|
|
|
|
|
|
|
g
|
|
ARTIKEL
|
Kumpulan Sorotan
|
Gizi dan "Gizi"
Oleh
: Anif Punto Utomo
Jika Anda jalan-jalan ke mal mewah seperti Plaza Indonesia, dan menemui keluarga
muda belanja, akan terlihat anak mereka yang sehat, berisi, dan biasanya putih
bersih. Wajah mereka juga tampak cerah, tersirat semangat yang menyala karena
energi yang berlebih.
Pulangnya, jika Anda menuju ke arah Tanah Abang, hanya beberapa ratus meter dari
mal itu, banyak terlihat anak jalanan yang kurus, dekil, dan sesekali tangannya
menggaruk-garuk badan. Wajah mereka sayu, tak terpancar adanya semangat. Gerakan
mereka nyaris tak berenergi.
Mengapa kondisi dua komunitas anak itu begitu berbeda? Gizi, jawabnya. Anak-anak
yang gizinya cukup akan tampak sehat dan bersemangat, sedangkan yang gizinya
kurang, badannya akan kurus dan gampang penyakitan. Gizi merupakan salah satu
penentu kualitas sumber daya manusia.
Survei Kesehatan Nasional 1998 - 1999 menunjukkan delapan juta balita Indonesia
menderita kurang gizi. Pantas saja kalau kemudian posisi Human Development Index
(HDI) versi UNDP kita rendah. Pada 2002, dari 173 negara yang disurvei,
Indonesia berada di urutan 110, tepat satu angka di bawah Vietnam.
Nurcholish Madjid sempat terkejut ketika kampanye menjadi calon presiden ke
daerah --dalam rangka konvensi Golkar-- ditanya soal gizi yang mereka nilai
lebih penting ketimbang visi. Ternyata, gizi yang mereka maksud adalah gizi
dalam tanda petik ('gizi').
Jadi, 'gizi' itu bukan dalam artian sebenarnya yang merupakan nutrisi. 'Gizi' di
sini adalah uang, makanya dengan tanda petik. Rupanya, mereka menanyakan berapa
uang yang disiapkan untuk membeli suara yang dimiliki. Mereka siap untuk
membarter hak suara dengan segepok uang.
'Gizi' politik ini memang sudah bukan rahasia lagi. Pada pemilihan Gubernur
Bali, misalnya, anggota DPRD dari PDIP menjelang hari-H diberi 'gizi' Rp 50 juta
per orang agar memilih calon drop-dropan dari DPP PDIP. Di Batu, Malang,
seorang yang ingin dicalonkan menjadi dirut PDAM setempat harus setor 'gizi' Rp
2 miliar ke anggota DPRD.
'Gizi' ternyata sangat penting dalam percaturan politik nasional. 'Gizi' juga
menjadi sedemikian penting dalam memuluskan proyek di pemerintahan. 'Gizi' juga
penting untuk meloloskan seorang terpidana berobat ke luar negeri, atau bisa
juga menjadikan seorang terpidana tetap menjadi salah satu ketua lembaga tinggi
negara.
Kekurangan gizi dalam pandangan ilmu kesehatan akan menyebabkan efek serius,
seperti kegagalan pertumbuhan fisik, menurunnya perkembangan kecerdasan, dan
menurunnya produktivitas. Selain itu juga menurunkan daya tahan terhadap
penyakit, sehingga mudah sakit dan memiliki tingkat risiko kematian tinggi.
Kekurangan 'gizi' bagi elite politik dan penyelenggara negara juga menyebabkan
efek serius, seperti tidak percaya diri (pede) dan tak punya harga diri.
Karena, bagi mereka harga diri bukan diukur dari totalitas dalam membela rakyat
dan negara. Mereka merasa harga diri diukur dari tebalnya dompet, dan baru pede
kalau naik mobil mewah.
Ironis sekali, perjalanan bangsa besar ini ternyata ditentukan oleh 'gizi'.
Siapa yang memiliki 'gizi' lebih dan bisa membagikan kepada para pemegang kunci
di negara ini, maka dia dapat menyetir ke mana bangsa ini akan diarahkan. Begitu
besar peran 'gizi' dalam menentukan hidup kita.
Jutaan anak di Indonesia yang kekurangan gizi bukanlah jumlah sedikit. Mereka
adalah anak-anak bangsa yang kelak akan menjadi pemimpin negara besar ini. Jika
gizi mereka terbengkelai, maka akan ada generasi yang hilang akibat rendahnya
kecerdasan anak-anak itu.
Penghuni negeri ini membutuhkan gizi yang cukup, terutama anak-anak, agar kelak
dihasilkan sumber daya manusia yang andal. Kita tidak membutuhkan 'gizi' yang
hanya dinikmati segelintir orang. Pemberian 'gizi' berarti merampas hak
anak-anak kita untuk mendapatkan gizi.
Gizi dan 'gizi' hanya beda dalam tanda petik, tetapi efeknya akan luar biasa
buat negeri ini jika salah menempatkannya.
|
|
|
|
|