Satu-dua hari
menjelang puasa, pasar tradisional diserbu ibu-ibu. Gula, daging, ayam,
sayur-sayuran, diborong habis, sekalipun harganya sudah dinaikkan sekian persen
dari harga sebelumnya.
Begitu pula di hipermarket seperti Alfa, Carrefour, maupun Giant. Pengunjung
membludak. Kereta belanja sampai harus berebutan. Antrean panjang terjadi saat
pembayaran di kasir. Kabarnya, ada hipermarket yang omsetnya sampai Rp 4 miliar
sehari.
Begitulah setiap bulan Ramadhan tiba. Ekonomi di negeri kita tiba-tiba tampak
hidup. Aktivitas ekonomi berupa jual-beli, baik barang ataupun jasa meningkat.
Uang berputar sedemikian cepatnya.
Efek dari percepatan tersebut adalah harga menjadi mahal, karena uang yang
berputar cepat menandakan bahwa permintaan terhadap barang tinggi. Logika bisnis,
jika permintaan tinggi, maka harga naik. Itulah mengapa tiap bulan puasa inflasi
melejit.
Dan entah mengapa, menjelang dan saat bulan puasa ini banyak orang kemudian
punya uang lebih untuk belanja. Mungkin atas hasil kerja keras mereka, sehingga
rezeki dilimpahkan dari Atas. Mungkin juga hasil kerja meras mereka. Meras
kiri-kanan.
Memang, keinginan untuk merayakan hari Lebaran secara semarak acap kali
membutakan orang. Mereka berlomba-lomba mendapatkan uang untuk merayakannya. Tak
peduli apakah cara yang ditempuh sesuai dengan sucinya bulan Ramadhan atau tidak.
Lihatlah di jalan-jalan. Saat-saat seperti ini polisi rajin beroperasi.
Mereka jeli melihat setiap pelanggaran yang dilakukan para pengguna jalan.
Setiap pelanggar, mereka peras untuk mengejar setoran.
Di instansi pemerintah, pada saat-saat seperti ini banyak pula 'wartawan
bodrex' berkeliaran. Mereka menemui kepala-kepala kantor untuk diperas. Sebagian
besar kepala kantor mau saja diperas, karena dia juga akan memeras orang lain.
Di terminal, para petugas tak segan memeras para sopir. Bagi sopir tak
masalah, karena nanti bisa memeras penumpang. Bagi sebagian penumpang juga tak
masalah karena besok-besok bisa memeras orang di kantornya.
Para wakil rakyat dan pentolan parpol besar juga rajin sidak ke perusahaan
kakap, terutama yang bermasalah. Mereka memeras para pengusaha tersebut.
Pengusaha merasa biasa-biasa saja, karena mereka juga hidup dari memeras uang
nasabah di bank.
Dunia peras-memeras ini sudah begitu membudaya. Di setiap persentuhan antara
yang membutuhkan dan yang memiliki kewenangan nyaris selalu ada pemerasan.
Sampai-sampai masyarakat sudah memakluminya, asal nilai pemerasannya tidak
berlebihan.
Celakanya, pada bulan puasa ini, perilaku memeras ini bukannya menyusut,
melainkan justru makin menjadi. Objek yang diperas diperluas dan besaran uang
yang diperas juga meningkat.
Bagi pemeras ini, puasa ya puasa, memeras ya memeras. Puasa jalan, meras juga
jalan. Ibarat jalan dua jalur, satu jalur untuk urusan peras-memeras, satu jalur
untuk urusan puasa.
Apakah puasanya diterima atau tidak, itu urusan lain, yang penting puasa,
yang penting Lebaran bisa berpesta. Di sini urusan keduniawian terasa lebih
diutamakan, demi gengsi saat Lebaran nanti.
Jadi, uang yang berputar di arena belanja tersebut sebagian merupakan hasil
dari peras-memeras. Pantas saja kalau kemudian banyak di antara mereka yang
tidak peduli dengan harga. Kenaikan harga masih tak sebanding dengan kenaikan
dana perasan.
Jangankan di dunia belanja, di dunia zakat pun, entah itu zakat mal, zakat
fitrah, ataupun amal sumbangan lain, sebagian berasal dari hasil meras. Padahal,
seberapa pun besarnya zakat, kalau hasil dari pemerasan, tak akan mendapat
ganjaran.
Semestinya, pada bulan yang suci ini, perilaku peras-memeras ditinggalkan.
Tak ada gunanya berbuka dengan makanan enak, tak ada gunanya pula Lebaran
berbagi-bagi hadiah jika duitnya berasal dari perasan. Kerja keras tetap lebih
berkah ketimbang kerja meras.