gerakan Fatah yang didukung Yasser Arafat. Salah satu aktivisnya adalah Darin Abu Ayshah, mahasiswi Universitas Al-Najah. Dia telah meledakkan diri di sebuah roadblock Israel di Tepi Barat, menjelang akhir Februari 2002. Dalam satu pesan yang disebarluaskan televisi Arab ANN, dia mengatakan bahwa ia sudah lebih dari satu setengah tahun menanti aksi syahid. "Biarkan Sharon mrnyaksikan bahwa wanita Palestina pun siap mengorbankan nyawa demi kemerdekaan serta kehormatan agama dan negara.''

Sebelum menjadi aktivis Islam di kampus dan ikut gerakan Al-Fatah, menurut Ibtissam (adik Darin), ia pernah menyatakan siap menjalankan aksi syahid kepada Gamal Mansour --aktivis Hamas yang terbunuh dalam operasi pendudukan militer AS di Tepi Barat, Agustus 2000.

Seperti mujahid lainnya, menurut Ny Abu Ayshah, kakak dari sembilan adik itu juga gemar mendirikan shalat malam dan tadarus Al-Quran. ''Dia juga rajin puasa Daud.'' Meski sempat sedih, Ibunda Darin rela kehilangan anak sulungnya. ''Demi perjuangan, kami ikhlas melepasnya,'' ujar dia seperti dikutip Muslimedia.

Begitulah. Keluarga para syuhada umumnya melihat serangan-serangan syahid itu sebagai berita yang melegakan. Mereka menilai aksi itu sebagai pembalasan atas kekejaman dan kesadisan Israel.

Abdul Karim Asthal, paman dari seorang syahid, berkomentar, ''Kami hanya melihat bahwa orang-orang Israel itu kini merasakan penderitaan dan rasa sakit seperti yang kami rasakan. Bedanya, korban di pihak mereka akan masuk neraka, sementera itu, kami, Insya Allah, akan memperoleh surga.''

Rami, aktivis gerakan Fatah, menyebutkan Israel telah membunuh Abu Hanud (ayahnya), menghancurkan rumah dan mengusir para penduduk, suka meneror dan membunuh warga sipil lainnya. ''Apakah kita akan terus memberi mereka bunga dan berdiam diri sampai mereka menghabisi kita?'' dedi junaedi (bersambung)

Suara dari Para Ulama

Setelah delapan bulan Brigade Al-Aqso memperkenalkan aksi bom syahid, suara miring mulai muncul dari ulama Kerajaan Arab Saudi. Ini berawal dari pernyataan mufti Saudi Sheikh Abdul Aziz Abdullah Al-Sheik, pada majalah Al-Sharq Al-Awsat yang terbit di London, 21 April 2001. Dia berpendapat bahwa aksi suicide bombers itu bukan bagian dari jihad. ''Saya khawatir ini termasuk kategori bunuh diri. Al-Quran memang mengizinkan serangan terhadap musuh-musuh Allah, tetapi itu harus dilakukan dengan tidak melanggar hukum syariah.''

Abdul Aziz juga mengatakan upaya ''meledakkan diri'' yang dilakukan para pemuda Palestina itu tidak menguntungkan citra Islam. Citra Islam di masa depan, kata dia, bisa terpuruk oleh langkah-langkah radikal yang belum tentu sesuai tuntunan syariah.

Gugatan mufti Saudi itu, tentu saja, mendapat reaksi keras dari berbagai pihak. Perdebatan pun muncul dan berlangsung tidak kalah panas dari konflik Palestina-Israel sendiri. Jurnal Inquiry and Analysis Series merekam diskusi soal legitimasi hukum bom syahid itu berlangsung setidaknya sampai tiga bulan, dari Mei sampai Juli 2001. Yang terlibat dalam polemik ini tak hanya ulama fikih, tetapi juga pakar politik, pengamat dunia Islam, serta kalangan pers. Diskusi antardispilin ilmu praktis terhenti ketika terjadi Tragedi 11 September di AS.

Pendapat Abdul Aziz dibantah oleh mufti Palestina di Jericho, Sheik Muhammad Isma'il Al-Jamal. Dalam fatwanya di harian Al-Hayat Al-Jadida, 27/4/01, dia menjelaskan ada perbedaan besar antara bunuh diri dengan aksi kesyahidan. Bunuh diri jelas dilarang, bahkan pelakunya diancam masuk neraka. Sedangkan aksi syahid justru diperintahkan.

