|
Narkoba di Rumah Kita
Berikut adalah tulisan tentang
merajalelanya narkoba di Indonesia, banyak korbannya adalah anak-anak dari
keluarga yang mearsa baik-baik saja. Pelajaran yang bisa diambil adalah,
anak-anak kita di Amerika akan lebih berpeluang untk bisa terjerumus ke dunia
gelap tersebut, karena barang barang tersebut jelas lebih mudah didapatkan di
sini.
Bagian 1
Seperti Angin, Ia Menerpa Siapa
Saja
"Ibu, kok ayah ngerokok
kecil?" tanya Andi. Murid kelas enam SD di Ciledug, Tangerang, Banten, itu
melontarkan pertanyaan kepada ibunya, tiga tahun lalu, saat ia kelas tiga SD.
Ibu Andi, Nita (32 tahun), tidak menjawab. Raut mukanya agak memerah mendengar
pertanyaan itu, dan matanya mendelik ke arah suaminya, Jaka (39), yang tengah
asyik menghisap lintingan ganja di kursi sofa rumahnya.
Lama-lama Andi mengenali "rokok kecil" ayahnya itu. Ia tahu setelah
berkali-kali melihat rokok kecil ayahnya sama dengan rokok kecil yang sering
diperlihatkan polisi kepada wartawan, yang disorot kamera televisi.
Pada hari yang lain, Andi kembali melihat ayahnya "merokok kecil".
"Itu cimeng, ya Bu?", tanya Andi.
Nita tersentak dan gusar. "Kok anak kecil tahu cimeng?"
"Cimeng itu ganja 'kan? Kalau polisi tahu, ayah ditangkap lho,"
sahut Andi.
Nita mengeluh, kebiasaan suaminya menghisap ganja sulit dicegah. "Capek,
mulut sampai berbusa pun tak ditanggapi," kata karyawati sebuah bank swasta
nasional itu, kepada Republika.
Akhirnya, setiap suaminya nyimeng 'menghisap ganja', ia malah menyediakan
teh manis untuk suaminya. "Biar cepat fly," jelasnya.
"Ayah pernah 2,5 tahun berhenti nyimeng," tambah Andi. "Tapi,
sekarang kambuh lagi."
Sabtu malam (12/10), Republika mendatangi rumah Jaka, berbincang sampai larut
malam. Ketika rokok Jie Sam Soe milik Jaka habis, Republika meminta Andi
membelikan rokok untuk ayahnya.
"Beli lima bungkus," kata Republika sambil menyodorkan uang Rp50 ribu.
Andi meraihnya dan segera keluar rumah menuju warung.
Melihat adegan itu, Jaka sejenak berpikir dan segera memanggil anaknya yang baru
saja disuruh membeli rokok. "Daripada beli lima bungkus, mending sebagian
untuk cimeng aja," kata Jaka kepada Republika. "Andi, kembali!"
Ketika anaknya mendongak di pintu, Jaka segera mendekat. "Jie Sam Soe-nya
sebungkus saja, selebihnya beli cimeng dua am," katanya.
Andi paham. Am yang dimaksud ayahnya adalah amplop. Ia segera pergi dan pulang
dengan sebungkus Jie Sam Soe dan dua amplop ganja seharga masing-masing Rp10
ribu.
Jaka mengaku tidak ingin anaknya mengikuti jejaknya sebagai pecandu ganja.
Tetapi, ia tetap gelisah. Pergaulan di luar dan contoh buruk yang ditunjukkannya
di rumah ia takutkan akan menyeret anaknya menjadi pemadat.
Selangkah lagi Andi akan masuk SMP. "Dulu saya terjerat ganja begitu masuk
SMP, malah ngebandar segala di sekolah dan sempat kepergok guru," kata Jaka.
Dari ganja, Jaka juga sering ngeboat. Pada perkembangan berikutnya ia tergoda
untuk mencicipi putaw, sabu-sabu, dan ekstasi. "Narkoba membuat saya putus
sekolah," kata sopir tembak itu. Ia tidak melanjutkan pendidikannya di SMP.
Jaka pernah dua kali ditangkap polisi saat membeli narkoba. Namun, beruntung ia
bisa bebas dengan memberi sejumlah uang sogokan. Dari perkenalannya dengan sel,
ia pun sempat menjadi kaki tangan oknum polisi untuk menjual barang bukti
narkoba.
