g

SOROTAN

Kumpulan Sorotan
Sensasi Lampu Merah
Oleh : Ade Armando

Kalau saat ini semakin banyak pihak yang meragukan makna kemerdekaan pers, tolonglah dimengerti. Soalnya, komunitas pers tak kunjung bisa meyakinkan publik bahwa kemerdekaan yang dinikmatinya sekarang memang ditujukan pada kemaslahatan bersama. Jumlah media memang semakin banyak. Isinya pun semakin berani. Namun, banyak pihak bertanya: apa iya ada kaitan antara pertumbuhan itu dan kesadaran politik, kritisisme masyarakat, atau kualitas demokrasi?

Orang dengan mudah menunjuk pada koran baru seperti Lampu Merah (LP) --sebuah surat kabar yang dengan cepat meraih popularitas di kalangan menengah ke bawah di Jakarta. Koran ini lahir sepenuhnya dengan pendekatan 'pokoknya laku dijual dan menarik pengiklan'. Dia tampil dengan gaya memberontak segenap pakem. Judul berita bisa sangat panjang, tanpa mengindahkan tata bahasa Indonesia. Pada edisi 1 Oktober, salah satu berita utama di halaman satu berjudul begini: "Istri Nifas, Suami Nggak Ku-ku, Bocah 7 Tahun Diimingi 500 Perak, Dibawa ke Sawah, T'rus Digituin". Wah!

Tentu saja bukan cuma bahasa yang jadi pusat keprihatinan. Koran ini jelas tampil tanpa peduli etika. Di pojok kiri halaman yang sama, LP menulis bahwa terbitan hari itu adalah: 'Edisi Selingkuh, spesial buat cowok buaya dan cewek gatel'. Pilihan berita di halaman satunya pun mewakili secara pas ideologi mereka: berita manajer yang ditemukan tewas di hotel setelah menginap dengan karyawatinya, istri mengadukan suami, suami mengadukan istri, keponakan membacok paman, perampokan taksi, remaja bunuh diri, dan seterusnya.

Di halaman dalam, yang dominan adalah seks. Ada halaman bertajuk 'Love Story', yang memuat rubrik 'SMS' (Seni Memuaskan Suami). Isinya hasil wawancara dengan para suami atau istri mengenai kehidupan ranjang mereka. Dalam edisi 1 Oktober itu, yang disajikan adalah penuturan seorang wanita yang digambarkan sebagai staf administrasi biro perjalanan (entah fiktif entah tidak) tentang posisi yang disukai saat bersebadan dengan suami. Tulisan utama halaman itu juga tentang teknik bercinta, dengan judul besar.

Bahkan dalam rubrik hiburan, aroma itu terus terjaga. Shanti, presenter muda MTV, diwawancara soal --maaf-- payudara dan celana dalamnya. Di halaman sama, tersaji empat iklan yang tak terlalu jelas menawarkan apa. Misalnya, di salah satu iklan terpampang foto wanita setengah telanjang. Teksnya berbunyi: "Kehangatanmu Kunantikan Selalu, Miliki Aku, 0809-1000909". Namun di bawahnya tertera peringatan: "Obrolan seks, Sara, dan politik, tidak dilayani." Lho?

Dan koran ini sehat secara finansial. Memang ia dijual murah, hanya Rp 1.000. Tapi, pengamatan lapangan menunjukkan koran ini laku keras, dan lebih dari itu: mereka memuat banyak iklan, yang umumnya menawarkan obat kuat, pengobatan alternatif, atau layanan kencan lewat telepon. Rata-rata, ada sekitar 6-7 halaman iklan. Padahal, tebal koran itu cuma 12 halaman. Bagi sebuah koran, itu pertanda keuntungan luar biasa.

Dan LP tidak sendirian. Di berbagai kota besar, saat ini secara merata hadir beragam koran rakyat yang jualan utamanya adalah sensasi, seks, selebriti, dan darah. Bahkan kalau ada berita politik, itu pun disajikan dengan cara sensasional. Yang ditekankan adalah konflik, tanpa mengindahkan dampak yang mungkin ditimbulkan pemberitaan. Saat pecah perang berdarah antara tentara dan polisi di Binjai, sebuah koran rakyat di Jakarta, menulisnya dengan upper deck di atas judul: "TNI vs POLISI 7-0 (7 POLISI TEWAS, TNI BELUM KETAHUAN)" Bayangkan perasaan polisi yang membacanya!

Jadi, kalau ada orang yang meragukan manfaat kemerdekaan pers, tolonglah dimengerti. Pers kita memang tidak kunjung beranjak pintar.




^ KE ATAS


Halaman Muka | Kesehatan | Rohani | Perpustakaan PMILA |  Keluarga | Info Wajib Lapor | Iptek | Serba Serbi LA | Tips and Tricks | Warta Indonesia | Perwakilan Indonesia | Lembar Anggota | Tentang Kami | Kontak Kami

© Copyright 2002-2004, PMILA. All Rights Reserved.