Sekurang-kurangnya amat dianjurkan. ''Setiap muslim wajib mempertahankan kehormatan Islam dan umat muslim. Apa yang dilakukan para mujahid di Palestina adalah upaya memerdekakan diri dari penjajahan Israel.''

Syekh Hamed Al-Bitawi, ketua Asosiasi Sarjana Islam Palestina, berpendapat bahwa, menurut syariat, jihad awalnya memang merupakan fardu kifayah 'kewajiban kolektif' terhadap umat Islam. Tetapi, jika ada kekuatan kafir menjajah tanah muslim --seperti yang terjadi di Palestina dalam 45 tahun terakhir-- jihad telah berubah menjadi fardu ain 'kewajiban setiap individu' di wilayah itu. ''Oleh karena itu serangan atau bom syahid dapat dibenarkan syariah,'' tegas dia dalam Al-Hayat, 25/4/01.

Dr Abdul Aziz Al-Rantisi, salah satu pemimpin Hamas, sepakat dengan Syekh Al-Bitawi. Di media yang sama, dia menjelaskan bunuh diri biasanya dilakukan oleh orang putus asa yang ingin lari dari masalah. Sedangkan aksi syahid dilakukan dengan niat ingin menyelesaikan masalah, menghilangkan kezaliman. Al-Fidaii 'pengorbanan nyawa' dilakukan dengan harapan mendapat ridha dan rahmat Allah. ''Kami tak ragu sedikit pun meneruskan aksi jihad ini sampai Israel hengkang dari wilayah Palestina.''

Bitawi dan Rantisi mengakui pendapatnya juga selaras dengan fatwa Syekh Yussuf Al-Qardhawi, ulama besar dan tokoh gerakan Ikhwanul Muslimin. Di
Al-Raya, 25 April 2001, terbitan Qatar, Al-Qardhawi berfatwa, "Apa yang dilakukan pejuang Palestina adalah satu bentuk jihad yang agung dalam kerangka menjalankan perintah Allah. Bom syahid dibenarkan oleh syariah.''

Langkah ini, tambah Qardhawi, sejalan dengan firman Allah dalam Al-Quran. ''Siapkanlah segala kekuatan yang dapat menggentarkan musuh-musuhmu dan musuh-musuh Allah.'' (Al-Anfal:60). Istilah bunuh diri tidak tepat dipakai karena yang dilakukan adalah operasi jihad dengan kadar kepahlawanan yang luar biasa agung.

Sekitar pertengahan Juni 2002, dalam acara Syariat wal Hayat di Aljazirah, Qardhawi menyatakan tak sependapat dengan orang yang mengecam aksi itu karena alasan korbannya warga sipil. ''Serangan itu tidak ditujukan ke rakyat sipil. Masyarakat Israel adalah masyarakat militer, termasuk seluruh laki-laki dan wanitanya, semuanya adalah militer Israel. Semua pekerja, pegawai, dan karyawan di Israel adalah tentara. Israel adalah masyarakat militer dan militer masyarakat,'' urai Qaradhawi.

Ketika seorang pejuang meledakkan diri di tempat ramai, di mana berkumpul tentara dan rakyat Israel, kata Qardhawi, ''pada dasarnya mereka berupaya menyerang tentara militer Israel. Bisa saja seorang anak ikut menjadi korban dalam aksi ini, tetapi itu adalah konsekuensi perang. Wilayah Israel adalah daerah jajahan yang menjadi medan perang.''

Qardhawi mengingatkan sirah perang Bani Nadhir, ketika Rasulullah saw membakar sebuah kebun korma. Kala itu, seseorang bertanya, ''Ya Rasulullah, selama ini engkau memerintahkan kami untuk tidak melakukan perusakan, tetapi mengapa engkau sekarang melakukan perusakan?'' Saat itu turunlah surat Al-Hasyr: 5, ''Apa saja yang kamu tebang dari pohon kurma [milik orang-orang kafir] atau yang kamu biarkan [tumbuh] berdiri di atas pokoknya, maka [semua itu] adalah dengan izin Allah dan karena Dia hendak memberikan kehinaan kepada orang-orang fasik.''