Kini, suara Jaka pelo. Ia juga "telmi", akibat ganja. Akankah Andi
mengikuti jejaknya?
"Seperti angin, narkoba sekarang ini menerpa siapa saja," kata Irjen
Nurfaizi, ketua pelaksana harian (kalakhar) BNN.
Seperti angin pula, bandar dan pengedar narkoba juga jarang tertangkap. Kasus
narkoba yang ditangani polisi teramat sedikit (lihat tabel).
Menurut data Gerakan Antimadat dan Narkotika (Granat), pecandu narkoba kini
sudah mencapai empat juta orang. "Sebanyak 17,16 persen, atau sekitar 680
ribu korban narkoba di antaranya mati di usia muda," ungkap Dadang Hawari,
anggota Dewan Penasihat Granat.
Setiap pecandu narkoba, kata Henry Yosodiningrat, ketua Granat, sedikitnya
mengonsumsi 1 gram narkoba. Dalam sehari, ada 4 ton narkoba yang dijual. Setiap
pecandu dalam sehari mengeluarkan Rp100 ribu belanja narkoba. Jadi, kata Henry,
4 juta pecandu itu membelanjakan Rp400 miliar per hari untuk narkoba. Tetapi,
apa yang mereka dapatkan? zam
Bagian 2
Narkoba, Begitu Mudah Begitu Dekat
Banyak cara untuk mendapatkan
narkoba. Pemesanan, bahkan bisa dilakukan melalui telepon, jika pemesan dan
penjual sudah saling kenal. ''Biasanya kita menggunakan kode-kode khusus yang
dikirim via SMS. Kalaupun polisi bisa melacaknya, nggak akan ketahuan.
Karena kode ini sederhana dan tidak terlihat mencolok bahasanya,'' kata seorang
karyawan perusahaan media massa.
Kalau sudah dipesan, dan barang sudah siap, menurut dia, biasanya mereka akan janjian
di satu tempat. ''Kita bertemunya di jalan saja. Duitnya dikirim via transfer
melalui phone banking. Kalau sudah oke dan dia SMS ke gue,
baru barang itu gue anter ke orangnya,'' kata dia.
Ia mengaku sering melayani order dari para artis. ''Sekali belanja ke gue
ada yang bisa habis Rp5 jutaan. Biasanya mereka dua minggu sekali belanja.
Tampaknya mereka juga kontrol kok, nggak setiap hari,'' katanya.
Transaksi bisa juga dilakukan dengan cara datang di rumah bandar. ''Konsumennya
mendapatkan barang dengan janjian lewat telepon terlebih dahulu. Untuk
yang sudah akrab dengan saya, dapat langsung datang dan ngipe di rumah,''
ujar salah satu pengedar di Bandung.
Di Jakarta, misalnya, jika konsumen tidak berani datang di rumah bandar, dia
bisa memesan ke salah satu pedagang kaki lima di Jl Tangki Lio, Mangga Besar,
Jakarta. ''Kalau Mas butuh, bisa dapat dari saya,'' ujar seorang pedagang kaki
lima, saat Republika menanyakan cara mendapatkan narkoba di Tangki.
Ketika Republika meminta narkoba ke beberapa pemuda yang nongkrong
di sebuah gang, di Tangki, Republika tidak mendapat tanggapan, ''Nggak
ada. Di sini nggak ada,'' jawab salah satu dari mereka, yang nongkrong
di sebuah warung.
Mendapat jawaban seperti itu, Republika tidak segera beranjak. Berdiam di
warung itu untuk sekian lama. Tiba-tiba seorang dari mereka lantas menyapa Republika.
''Butuh berapa?''
Ada tiga kelas peredaran narkoba. Kelas atas, dengan penjualan dalam takaran di
atas 10 gram; kelas menengah, dengan tansaksi 5 gram - 10 gram; kelas rendah,
dengan penjualan 5 gram ke bawah.
Para pengedar kelas menengah--rendah biasa menyediakan paket hemat: paket ''cebanan''
dan paket ''nol satuan'' seharga Rp25 ribu - Rp50 ribu. Untuk kelas atas,
transaksi juga dilakukan via telepon dan dari mobil ke mobil. Bandar (BD)
biasanya melakukan transaksi dengan pengedar di pinggir jalan. Awalnya mereka janjian
untuk bertemu di suatu jalan, namun tidak tertutup kemungkinan terjadi perubahan
tempat bertemu. ''BD dengan polisi jadi kucing-kucingan deh,'' ujar
sumber itu. one/bob/zam
Indonesia, Bukan Lagi Sekadar Tempat Transit
''Dai kamtibmas'' menyebar di Tasikmalaya. Untuk tahap awal, jumlahnya 425 orang
(90 orang untuk Kota Tasikmalaya, 335 orang untuk Kabupaten Tasikmalaya).
