|
|
|
|
|
|
|
g
|
|
SOROTAN
|
Kumpulan Sorotan
|
Kalau Saya Ramly
Oleh : Zaim Uchrowi
Wuiihhh..., sungguh
melelahkan. Saya betul-betul tak bermaksud menipu. Saya hanya ingin punya usaha
yang tumbuh cepat dan memberi kemanfaatan pada sebanyak mungkin orang. Saya
mempunyai konsep win-win, sama-sama untung. Yang tidak saya punyai adalah
kemampuan menahan diri. Jadilah usaha itu tumbuh sangat cepat di luar kapasitas
saya yang sebenarnya. Win-win itu lalu terjungkal, menjadi lose-lose.
Sungguh itu. Saya sebenarnya mempunyai kemampuan bisnis. Itu sudah saya buktikan
selama ini. Usaha pertanian saya maju pesat, lebih dari laju usaha kebanyakan
orang lain. Saya sempat mengekspor produk-produk pertanian. Ketika perekonomian
negeri ini terpuruk, dan nilai rupiah terbanting berkeping-keping, saya justru
meraih untung besar dari membubungnya nilai dolar. Pertanian terbukti menjadi
solusi saya. Tentu dapat pula menjadi solusi orang lain.
Maka, saya ajak yang lain untuk menanam uang di usaha pertanian. Tak punya
pengalaman di bidang pertanian? Tak masalah. Bekerja samalah dengan saya. Saya
menguasai teknik usaha pertanian. Saya juga mempunyai kemampuan di bidang
pemasaran. Untuk memudahkan yang lain, saya membuat paket-paket yang mudah
dipahami. Bahkan oleh yang sedikit pun tidak mengerti soal pertanian. Misalnya,
paket jagung, kentang, dan terong.
Seperti yang sudah saya perkirakan, usaha ini segera tumbuh subur. Para investor
awal saya dapat meraih untung lebih dari yang dapat diperolehnya di investasi
lain. Apalagi bila cuma dibandingkan dengan bunga bank. Perusahaan saya juga
menangguk untung lumayan. Itu membawa berkah bagi banyak orang. Jumlah pegawai
saya meningkat. Masyarakat di sekitar usaha saya mendapat kemanfaatan pula dari
kerja sama itu. Wajar bila Pak Hamzah Haz pun terkesan dengan bisnis saya
melalui PT Qurnia Subur Alam Raya ini.
Bagi saya, cara ini jauh lebih menguntungkan dibandingkan bila tergantung pada
bank. Anda tahu, saya pribumi. Pejabat bank pemerintah pun lebih suka memberi
kredit pada pengusaha nonpribumi karena tidak rikuh untuk meminta uang
jasa pada mereka atas kredit yang dikucurkan. Itu keadaan yang terus berlangsung
hingga sekarang. Maka, pilihan bekerja sama dengan investor orang per orang
dapat dikatakan merupakan pilihan yang paling mungkin saya lakukan.
Sayangnya, saya kebablasan. Uang melimpah membuat saya tergoda. Pasar saya
sebenarnya telah menyusut drastis. Saya tak katakan itu pada investor. Saya tak
ingin aliran dana ke perusahaan saya menjadi terhenti. Saya pikir, saya masih
dapat memutarnya untuk usaha lain. Lalu, begitulah. Setiap tamak akan berakhir
dengan keruntuhan. Itu yang terjadi pada Soeharto. Sekarang pada saya.
Terkadang saya iri pada kawan-kawan pengusaha yang bukan pribumi. Sebagian di
antara mereka berhasil meraup uang triliunan rupiah, dan membawanya keluar
negeri. Pemerintah tetap memperlakukannya istimewa. Pemerintah bahkan merasa
perlu membentuk lembaga terhormat seperti BPPN dan mengalokasikan dana yang
sangat besar untuk lembaga yang mengurus peraupan ratusan triliun dana publik
itu. Namun, sayalah dan bukan mereka yang kini dicap publik sebagai "bajingan
nomor satu".
Tak apalah. Toh banyak yang mendapat pelajaran dari kasus saya. Di antaranya,
jangan pernah tamak. Jangan pernah tergoda iming-iming di luar batas kewajaran.
Bahkan jangan suka berharap mendapat untung besar dengan sekadar menanam uang
sambil ongkang-ongkang kaki.
Selanjutnya saya, sekiranya benar saya adalah Ramly, akan menyerahkan diri,
menebus dosa dan beristirahat di lembaga pemasyarakatan. Di sana saya akan
mengajarkan semangat dan kemampuan kewirausahaan pada kawan-kawan napi, serta
belajar membatasi ambisi diri.
|
|
|
|
|