g

SOROTAN

Kumpulan Sorotan
Negara Kuli
Oleh : Anif Punto Utomo

Sepertiga dari sekitar 570 ribu pekerja Indonesia di Malaysia sedang resah. Persoalannya, mereka, para pendatang gelap yang bekerja sebagai buruh di negeri jiran itu harus segera pulang ke tanah air paling lambat pada 31 Juli. Kalau tidak, hukuman pukulan tongkat dan denda Rp 24 juta menunggunya.

Saat ini diperkirakan lebih dari dua juta orang Indonesia (tenaga kerja Indonesia/TKI) mencari sesuap nasi di luar negeri. Tujuan utamanya: Malaysia, Singapura, Hongkong, Taiwan, Korea, Jepang, dan Arab Saudi. Bidang pekerjaan mereka bisa dikatakan 99 persen adalah buruh, dan sebagai pembantu rumah tangga (PRT).

Di Malaysia, sebagian besar TKI bekerja di perkebunan dan sektor konstruksi. Di Singapura, Taiwan, dan Hongkong, orang Indonesia yang sebagian besar wanita itu lebih banyak menjadi PRT. Di Arab Saudi mayoritas juga menjadi PRT, sebagian kecil pada bidang medis. Di Jepang dan Korea, mereka bekerja di pabrik-pabrik kecil.

Total devisa yang bisa diperoleh dari mereka, menurut menakertrans, sekitar 2,4 miliar dolar AS setahun. Cukup besar untuk menambah kocek devisa nasional. Tetapi, jika dilihat dari jumlah tenaga kerjanya, tentu sangat tidak seimbang dengan orang asing yang bekerja di Indonesia yang jumlahnya diperkirakan 30 ribu orang, tetapi menghabiskan devisa dua kali lebih besar.

Mengapa? Karena yang kita kirim adalah para pekerja yang mengandalkan kekuatan fisik. Dalam kamus besar bahasa Indonesia, orang yang bekerja mengandalkan fisik dinamakan kuli. Tanpa mengurangi rasa hormat pada keberanian para TKI merantau, sehingga mampu menyumbang devisa, kita tetap prihatin bahwa martabat bangsa kita ikut runtuh.

Jalan-jalanlah ke negara yang menjadi tujuan TKI tersebut di atas, terutama Malaysia. Ketika mereka tahu bahwa Anda orang Indonesia, maka Anda akan mendapat sambutan yang nadanya merendahkan. Meremehkan. Kalaupun kita punya keterampilan tinggi, mereka pasti akan meragukan apa yang kita miliki. Rupanya kita sudah telanjur dicap sebagai bangsa kuli.

Tetapi, barangkali masih mending jika menjadi kuli di negara lain. Lantaran, kalau tidak hati-hati, kita pun akan terperangkap menjadi kuli di negeri sendiri. Artinya, kita akan bekerja di Indonesia, tetapi juragannya adalah orang asing. Mereka mengeduk kekayaan Indonesia untuk diambil ke negaranya. Dan kita pun membantu mengeduk kekayaaan itu.

Lihat saja, bagaimana aset perusahaan swasta dan BUMN yang dikuasai negara diobral kepada perusahaan asing. Ingat kasus Cemex yang mengambil alih Semen Gresik, atau pun Perkumpulan Guthrie Berhad dari Malaysia yang membeli jutaan hektare kebun kelapa sawit. Belum lagi BCA yang jatuh ke tangan asing juga. Masih banyak lagi contoh.

Masalahnya, apakah pemimpin kita sadar bahwa kita sudah menyandang predikat sebagai bangsa kuli? Tampaknya tidak.

Bahkan, para pemimpin kita pun berpikiran bak kuli. Sebagaimana kuli, mereka bekerja untuk kepentingan sesaat, jangka pendek, tanpa visi. Pernahkah Anda dengar para pemimpin mengajukan visinya, mau dibawa ke mana negeri berpenduduk 225 juta ini? Mereka hanya sibuk mempertahankan kekuasaan dan memupuk harta.

Lantas kita pun menjadi teringat pidato Bung Karno pada 17 Agustus 1963 yang intinya adalah bahwa jika Indonesia tidak hati-hati, maka negara yang gemah ripah loh jinawi ini akan tetap menjadi negara kuli. Een natie van koelies, en een kolie onder de naties 'negara kuli dan menjadi kuli bangsa lain'.

Jika kondisi kita tetap seperti sekarang, dengan para pemimpin yang tidak memikirkan rakyat, dengan pemimpin yang tidak mempunyai visi, dengan pemimpin yang hanya bisa menyalahkan orang lain tanpa bisa becermin diri, maka kekhawatiran Bunga Karno itu pun akan terjadi. Kita total menjadi negara kuli.


^ KE ATAS


Halaman Muka | Kesehatan | Rohani | Perpustakaan PMILA |  Keluarga | Info Wajib Lapor | Iptek | Serba Serbi LA | Tips and Tricks | Warta Indonesia | Perwakilan Indonesia | Lembar Anggota | Tentang Kami | Kontak Kami

© Copyright 2002-2004, PMILA. All Rights Reserved.