Ketika ada kekuatan zalim yang melakukan apa saja untuk menumpas muslim, jelas ulama Qatar asal Mesir itu, yang terjadi adalah darurat perang. ''Kita harus melawan dengan segala yang kita mampu. Saya menaruh hormat pada mereka yang berani menghadapi Yahudi, yang memiliki rudal dan nuklir?''

Qardhawi mempertanyakan mengapa penolak aksi syahid itu diam ketika AS membombardir Afghanistan dan menewaskan sekian banyak anak-anak, wanita dan orang tua yang tak berdosa? Mengapa ketika pemuda Palestina berusaha membela kehormatan negerinya dipersoalkan?

Serangan ke Afghanistan itu dilakukan hanya karena dugaan di sana ada teroris. ''AS tidak mempertahankan tanah airnya, sebagaimana pejuang Palestina yang memperjuangkan kemerdekaan. Antara tanah air bangsa AS dengan Afghanistan itu ribuan mil jaraknya. Tapi, AS di sana membunuh warga sipil, rakyat yang tidak bersalah, menghancurkan kehidupan, dan fondasi kehidupan rakyat.''

Kekhawatiran aksi bom syahid akan memperburuk citra Islam di masa depan, juga dijawab Qardhawi. Masa depan tidak bergantung fatwa ulama yang mencoba lari dari sumber dasarnya, melainkan kepada kesadaran umatnya, terutama generasi mudanya. Dia heran kepada ulama yang bisa mengecam aksi jihad, tetapi berdiam diri terhadap ''label teroris'' yang diberikan AS kepada dunia Islam. ''Pendapat itu hanya mungkin lahir dari pesanan rezim atau kepentingan politik pihak-pihak yang tak suka syariat Islam ditegakkan.''

Syekh Al-Azhar Muhammad Sayyed Tantawi, yang memegang otoritas ulama suni di Mesir, ikut berkomentar. ''Operasi bom syahid itu bagian dari jihad mempertahankan diri. Itu boleh sepanjang tujuannya adalah untuk membunuh tentara musuh, bukan anak-anak atau wanita,'' tutur dia dalam Sut Al-Ama yang kemudian dikutip Al-Hayat, 27/4/01.

Pendapat Tantawi menarik untuk disimak. Sebelumnya, pada 1998, dia pernah berkata bahwa setiap peledakan yang menyebabkan kematian anak-anak dan wanita tak berdosa adalah tindak kriminal. Pernyataan ini disampaikan Syekh Tantawi kepada Al-Quds, 17 Agustus 1998 ketika mengomentari peledakan Kedubes AS di Kenya dan Tanzania.

Syekh Taufiq Al-Shawi, guru besar Hukum Islam Al-Azhar, berpendapat lebih tegas dari Tantawi. Dalam konteks membela agama dan untuk kemerdekaan sebuah negara, serangan bom syahid itu dapat diterima syariah. Dia menegaskan setiap muslim Palestina dan Arab berhak mengorbankan jiwa-raganya dengan menyerang jantung Israel. ''Kematian yang terhormat lebih baik daripada hidup dalam kehinaan dan menjadi budak musuh,'' tegas Al-Shawi.

Simpati Cherie Blair untuk Palestina

Lebih dari 30 tahun warga Palestina hidup seperti budak di negeri sendiri. Sementara itu, jalan damai dengan Israel tidak menunjukkan perbaikan apa pun.

Lalu lintas di Yerusalem pagi itu sedang memadat ketika bom menyalak di sebuah halte bus. Ledakan dahsyat itu menewaskan 20 orang dan melukai sekitar 50 orang lainnya. Hasil identifikasi terhadap korban tewas menunjukkan 19 warga Israel dan seorang warga Palestina bernama Muhammad Al-Ghaul (22 tahun).

Presiden Israel Ariel Sharon geram menyaksikan peristiwa itu. Secara refleks dia mengancam, ''Israel akan menduduki kembali tanah-tanah di Tepi Barat dan melakukan pembalasan atas aksi suicide bomber itu.''

Presiden George W Bush di Washington ikut bereaksi. Dia memutuskan untuk menunda pengumuman prakarsa damai dan rencana pembentukan negara Palestina hingga waktu yang tidak ditentukan.

