g

SOROTAN

Kumpulan Sorotan
Bung Hatta
Oleh : Didik Rachbini

Pada bulan ini kita memperingati 100 tahun Mohammad Hatta. Dia bukan saja seorang negarawan, tetapi juga seorang intelektual, ekonom, dan penulis yang sangat produktif. Tulisan-tulisannya tersebar dalam berbagai media dan surat khabar. Meskipun pendidikan formalnya sebagai ekonom, tetapi Hatta juga banyak menulis tentang masalah politik dan sosial budaya, termasuk soal intelektual. Tulisan-tulisannya tentang ekonomi lebih banyak menyoroti masalah ekonomi atau politik pembangunan ekonomi.

Mohammad Hatta mengulas masalah ekonomi politik dengan basis teoretis yang mendalam dan dengan pemahaman yang cukup detail. Bahkan pemikirannya masuk ke dalam isu perdebatan ideologi besar dunia dan setara dengan dialektika pada tingkat internasional pada waktu itu. Banyak hal yang dipertanyakan. Ia mengkritik kelemahan-kelemahan teori, yang menjadi dasar liberalisme ekonomi dan prinsip-prinsip Kapitalisme.

Menurut Mohammad Hatta, kaum ekonom klasik dalam teorinya telah membuat kesalahan karena terlalu percaya pada natural price dimana keseimbangan harga akan langsung menciptakan keseimbangan ekonomi, yang berujung pada kemakmuran masyarakat. Ekonomi semata-mata digerakkan oleh tangan gaib, yang kemudian memberikan kesempatan kepada pelaku ekonomi untuk berpartisipasi dalam produksi maupun konsumsi.

Selanjutnya, Mohammad Hatta juga menyatakan bahwa kaum neoklasik melanjutkan pemikiran kaum klasik dan hanya memperhalus prinsip dasar pemikiran kaum klasik. Tetapi, mazhab pemikiran baru ini dikritik oleh Mohammad Hatta karena tetap tidak dapat melepaskan diri dari kesalahan yang dibuat oleh kaum klasik.

Pemikiran Mohammad Hatta bertolak belakang dengan kedua mazhab pemikiran tersebut. Pasar yang liberal dan sistem Kapitalisme dianggap telah menciptakan kesengsaraan masyarakat luas karena peluang ekonomi dalam sistem ini hanya dinikmati golongan kecil elite. Sementara itu, golongan masyarakat banyak diabaikan atau menurut istilah Hatta "ditindasinya".

Kapitalisme juga dianggap menyengsarakan masyarakat negara sedang berkembang. Praktik Kolonialisme yang merebak di berbagai belahan bumi telah membawa kenistaan terhadap negara timur. Kenyataan inilah yang membuat Hatta menoleh pada sistem Sosialisme Religius, bukan Sosialisme Komunisme.

Pikiran Hatta terasa hidup kembali ketika kita menyaksikan Kapitalisme modal telah menggulung ekonomi negara sedang berkembang, seperti Indonesia. Ekonomi yang dipuji selama tidak kurang dari satu dekade sebagai model Kapitalisme dunia ketika hancur hanya dalam hitungan bulan. Kehancuran ekonomi karena spekulasi dan pelarian modal Indonesia menggiring krisis ekonomi bergulir ke bidang-bidang lainnya.

Pemikiran kedua aliran klasik dan neo-klasik menjadi dasar dari teori dan ideologi kelompok arus utama. Teknokrat Indonesia kemudian melakukan over-simplifikasi terhadap pemikiran klasik dan neoklasik tersebut untuk ditetapkan sebagai basis teori dari politik ekonomi Indonesia.

Realitas teoretis tentang mekanisme pasar dan pembentukan harga atas dasar permintaan dan penawaran tidak disangkal sebagai teori yang absah untuk menjelaskan fenomena ekonomi dan transaksi pada tingkat mikro. Tetapi, Hatta menilai bahwa teori ini tidak bisa secara sederhana diusung sebagai ideologi pembangunan ekonomi tanpa melihat kenyataan akan pentingnya norma sosial masyarakat, institusi negara, dan faktor-faktor nonekonomi lainnya.

Praktik menyederhanakan teori klasik ini dilakukan oleh kaum teknokrat, yang menerapkan liberalisme ekonomi Indonesia pada tingkat yang cukup ekstrem. Kepercayaan kepada pasar, tanpa melihat institusi lainnya menyebabkan banyak dampak negatif dari pembangunan ekonomi di bawah rancangan teknokrat Indonesia. Hal itu terutama terlihat pada tingkat kesenjangan ekonomi yang begitu lebar antar lapisan masyarakat, antar sektor ekonomi, dan antar wilayah pusat dengan daerah.

Ketahanan struktur ekonomi yang pincang dari rancangan teknokrat ekonomi seperti ini sangat rentan. Sudah banyak yang menyampaikan kritik terhadap politik ekonomi liberal ini, tetapi semua itu diabaikan. Baru pada awal dan pertengahan 1990-an kritik tersebut didengarkan oleh Presiden Soeharto ketika itu dengan cara memanggil menteri-menterinya dan konglomerat besar untuk memberikan saham kepada koperasi. Tetapi dampak kesenjangan sudah sangat lebar dan kesadaran presiden sudah sangat terlambat karena di tangan konglomerat tersebut sudah berakumulasi modal sedemikian besar. Sementara itu, lapisan masyarakat bawah menikmati hasil pembangunan ekonomi dalam jumlah yang sangat terbatas, meskipun data-data formal menyatakan adanya pengurangan jumlah penduduk miskin.

Dengan ketahanan ekonomi yang rentan itu, maka krisis finansial tahun 1997 dengan mudah memorakporandakan ekonomi nasional. Krisis Indonesia tidak berbeda dengan krisis Thailand dan Malaysia pada awalnya. Tetapi, dampaknya sangat berbeda nyata karena krisis keuangan terus menular menjadi krisis sosial dan politik yang memprihatinkan. Rancangan ekonomi yang liberal dan KKN di lingkaran kekuasaan telah ditengarai sebagai pemicu krisis dan ketahanan ekonomi yang rentan tersebut.

Jadi, sistem ekonomi nasional yang rentan sekarang ini tidak dapat dilepaskan dari kaum teknokrat Orde Baru, yang merancang sistem ekonomi dengan wajah begitu liberal. Ekonomi pasar dibangun dengan tidak memperkuat institusi sosial politik, hukum dan sebagainya. Hasilnya: sistem ekonomi Indonesia pincang, kesenjangan sosial sangat tinggi, struktur ekonomi rapuh dan terjungkal karena krisis. Hal ini tidak dapat dilepaskan dari rancangan ekonom dengan ideologi mainstream.



^ KE ATAS


Halaman Muka | Kesehatan | Rohani | Perpustakaan PMILA |  Keluarga | Info Wajib Lapor | Iptek | Serba Serbi LA | Tips and Tricks | Warta Indonesia | Perwakilan Indonesia | Lembar Anggota | Tentang Kami | Kontak Kami

© Copyright 2002-2004, PMILA. All Rights Reserved.