''Para dai kamtibmas itu diberi pembekalan seputar masalah-masalah yang
berkaitan dengan hukum dan masalah ketertiban dan keamanan,'' ujar Kasatbinmas
Polres Tasikmalaya, AKP Yono Kusyono SH, kepada Republika, September lalu.
Pembentukan ''dai kamtibmas'' dilakukan Polres Tasikmalaya bekerja sama dengan
MUI Tasikmalaya. Tujuannya mencegah bertambahnya pemakai narkoba. Kasus narkoba
di Tasikmalaya telah menempati urutan kedua di Jawa Barat, setelah Kabupaten
Bandung.
Pada Januari hingga Maret 2002, Polres Tasikmalaya menangani 12 kasus narkoba.
Maraknya pemakaian narkoba di Tasikmalaya telah mengundang para siswa di
Tasikmalaya menggelar demonstrasi pada 18 Juli 2002 lalu. Mereka berkeliling
kota membawa poster dan spanduk, di antaranya berbunyi, ''Narkoba Sampah
Masyarakat'', ''Narkoba Racun Generasi Muda'', ''Kota Santri Harus Terbebas dari
Narkoba''.
Tasikmalaya selama ini dikenal sebagai pusat rehabilitasi pecandu narkoba.
Banyak pecandu dari berbagai kota yang datang di Tasikmalaya untuk menjalani
proses penyembuhan.
Pada kurun 1981-1989, Pondok Pesantren Suryalaya menangani 5.845 pecandu narkoba.
Menurut Wakil Ketua Pondok Pesantren Suryalaya, Zaenal Abidin, melalui program
Inabah, sebanyak 93,1 persen dari mereka berhasil dikembalikan pada kondisi
semula. Saat ini, kata Zaenal, pihaknya tengah menangani 1.000 pecandu, 20
persennya wanita. ''Mereka datang dari berbagai daerah dan negara, juga dari
berbagai kalangan dan latar belakang ekonomi, jadi sangat beragam,'' jelas
Zaenal.
Bagaimana orang-orang bisa terjerat narkoba? Gejala umum yang ada bermula dari
coba-coba karena ditawari teman, kemudian ketagihan, lantas harus membeli. Untuk
bisa membeli, seseorang membutuhkan uang, dan salah satunya didapat dengan cara
ikut menjualkan narkoba.
Ia harus menjual narkoba untuk bisa mendapat biaya yang kemudian ia belikan lagi
untuk konsumsi sendiri. Bahkan ia bisa mendapatkan gratisan, jika penjualannya
sukses. ''Dengan mengedarkan narkoba, kebutuhan saya akan obat-obatan tersebut
dibayar oleh pasiennya,'' ujar seorang bandar di Bandung.
Gangan, anak Wagub Jabar, Soedarna TM, tidak perlu membantu menjualkan narkoba.
Ia mampu membelinya sendiri dari tentara yang bernama Badrun. Memang, banyak
yang mendapat pasokan dari tentara/polisi, bahkan dengan harga yang miring.
Barang dari polisi, biasanya adalah ''barang muntahan'', yaitu barang yang
didapat dengan cara mencuri barang bukti. Harganya cukup miring, Rp250 ribu--Rp300
ribu per gram. Padahal, harga seharusnya Rp400 ribu--Rp600 ribu per gram.
Kini, narkoba sudah dengan mudah diperoleh di banyak tempat di Indonesia.
Banyaknya pengomsumsi mendorong perdagangan narkoba kian marak. Anak-anak
dijadikan sasaran. Di Bogor, 16 siswa SLTPN I Cariu, pada April lalu dikeluarkan
dari sekolah karena terbukti mengonsumsi narkoba, jenis lexotan. Di Surabaya,
berdasarkan penilitan Granat Jatim dan Surabaya terhadap 10 ribu siswa dan guru
SLTP-SLTA awal tahun ini, sebanyak 81 persen darinya terbukti mengonsumsi
narkoba. Para pelajar itu mengonumsi narkoba di siang hari di tempat-tempat
hiburan.
