Putri Cantik dan Tidak Pintar
Oleh Ade Armando
Istilah 'chauvinisme' sedang naik daun di kampus saya. Gara-garanya, ada
kejadian dalam sebuah acara pemilihan Putri Indonesia 2002 dua pekan lalu.
Ketika itu, dalam sesi tanya jawab, seorang finalis ditanya dalam bahasa Inggris,
"Apa pandangan Anda soal chauvinisme?" Si calon putri cantik ternyata
tak mengenal istilah itu. Ketika ia memohon bantuan Tantowi Yahya, sang pembawa
acara, jawaban yang diperolehnya cuma, "Ya sebuah isme, seperti isme-isme
yang lain ... nasionalisme ...."
Merasa menemukan jawaban, sang calon putri itu pun menjawab dengan yakin, "Ya
, saya setuju dengan chauvinisme!"
Jawaban sang finalis di depan publik Indonesia --yang sebagian besar menonton
melalui siaran langsung televisi-- memang tampak menggelikan. Tapi, menurut saya,
yang salah jurinya.
Masak pada calon Putri Indonesia diajukan pertanyaan yang memaksa orang
untuk berpikir. Siapa pun tahu pemilihan putri-putrian --atau miss-miss-an--
semacam itu diadakan bukan untuk mencari orang pintar, tapi orang cantik dan
seksi. Memang dalam beberapa tahun terakhir ini citra tersebut hendak diubah.
Maka, diperkenalkanlah komponen penilaian lain:
kecerdasan. Sayangnya, karena sejak semula niatnya adalah adu fisik, persyaratan
itu jadinya terkesan basa-basi belaka. Jadilah sang putri chauvinis harus
menanggung akibat: dipermalukan di depan publik.
Menjadi Putri Indonesia tak ada kaitannya dengan kualitas berpikir. Tahun lalu
saja sudah beredar joke lain. Syahdan, seorang finalis Putri Indonesia di
malam penentuan, ditanya juri, "Siapakah tokoh Indonesia yang paling Anda
kagumi?" Si gadis menjawab, "Pangeran Diponegoro!" Hadirin
berdecak kagum menyaksikan nasionalisme perempuan cantik itu. Si juri bertanya
lagi, "Ya, tapi kalau tokoh Indonesia yang masih hidup, bukan yang sudah
wafat seperti Pangeran Diponegoro?"
Si calon putri terpekik, "Apa?! Pangeran Diponegoro sudah wafat, kapan?"
Si juri dengan setengah bingung menjawab, "Ya, sekitar 1830." Si gadis
kembali berujar setengah berteriak, "Apa, sesudah Maghrib?!"
Lelucon itu memang terkesan sinis. Tapi, itu adalah ungkapan jujur
ketidakpercayaan banyak orang terhadap segala macam argumen bahwa pemilihan
putri-putrian kini bukan hanya berorientasi pada keunggulan fisik namun juga
otak. Kita memang sudah menghilangkan istilah Ratu Kecantikan atau Beauty
Queen, tapi esensinya tidak berubah. Tidak perlulah kita bersusah payah
berdalih bahwa yang diperlombakan adalah bukan penampilan luar. Tak ada yang
sungguh-sungguh percaya. Bukankah sponsor utama kegiatan itu di Indonesia adalah
produsen kosmetik? Bukankah dalam perlombaan ratu dunia, para kontestan harus
rela berjejer di depan penonton dengan mengenakan pakaian renang atau pakaian
malam serba terbuka?
Tapi, marilah jangan bersikap tidak adil dengan melecehkan Putri Indonesia
seolah-olah acara itu berdiri sendirian. Itu adalah bagian dari sebuah gelombang
lebih besar dalam masyarakat kontemporer kota yang menggelorakan penampilan
fisik. Representasi terbaik lainnya adalah Gadis, majalah remaja dengan
jumlah pembaca terbesar di negara ini. Saat ini mereka memiliki acara tahunan
pemilihan Gadis Sampul. Yang diperlombakan sepenuhnya adalah kecantikan
wajah dan kefotogenikan sang kandidat. Padahal dulu, tahun 1970-80-an, majalah
ini punya pemilihan Putri Remaja yang menempatkan prestasi sekolah dan
kreativitas sebagai komponen penting dalam penilaian.
Jadi, memang para remaja putri Indonesia kini didorong untuk berlomba-lomba
menganggap kecantikan, keindahan tubuh, keseksian penampilan, kehalusan kulit,
kelembutan rambut, sebagai hal utama dalam kehidupan. Sayangnya dengan
menghabiskan energi di wilayah itu, perhatian terhadap kualitas-kualitas lain
--yang sebenarnya jauh lebih esensial-- kerap terabaikan. Maka, jangan heran
bila pada bangsa ini kita akan semakin sering menemui wanita-wanita cantik, kemayu,
dan seksi tapi tak berotak, tidak matang, dan senang dilecehkan.
|