Metode Baru Cegah Penuaan
Sumber: Republika
Pria tua itu awalnya berjalan
dengan menggunakan tongkat. Ia sering mengeluh sakit. Namun, keadaan itu kini
berubah total. Tongkat yang biasa menjadi tumpuan utamanya itu harus ''pensiun''.
Ia mampu berjalan normal. Bahkan, ia mampu kembali menyetir mobil dalam
perjalanan jauh. Wow!
Semua itu terjadi berkat metode yang ditemukan Prof Dr dr Susilo Wibowo MEd
SpAnd, yang dikukuhkan sebagai guru besar kedokteran Universitas Diponegoro
Semarang kemarin.
Tentu ini berita gembira bagi kaum pria, khususnya yang memasuki usia tua.
Mereka tak perlu khawatir dengan proses penuaan karena proses itu bisa dicegah
atau diperlambat. Caranya dengan mengubah pola hidup lebih sehat dan pemberian
obat untuk peremajaan.
Susilo mengatakan berdasarkan penelitian terhadap 290 pasien dengan sindrome partial
androgen deficiency in aging male (PADAM) atau andropause menunjukkan hasil
cukup memuaskan. Penelitian ini dilakukan di Semarang pada 1999 hingga Maret
2001.
Penemuannya itu sudah mendapat pangakuan androlog dari luar negeri. ''Selain
mampu berjalan normal dan menyetir sendiri, kemampuan seksual paman saya juga
membaik,'' kata dia.
Guna memperlambat penuaan dan mencegah PADAM, katanya, langkah yang ditempuh
adalah dengan mengutamakan keselamatan kerja, cegah kontak langsung dengan bahan
kimia agar tidak terjadi umpan balik negatif dalam produksi hormon testoteron.
Selain itu, pria lansia perlu memperbaiki mutu lingkungan perumahan dengan
mengurangi polusi udara, air, dan suara. Ia juga menyarankan mengurangi kontak
langsung dengan sinar matahari dan menghindari stres.
Menurut Susilo, agar pria tetap awet muda maka perlu menjaga kebugaran tubuh
dengan berolah raga, menghindari makanan berpengawet, dan makan dalam jumlah
cukup. Sikap ini bisa meningkatkan hormon GH dan IGF-1. ''Batasi kalori makanan
30-50 persen dari keinginan normal untuk mengurangi radikal bebas yang bersifat
merusak,'' kata dia.
PADAM dan penuaan, lanjutnya, dapat pula dicegah dengan memberikan obat untuk
menekan kadar prolaktin yang meningkat dan menghambat progresivitas varikokel
serta pengobatan prostatitis.
Untuk hormon yang tidak dapat distimulasi, katanya, dapat dilakukan dengan cara
substitusi hormon, seperti hormon DHEA, melatonin, GH, dan IGF-1 dan substitusi
hormon testoteron.
Sedangkan peremajaan bisa dilakukan dengan stimulasi hormon endogen, meskipun
obat ini sudah dijual bebas, tetapi perkembangannya masih perlu ditunggu karena
hasilnya masih diragukan.
''Stimulasi produksi testoteron dengan hCG terhadap 290 pasien di Semarang
menunjukkan hasil sangat bagus, dari delapan injeksi selama satu bulan,
menghasilkan peningkatan libido, kemampuan bekerja, semangat hidup dan
mengurangi kecemasan serta keluhan lainnya,'' kata dia.
Ketika ditanyakan berapa dana yang dibutuhkan pasien yang ingin mengembalikan
vitalitas hidupnya seperti di masa usia produktif, Susilo Wibowo secara terbuka
menyebutkan Rp 1,8-Rp 2 juta per bulan.
''Namun, biasanya setelah ditangani satu bulan hasilnya sudah kelihatan dan
lebih sempurna lagi bila menjalani perawatan selama tiga bulan,'' kata dia.
Ia menjelaskan perubahan mental dan fisik pria yang menuju penuaan. Gejala
mental itu antara lain ditandai dengan gejala muda lupa, berkurangnya refleks,
kehilangan gairah hidup, sering mengantuk, tetapi sulit tidur, kadang otoriter
bahkan bertindak aneh.
Perubahan fisik ditandai dengan berkurangnya kelenjar ludah, sering kesulitan
menelan makanan, perubahan pada mata, telinga, dan hidung, dan tentu saja mulai
tampak keriput.
Penuaan pria juga ditandai dengan keluhan di bidang seksual seperti penurunan
libido, ereksi kurang keras, penis mengecil, pancaran ejakulasi lemah, frekuensi
hubungan seksual menurun dan kurang responsif terhadap percakapan, rangsangan
dan stimulus seksual. Keluhan lain yang bersifat lebih umum juga melanda pria
tua, seperti: gelisah, sulit tidur, cemas, nyeri kepala, sering kencing, takut,
perasaan tidak mampu.
Susilo menyebutkan penyebab penuaan itu adalah faktor lingkungan dan psikis,
seperti: pencemaran lingkungan, pemakaian obat dan jamu yang tidak terkontrol
sehingga menyebabkan penurunan hormon tubuh, stress, dan sinar matahari langsung
yang menyebabkan hilangnya elastisitas dan rusaknya kolagen kulit. antara
|