g

ARTIKEL

Kumpulan Sorotan
Kerja Keras atau Kerja Meras
Oleh : Anif Punto Utomo

Satu-dua hari menjelang puasa, pasar tradisional diserbu ibu-ibu. Gula, daging, ayam, sayur-sayuran, diborong habis, sekalipun harganya sudah dinaikkan sekian persen dari harga sebelumnya.

Begitu pula di hipermarket seperti Alfa, Carrefour, maupun Giant. Pengunjung membludak. Kereta belanja sampai harus berebutan. Antrean panjang terjadi saat pembayaran di kasir. Kabarnya, ada hipermarket yang omsetnya sampai Rp 4 miliar sehari.

Begitulah setiap bulan Ramadhan tiba. Ekonomi di negeri kita tiba-tiba tampak hidup. Aktivitas ekonomi berupa jual-beli, baik barang ataupun jasa meningkat. Uang berputar sedemikian cepatnya.

Efek dari percepatan tersebut adalah harga menjadi mahal, karena uang yang berputar cepat menandakan bahwa permintaan terhadap barang tinggi. Logika bisnis, jika permintaan tinggi, maka harga naik. Itulah mengapa tiap bulan puasa inflasi melejit.

Dan entah mengapa, menjelang dan saat bulan puasa ini banyak orang kemudian punya uang lebih untuk belanja. Mungkin atas hasil kerja keras mereka, sehingga rezeki dilimpahkan dari Atas. Mungkin juga hasil kerja meras mereka. Meras kiri-kanan.

Memang, keinginan untuk merayakan hari Lebaran secara semarak acap kali membutakan orang. Mereka berlomba-lomba mendapatkan uang untuk merayakannya. Tak peduli apakah cara yang ditempuh sesuai dengan sucinya bulan Ramadhan atau tidak.

Lihatlah di jalan-jalan. Saat-saat seperti ini polisi rajin beroperasi. Mereka jeli melihat setiap pelanggaran yang dilakukan para pengguna jalan. Setiap pelanggar, mereka peras untuk mengejar setoran.

Di instansi pemerintah, pada saat-saat seperti ini banyak pula 'wartawan bodrex' berkeliaran. Mereka menemui kepala-kepala kantor untuk diperas. Sebagian besar kepala kantor mau saja diperas, karena dia juga akan memeras orang lain.

Di terminal, para petugas tak segan memeras para sopir. Bagi sopir tak masalah, karena nanti bisa memeras penumpang. Bagi sebagian penumpang juga tak masalah karena besok-besok bisa memeras orang di kantornya.

Para wakil rakyat dan pentolan parpol besar juga rajin sidak ke perusahaan kakap, terutama yang bermasalah. Mereka memeras para pengusaha tersebut. Pengusaha merasa biasa-biasa saja, karena mereka juga hidup dari memeras uang nasabah di bank.

Dunia peras-memeras ini sudah begitu membudaya. Di setiap persentuhan antara yang membutuhkan dan yang memiliki kewenangan nyaris selalu ada pemerasan. Sampai-sampai masyarakat sudah memakluminya, asal nilai pemerasannya tidak berlebihan.

Celakanya, pada bulan puasa ini, perilaku memeras ini bukannya menyusut, melainkan justru makin menjadi. Objek yang diperas diperluas dan besaran uang yang diperas juga meningkat.

Bagi pemeras ini, puasa ya puasa, memeras ya memeras. Puasa jalan, meras juga jalan. Ibarat jalan dua jalur, satu jalur untuk urusan peras-memeras, satu jalur untuk urusan puasa.

Apakah puasanya diterima atau tidak, itu urusan lain, yang penting puasa, yang penting Lebaran bisa berpesta. Di sini urusan keduniawian terasa lebih diutamakan, demi gengsi saat Lebaran nanti.

Jadi, uang yang berputar di arena belanja tersebut sebagian merupakan hasil dari peras-memeras. Pantas saja kalau kemudian banyak di antara mereka yang tidak peduli dengan harga. Kenaikan harga masih tak sebanding dengan kenaikan dana perasan.

Jangankan di dunia belanja, di dunia zakat pun, entah itu zakat mal, zakat fitrah, ataupun amal sumbangan lain, sebagian berasal dari hasil meras. Padahal, seberapa pun besarnya zakat, kalau hasil dari pemerasan, tak akan mendapat ganjaran.

Semestinya, pada bulan yang suci ini, perilaku peras-memeras ditinggalkan. Tak ada gunanya berbuka dengan makanan enak, tak ada gunanya pula Lebaran berbagi-bagi hadiah jika duitnya berasal dari perasan. Kerja keras tetap lebih berkah ketimbang kerja meras.

 


^ KE ATAS


Halaman Muka | Kesehatan | Rohani | Perpustakaan PMILA |  Keluarga | Info Wajib Lapor | Iptek | Serba Serbi LA | Tips and Tricks | Warta Indonesia | Perwakilan Indonesia | Lembar Anggota | Tentang Kami | Kontak Kami

© Copyright 2002-2004, PMILA. All Rights Reserved.