Pada 1998, SMU Pangudi Luhur di Jl Brawijaya, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan,
terkena isu narkoba. Sekolah pun segera melakukan tes urine terhadap para siswa,
melibatkan tim dokter dari RS St Carolus. Hanya tiga siswa yang terbukti
mengonsumsi narkoba. Tahun 2000, SMU Pangudi Luhur mengadakan gerakan
antinarkoba di sekolah, bersama alumni dan RSK St Carolus. ''Kita membentuk
semacam crisis center dengan anggota panitia kecil terdiri dari para
guru, wali murid, dan siswa,'' kata Frans D Atmadja, kepala sekolah. Tim
bertugas melakukan penyuluhan tentang bahaya narkoba.
Isu berkembang. SMU Pangudi Luhur diisukan tidak menerima siswa selama tiga
tahun untuk memutus jaring narkoba. ''Tahun 1999, isu tersebut beredar luas
lewat internet. Termasuk juga soal banyaknya siswa PL yang terkena narkoba,''
jelas Frans. ''Kami tidak tahu dari mana isu itu dan siapa yang membuatnya.''
Isu itu, kata Frans, tidak benar karena pihaknya tetap menerima siswa, tentu
dengan cara yang selektif: tes urine setelah siswa berada setahun di Pangudi
Luhur.
Pada dekade 80-an, Indonesia hanyalah tempat transit perdagangan narkoba
internasional. ''Kini negeri kita sudah bukan sekadar tempat transit perdagangan
narkoba internasional,'' ujar Dadang Hawari, anggota Dewan Penasihat Gerakan
Anti Narkotika (Granat).
Tak mengherankan, upaya penyelundupan narkoba ke Indonesia terus dilakukan
banyak orang. Polisi sering berupaya membongkarnya, tetapi angkanya juga masih
kecil. Bahkan, ada di antaranya yang dijatuhi hukuman mati (lihat tabel).
Penyelundup itu kebanyakan dari orang berkulit hitam, Afrika. Kata Ketua
Pelaksana Harian Badan Narkotika Nasional, Irjen Pol Nurfaizi, orang-orang
berkulit hitam ini banyak yang mengawini wanita penghibur untuk memperlancar
operasi pengedaran narkoba di Indonesia. Wanita penghibur yang WNI itu dijadikan
traficker.
Para pengedar narkoba di Bandung mengakui keberadaan orang-orang hitam sebagai
pemasok narkoba. Dalam pemeriksaan di kantor polisi, para pengedar narkoba di
Bandung yang ditangkap polisi mengaku sering mendapatkan kiriman dari
orang-orang kulit hitam itu. epe/yus/zam
Bagian 3
- Habis
Mimpi Buruk yang Amat Menakutkan
Jimmy (28 tahun) melukiskan
pengalaman sakau, yang tak kalah mengerikan. "Kalau lagi engga make
putaw, badan rasanya sakit sekali, kayak ditusuk-tusuk ribuan jarum yang
ingin memaksa keluar dari dalam tubuh," katanya.
Untuk mengatasi sakau, jalan pintas untuk "menyembuhkan" adalah dengan
kembali mengonsumsi putaw. Robby (22 tahun) belum lama ini tiba-tiba menghambur
ke luar kamar. Anak seorang pejabat BI itu tanpa rasa malu dan takut nekat
menyungkurkan diri ke pangkuan bapaknya.
Robby tidak sedang sungkem. Ia sedang minta dikasihani bapaknya. Sakaunya kumat
berat, tetapi ia kehabisan uang untuk membeli putaw.
"To..to...long saya, Paak! Enggak ta..haan...," rintih
mahasiswa drop out sebuah PTS di Lenteng Agung, Jakarta Selatan itu.
Tubuhnya menggigil hebat, tangannya mencengkeram kaki ayahnya.
"Kenapa kamu?!" sambut ayahnya, kaget.
"Sa.. sakau, Pak... Beri saya duit untuk beli pu..taaw...!"
"Haaah!?" Sang ayah yang jarang bertemu anaknya itu kian kaget,
bingung, dan tampak seperti menahan amarah.
Dalam keadaan kaget, bingung, menahan amarah, ayah Robby malah merogoh dompet.
"Berapa kamu perlu duit?" Ia tidak bisa meluapkan kemarahannya.
"Cu.. cuma Rp 100 ribu, Pak!" jawab Robby.
