|
|
|
|
|
|
|
g
|
|
SOROTAN
|
Kumpulan Sorotan
|
MJAJOI
Oleh : Anif Punto Utomo
Apa yang paling tidak disukai oleh
rakyat? Bukan presiden yang suka bicara ngawur atau presiden yang diam tapi
tidak bisa apa-apa, bukan pula politisi yang bertahan karena mengandalkan
kebohongan. Urutan pertama yang paling tidak disukai adalah kenaikan harga. Apa
pun.
Per 1 Juli silam, apa yang tidak disukai oleh rakyat itu dilakukan oleh
pemerintah. Setidaknya ada lima item yang dinaikkan resmi, yakni tarif angkutan
penyeberangan, tarif kereta ekonomi, bus antarkota ekonomi, jasa pos, dan tarif
dasar listrik (TDL).
Dari aneka kenaikan tersebut, rakyat kecillah yang banyak menelan derita.
Angkutan penyeberangan dan kereta ekonomi itu jelas untuk rakyat kecil. Sudah
hidupnya sulit masih digencet dengan kenaikan yang mencapai 40 persen. Begitu
juga bus ekonomi yang tentu saja merupakan alat angkutan orang bawah, naik 28
persen.
Jasa pos sebagian juga memukul rakyat kecil, karena mereka cukup banyak
mengandalkan pos, sementara orang yang sudah mapan banyak menggunakan email.
Tarif listrik yang dinaikkan terbesar adalah tarif untuk kelas bawah. Jadi,
makin lengkaplah penderitaan rakyat Indonesia ini.
Rakyat boleh menderita, tapi pejabat tidak. Rakyat boleh berteriak kelaparan,
tapi pejabat tetap wajib hidup mewah. Tak peduli, apakah dia pejabat lama atau
pejabat baru yang pada masa lalu meneriakkan yel-yel antikorupsi. Siapa pun yang
telah terbius aroma kekuasaan dan uang, secara sekejap akan menguapkan aroma
penderitaan rakyat.
Kita lihat saja betapa tegarnya para pejabat negara menghamburkan hartanya hanya
untuk sebuah pesta perkawinan. Jaksa Agung MA Rachman, misalnya, menghabiskan Rp
0,5 miliar untuk pesta kawin anaknya. Sekalipun itu dibantah, tapi melihat
pestanya, sulit untuk menerima bantahan tersebut.
Kemudian Hamzah Haz yang menikahkan anaknya di Arab Saudi. Berapa biaya yang
dibutuhkan untuk memberangkatkan rombongan 100 orang? Taruhlah setiap orang
menghabiskan 2.000 dolar AS (Rp 17 juta) maka sudah Rp 1,7 miliar dihabiskan
hanya untuk pernikahan. Dari mana dananya? Entah, yang jelas harta Hamzah
sebelum jadi wapres 'hanya' sekitar Rp 2 miliar.
Presiden Megawati sendiri sampai perlu mengingatkan agar pejabat tidak
mengadakan pesta mewah. Peringatan yang mengesankan. Tapi, Mega lupa bahwa
beberapa bulan lalu dia sempat menggelar pesta ulang tahun suaminya di Bali
dengan menghabiskan ratusan juta rupiah. Mungkin bagi Mega pesta pernikahan
berbeda dengan pesta ulang tahun.
Pesta para pejabat tersebut kontras dengan kondisi keuangan negara dan rakyat.
Ambil contoh, jalanan rusak di Jawa Barat yang telah memakan korban belasan
nyawa tetap dibiarkan menganga karena tidak ada dana. Seandainya dana pesta itu
untuk memperbaiki jalan, niscaya belasan nyawa rakyat akan terselamatkan.
Atau, lihatlah kehidupan seorang wanita setengah tua pekerja pemetik daun teh di
wilayah Sukabumi. Sehari paling banter dia mendapatkan 12 kg. Upahnya, Rp 200
per kg. Jadi seharian, dengan harus berjalan kaki lima kilometer, perempuan itu
hanya mengantongi Rp 2.400. Jika sebulan penuh bekerja, diperoleh Rp 72.000.
Uang itu hanya cukup untuk menu makan per orang pada pesta kawinan Jaksa Agung.
Tapi biarlah. Mereka toh cuma rakyat kecil. Sebagaimana ditulis Taufik
Ismail dalam buku, Malu Aku Jadi Orang Indonesia (MAJOI):
"Siapa rakyat itu? Di mana alamat mukim mereka, bagaimana potret mereka,
tunjukkan konfigurasi kesehatan mereka, tolong perjelas status mutakhir
demografi sesungguhnya.
Karena itu, di masa puncak kelaparan, saya dengan ringan bisa makan di pesta
perkawinan yang satu porsi tagihan lima puluh ribu rupiahnya, setara untuk
mengisi perut 50 orang miskin perkotaan dan pedesaan."
Kita salut pada ketegaan pejabat kita untuk hidup mewah di tengah penderitaan
rakyat. Tapi, kita sebagai orang biasa ini yang malu. Akhirnya, MJAJOI (Malu
Juga Aku Jadi Orang Indonesia).
|
|
|
|
|