|
|
|
|
|
|
|
g
|
|
SOROTAN
|
Kumpulan Sorotan
|
No One's Perfect
Oleh : Zaim Uchrowi
Pada beberapa hari terakhir, buku
itu selalu ada dalam tas saya. Judulnya No One's Perfect. Ini buku
tentang perjuangan Hirotada Ototake, atau Oto, yang hanya punya tangan dan kaki
sejengkal. Namun, berkat kegigihannya, ia dapat melakukan banyak kegiatan
sebagaimana orang normal. Mulai dari bermain bola basket, baseball,
berenang, bahkan berkelahi. Oto akhirnya menjadi mahasiswa disegani di Waseda,
universitas ternama di Jepang.
Lewat buku itu Oto berbicara lantang. Tak satu pun di dunia ini yang sempurna.
Setiap kita punya cacat, ketidaksempurnaan, atau keterbatasan. Masalahnya,
hendakkah kita mengurung diri dengan keterbatasan. Ataukah kita akan tersenyum
menyambut dunia ini dengan segala keterbatasannya.
Yang punya keterbatasan itu bukan hanya Oto.
Bukan pula hanya orang per orang. Yang juga punya keterbatasan adalah institusi
atau lembaga. Bahkan juga masyarakat, bangsa, atau negara. Keterbatasan itu
mungkin karena kelainan fisik seperti yang terjadi pada Oto. Atau ketidakpunyaan
sumber alam memadai, seperti pada beberapa negara. Keterbatasan itu juga dapat
berupa kelainan pola pikir. Atau berupa pola mental.
Realitas masyarakat saat ini meyakinkan adanya ketidaksempurnaan bangsa kita.
Ketidaksempurnaan itu bukan berupa cacat atau keterbatasan fisik.
Ketidaksempurnaan itu lebih merupakan kelainan pola berpikir.
Kasus penggalian di lokasi Prasasti Batutulis di Bogor hanya salah satu bukti
cacat bangsa ini. Ada soal harta karun atau ''kujang keramat'' yang
disebut-sebut. Yang satu disebut buat menyelamatkan ekonomi negara. Satu lagi,
katanya, buat meningkatkan wibawa pemimpin. Menteri agama terlibat urusan itu.
Presiden, kata Pak Menteri, telah merestuinya.
Saya yakin Pak Menteri tidak mempercayai irasionalitas macam itu. Pak Menteri
mungkin hanya ingin ''mengambil hati''. Namun, tampaknya kelainan alias cacat
mental bangsa ini sudah sedemikian serius hingga Pak Menteri sampai harus siap ''kejeblos''
untuk dapat mengambil hati tersebut.
Sedangkan Oto mudah menyadari, bahwa dirinya tak normal. Secara fisik, tangan
dan kakinya tidak utuh seperti orang lainnya. Dengan kesadaran itu, mudah
baginya berjuang mengatasi segala keterbatasan. Maka, sukses dapat diraihnya.
Sebaliknya, kita belum menyadari bahwa kita bangsa yang tidak normal. Secara
fisik kita bangsa sempurna. Namun secara mental, kita cacat. Karena mental
adalah yang tak terlihat, kita tak menyadarinya. Pengenaan dua atau lebih cincin
akik besar sekaligus --kata kawan-- adalah sebuah indikasi abnormalitas bangsa
ini secara mental. Semakin banyak orang yang memakai cincin seperti itu, semakin
abnormal bangsa ini.
Haruskah berbagai abnormalitas --mulai urusan batu akik hingga Batutulis-- itu
kita hujat-hujat? Tidak. Kita perlu belajar dari Oto. No One's Perfect.
Yang lebih penting, kita sadar dan tidak malu dengan kenyataan bahwa secara
mental kita bangsa abnormal. Selanjutnya, bagaimana berupaya mengatasi agar
abnormalitas tak jadi penghalang buat meraih sukses.
|
|
|
|
|