Setelah mendapat uang, Robby segera meninggalkan rumahnya di Slipi menuju ke
Gang Subur, Jakarta Pusat. Ia kembali dengan sepaket putaw dalam plastik kecil.
Saat itu, untuk pertama kali ayah Robby menyaksikan Robby mengonsumsi putaw
dengan alat suntik seharga Rp5 ribu.
Di kemudian hari, ayah Robby membawa Robby berobat ke sebuah rumah sakit di
Jakarta. Dalam proses penyembuhan ketergantungan narkoba itu, Robby
melolong-lolong minta putaw. Robby, menurut cerita kerabat dekatnya, sempat
berjalan-jalan dengan tubuh setengah telanjang di lorong rumah sakit. Ia
mencari-cari putaw karena dilanda sakau yang hebat.
Keadaannya kian gawat karena tidak menemukan barang yang dicarinya. "Akhirnya,
ketika menemukan kapur, ia makan. Melihat kapas, dimakan juga. Pokoknya benda
warna putih jadi sasaran," kata kerabatnya itu.
Penderitaan sakau juga diperlihatkan Gangan dan Ricky--anak Wagub Jabar,
Soedharna TM. Tidak lama setelah meringkuk di ruang tahanan Satserse Polwiltabes
Bandung, September lalu, tubuh keduanya menggigil. Matanya melebar, sayu, dan
tidak mau makan.
Tidak kuat menahan sakau, Ricky merintih hebat dan berlari-lari di dalam sel. Ia
juga marah-marah dan menginjak-injak kartu domino yang tengah dimainkan teman
satu selnya.
Kakaknya, Gangan, juga meradang. Sakau membuat pikirannya kacau. Ia sampai
memelorotkan celana teman satu selnya. "Untuk mengatasi sakau itu, keduanya
dibujuk supaya mau makan, setidaknya dua kali sehari," kata AKBP Mas Guntur
Laupe, Kasat Serse Polwiltabes Bandung.
Rasa ketagihan sabu-sabu (SS), lain lagi. Bayangkan jika setengah hari saja Anda
tiba-tiba harus jadi kuli aduk bangunan. Saat pergi tidur malam, sekujur tubuh
Anda pasti pegal-pegal. "Rasanya ketagihan sabu-sabu, sakitnya sepuluh kali
itu," kata Jaka.
Efek SS yang membuat pemakainya hiperaktif, ketika pengaruhnya hilang, diakui
Lukito membuat badan merasa tersiksa. "Sebab, stamina kita dikuras. Ogut
bisa dibuatnya tidak tidur tiga hari sampai satu minggu," kata Lukito,
warga Tomang, Jakarta Barat itu.
Karena bersifat candu, sekali mencoba SS, juga akan ketagihan. "Jika drop,
gue tersugesti terus untuk mengonsumsi SS lagi supaya badan kembali seger dan
aktif," kata Jimmy.
Tapi SS bisa menimbulkan parno alias paranoid. Jimmy pernah menyaksikan seorang
aktor film kawakan, RM, lari ketakutan dari lantai IV hingga lantai I Diskotek
Milenium, Jakarta Pusat. Lebih parahnya, kata Lukito, temannya sesama pemadat
sering memberi istrinya SS. "Setelah mengalami parno, si istri kemudian
jadi sinting. Sempat dirawat di rumah sakit jiwa, dan sekarang pulang ke
kampungnya di Jawa Tengah," katanya.
Bagaimana dengan kondisi on? Inilah situasi ketika orang dalam pengaruh pil
ekstasi atau inex. Obat psikotropika ini membuat kepala bergeleng dan tubuh
berjingkrak mengikuti irama house music. "Inex membuat seluruh tubuh terasa
ringan dan melayang-layang. Diri ini seolah-olah paling hebat dan kehilangan
rasa malu," ungkap Jimmy.
Menurut catatan BNN, inex juga membuat kepala terasa kosong, rileks, dan "asyik".
Dalam kondisi on ini, dibutuhkan teman mengobrol, teman becermin, dan
menceritakan hal-hal rahasia. Semua perasaan itu akan berangsur hilang dalam
waktu 4-6 jam, kemudian perasaan lelah dan tertekan (depresi) mencengkeram.
"Ketika pengaruh inex itu drop, tidur pun tak enak, sekujur badan sakit.
Pergantian dari suasana gembira yang memuncak kemudian lenyap, menimbulkan mimpi
buruk yang amat menakutkan," kata Jimmy.
Penawarnya, ya inex lagi! n zam/bob
|