Dari London, PM Inggris Tony Blair untuk kesekian kalinya mengutuk keras aksi bom syahid pemuda Palestina pada Selasa 18 Juni 2002 itu.

Tetapi di luar dugaan, Cherie Blair --istri PM Inggris-- menyatakan dirinya bisa memahami peristiwa itu. ''Aksi bom bunuh diri itu terjadi karena orang-orang muda di Palestina tak punya harapan lagi terhadap masa depan mereka. Mereka berani meledakkan diri karena frustrasi melihat jalan damai tak pernah maju.'' Di mata mereka, krompromi diplomatik sudah tidak bisa diharapkan lagi.

Pernyataan simpatik itu, menurut London Evening Standard, meluncur dari mulut Ibu Negara Inggris pada peluncuran London Charity Appeal for Medical Aid for Palestinians. Pada Malam Amal Peduli Palestina itu Ny Blair hadir bersama Ratu Rania dari Yordania dan Dubes Arab Saudi untuk Inggris Ghazi Al-Qusaibi.

Politikus di Inggris hampir serentak bereaksi. Michael Ancram --anggota parlemen yang dijuluki Menlu Bayangan-- menilai ucapan Ny Blair tidak produktif dan bahkan cenderung provokatif. ''Ini bisa menjadi pemicu semangat para mujahid muda Palestian,'' kata dia. Leftwinger Bob Marshall-Andrews, juga anggota parlemen, berkomentar, ''Pernyataan itu bisa menjadi blunder diplomasi. Di satu sisi, Tony Blair gemar mengutuk terorisme. Di sisi lain, istrinya malah bersimpati pada aksi-aksi itu.''

Kecaman dan kritikan tajam juga mengalir dari mulut beberapa tokoh lainnya. Dubes Israel di London dan Menhan Binyamin Ben-Eleizer berpendapat bahwa pernyataan Ny Blair tidak pada tempatnya. ''Itu akan menjadi bahan bakar bagi orang-orang muda di Palestina yang terobsesi imbalan syurga,'' kata Ben-Eleizer kepada Ha'aretz.

Sejumlah jurnalis Eropa ikut mencecar habis PM Tony Blair yang sedang berkunjung ke Spanyol untuk menghadiri pertemuan KTT Eropa. Melihat gelagat ini, Menlu Inggris Jack Straw segera mengambil inisiatif. Sehari setelah Ny Blair ''bernyanyi'', dia menggelar konferensi pers khusus.

Mengawali penjelasannya, Straw mengatakan apa yang diucapkan Ny Blair tidak persis seperti laporan London Evening Standard. ''Ada konteks yang hilang dalam pemberitaan itu.'' Dia berargumen, ''ketika orang muda pergi menjemput kematiannya, kita semua tentu merasa kasihan pada mereka. Apalagi, Mereka melakukan itu dalam kondisi depresi atau salah asuhan.'' Dalam kesempatan itu juga, menurut BBCNews, Menlu Inggris mengumumkan bahwa Ny Blair sudah meminta maaf bila ungkapannya telah menyinggung banyak orang di Inggris dan Israel.

Seakan memperkuat ''permintaan maaf'' istrinya, Tony Blair kembali menegaskan kutukannya terhadap aksi bom syahid. ''Terorisme tak akan mendapat tempat sampai kapan pun. Siapa pun akan menolaknya.'' Tetapi, lanjut dia, tak seorang pun bisa mengendalikan penuh apa yang dirasakan hatinya.

Michael White, editor politik The Guardian, dalam analisisnya mengatakan, Cherie Blair telah dipaksa untuk minta maaf. Dia telah menjadi salah satu korban kebebasan media saat ini. ''Apa yang diucapkan Cherie sebenarnya adalah kejujuran nurani. Dia bersikap seperti seorang ibu yang mencoba berempati pada masa depan sekelompok remaja di Palestina.''

Apa yang diungkapkan Cherie Blair sebetulnya paralel dengan analisis Menhan Israel sendiri. Ben-Eleizer pernah mengunjungi dua pemuda Palestina di penjara. Berdasarkan hasil interogasi terhadap mereka, dia menyimpulkan bahwa langkah mencari maut itu dilakukan lebih karena putus asa. ''Aksi militer Israel telah membuat mereka merasa tak ada lagi harapan hidup di dunia. Melalui kematian, mereka berharap mendapat kehidupan yang lebih baik. Mereka diiming-iming dengan syurga, yang di dalamnya penuh bidadari dan aneka kenikmatan lainnya,''jelas Eliezer pada Ha'aretz.

