|
|
|
|
|
|
|
g
|
|
SOROTAN
|
Kumpulan Sorotan
|
RAPBN 2003
Oleh : Didik Rachbini
Presiden Megawati Soekarnoputri
telah menyampaikan pidato di depan rapat paripurna DPR pada 16 Agustus lalu.
Dalam pidato itu presiden telah menyampaikan Rancangan Anggaran Pendapatan dan
Belanja negara (RAPBN). Ada beberapa hal yang ingin saya soroti dari RAPBN itu.
Pertama, RAPBN 2003 bersifat sangat kontraktif. Dana yang dikuras dari
masyarakat dan sistem ekonomi (leakage) sekitar Rp 239 triliun. Sedangkan
dana yang dikucurkan kembali ke dalam masyarakat (injection) hanya Rp 157
triliun. Dengan demikian, ada penarikan dana yang bersifat kontraksi sebesar Rp
82 triliun.
Rencana APBN 2003 ini bukan hanya tidak bisa menjadi stimulus bagi pertumbuhan
ekonomi, tetapi juga banyak menyedot sumber daya keuangan dari masyarakat.
Masalahnya tidak lain karena pembayaran untuk bunga utang dan pokok utang sangat
besar, yakni di atas Rp 100 triliun.
Kedua, anggaran pembangunan sangat kecil sehingga tidak banyak memberi perbaikan
pada investasi publik. Kontras dengan jumlah pembayaran utang tersebut, semangat
dan filosofi RAPBN itu tidak berpihak kepada rakyat. Pemerintah ingin gampang,
tetapi rakyat ditekan dengan anggaran yang defisit itu.
Ketiga, asumsi dan cara pendekatan bersifat kontradiktif. Pertumbuhan ekonomi
diharapkan mencapai lima persen atau bahkan lebih sesuai semangat RAPBN ini. Itu
berarti diharapkan akan ada pertumbuhan hampir dua kali lipat dibandingkan
pertumbuhan tahun ini atau setidaknya pertumbuhan dalam dua kuartal ini.
Tetapi, sifat anggaran yang sangat kontraktif ini kontradiktif dengan keinginan
untuk memacu pertumbuhan ekonomi lebih tinggi lagi. Tingkat bunga Sertifikat
Bank Indonesia (SBI) dipatok untuk mencapai 13 persen. Angka ini masih relatif
tinggi, terutama dikaitkan dengan suku bunga pinjaman yang terbentuk kemudian.
Dengan spread enam persen, maka suku bunga pinjaman bisa mencapai 18
persen sampai 20 persen. Itu berarti bahwa biaya modal masih relatif tinggi dan
tidak akan memicu investasi dalam negeri.
Keempat, pemerintah tidak mengagendakan terobosan nonkonvensional sehingga
anggaran berjalan sebagaimana biasanya. Tidak akan ada penyelesaian fundamental
dari utang publik, baik utang luar negeri maupun utang dalam negeri yang asalnya
diwariskan dari swasta. Karena itu, RAPBN 2003 ini hanya menjadi wahana kreditor
dan swasta untuk menguras pajak masyarakat yang berhasil dihimpun di RAPBN ini.
Kelima, asumsi inflasi terlalu berani. Ini bersifat kontraditif dengan
pengurangan subsidi bahan bakar minyak (BBM) yang potensial menstimulasi inflasi.
Barang yang dikendalikan pemerintah potensial sebagai faktor penyebab inflasi (inflatoar).
Keenam, sasaran pertumbuhan ekonomi sangat muluk, yakni lima persen. Memang,
potensi pertumbuhan bisa mencapai angka tersebut, tetapi harapan ini
kontradiktif dengan kontraksi anggaran, yang bersifat sangat kontraktif tersebut.
Ketujuh, kinerja pemerintah dalam beberapa kuartal terakhir ini masih rendah.
Itu berarti bahwa harapan-harapan yang tercantum di RAPBN bisa hanya menjadi
daftar keinginan jika tidak diikuti oleh usaha kolektif dari pemerintah.
Sasaran-sasaran yang ditulis bisa meleset karena kontradiksi dengan kinerja
pemerintah selama ini, termasuk kapasitas dan team work-nya.
|
|
|
|
|