Ungkapan simpatik terhadap aksi Muhammad Al-Ghaul juga datang dari Dubes Saudi Ghazi Al-Qusaibi. Setelah bulan lalu menulis sebuah puisi untuk kesyahidan Ayat Al-Akhras, kini Al-Qusaibi menyampaikan ucapan takziah untuk mahasiswa Universitas An-Najah itu. ''Semoga Allah mencatatnya sebagai syahid, semoga dia mendapat tempat yang layak sesuai derajat kepahlawannya.'' Al-Qusaibi, seperti dilansir Al-Hayat, menambahkan, ''jika umur dan kesempatan ada, saya juga ingin mati syahid.''

Edna Yaghi, pengamat Timur Tengah asal Amerika, berpendapat apa yang dilakukan para mujahid Palestina itu bukan datang dari keputusasaan, melainkan muncul dari dua harapan. Pertama, untuk memperjuangkan kemerdekaan dan perbaikan kehidupan dari masyarakat, bangsa, dan negaranya. Kedua, keinginan untuk mendapatkan pahala kesyahidan.

Penilaian senada disampaikan wartawan India, MJ Akbar. ''Aksi syahid itu dilakukan bukan karena cinta kematian atau keputusasaan, tetapi sebenarnya merupakan perjuangan untuk mempertahankan hidup Palestina ke depan. Membunuh atau dibunuh sudah menjadi pilihan di wilayah pendudukan Israel itu,'' ujar penulis The Shade Of Swords, Routledge itu.

Menurut Dr Eyad Sarraj, psikolog dan aktivis kemanusian di Palestina, militansi para mujahid muda itu tidak tumbuh instan. Hal itu lahir akibat penderitaan yang panjang sejak 1948, ketika Israel pertama kali mendirikan negara di wilayah mereka. ''Benihnya tersemai ketika Israel menginvasi mesir 1967. Dalam enam hari Arab dikalahkan. Palestina waktu itu kehilangan Gaza dan Tepi Barat, Mesir kehilangan Sinai, Suriah kehilangan Golan.''

Kegetiran terus berkembang ketika lebih dari 30 tahun hidup dalam ''neraka'' pendudukan Israel. Di wilayah pendudukan, jelas Eyad Sarraj, setiap warga diberi nomor identitas dan ijin untuk tinggal. ''Jika ke luar negeri lebih dari 3 tahun, hak domisili mereka di tanah air sendiri hangus. Ketika warga meninggalkan negerinya untuk satu perjalanan, dia diberi kartu pas, dokumen perjalanan, yang hanya berlaku satu tahun dan itu merekam segala aktivitasnya.''
''Untuk bertahan hidup, di kampung sendiri, warga Palestina harus menjadi 'budak' Israel,'' tambah Sarraj. Mereka harus membangun rumah orang-orang Israel, membersihkan halaman, menyapu jalan, membersihkan got, dan sejumlah pekerjaan kasar lainnya.

Dengan latar kondisi seperti itulah, pemimpin spiritual Iran Ayatullah Sayyid Ali Khamenei, pada 'Konferensi Islam untuk Palestina Juni 2002', berpesan, ''Kini, pemerintahan dan rakyat muslim sedunia, utamanya dunia Arab, punya tanggung jawab besar untuk masa depan Palestina. Menjadi kewajiban bagi setiap muslim, para ulama, sarjana, politikus, akademisi, dan kaum intelektual muslim untuk memobilisasi dukungan materiil dan moral untuk mendukung panggilan jihad di Palestina. dedi junaedi(habis)

 


^ KE ATAS


Halaman Muka | Kesehatan | Rohani | Perpustakaan PMILA |  Keluarga | Info Wajib Lapor | Iptek | Serba Serbi LA | Tips and Tricks | Warta Indonesia | Perwakilan Indonesia | Lembar Anggota | Tentang Kami | Kontak Kami

© Copyright 2002-2004, PMILA. All Rights Reserved.