g

ARTIKEL

Kumpulan Sorotan
Baju

Oleh : Anif Punto Utomo

Apa merek baju yang Anda pakai? Levi's, Ralph Laurent, Cerruti, Calvin Klein, atau bikinan lokal tapi bermerek asing seperti LEA atau Van Hausen. Baju memang tidak sekadar penutup tubuh. Mungkin zaman dulu, iya. Kala itu, baju hanya berfungsi sebagai penutup tubuh, itu juga kalau dibutuhkan. Tidak selalu. Dan sampai kini pun, masih ada daerah di pedalaman di Jambi, Kalimantan, dan Papua, yang tidak memakai baju.

Kecenderungan yang umum sekarang, terutama di kota besar layaknya Jakarta, fungsi baju jauh dari sekadar penutup tubuh, tetapi sudah menjadi simbol, sebuah simbol status sosial. Orang-orang kaya biasanya memilih baju-baju bermerek untuk menunjukkan status kemampuannya.

Orang-orang yang perekonomiannya sedang, bahkan yang mepet, kadang ingin juga tampil keren dengan baju merek terkenal. Tak heran kalau kemudian pemalsuan menjamur. Maklum, mereka yang sedang-sedang saja itu hanya sanggup beli yang palsu. Kalaupun yang asli, lari ke sisa ekspor.

Jika perekonomian Anda pas-pasan, sebetulnya tidak perlu membeli produk yang asli. Karena, selain mahal, orang lain juga tidak percaya kalau yang Anda pakai itu barang mahal. Kalau Anda kaya, pakai yang palsu pun tetap dikira asli. Itulah salah satu enaknya jadi orang kaya.

Selain simbol kestatusan, baju juga bisa menjadi simbol kredibilitas. Jika mau bertemu dengan klien di hotel, misalnya, Anda perlu memakai baju yang halus, licin, dan bermerek biar dia percaya akan kredibilitas kita. Bahwa kredibiltas itu semu, tidak masalah dalam dunia yang hedonis seperti sekarang ini.

Menjadi wajar jika kemudian banyak orang yang menghalalkan segala cara agar dapat tampil keren. Mereka ingin diakui statusnya sebagai orang yang tinggi strata sosialnya, mereka juga ingin diakui kredibilitasnya. Apalagi mereka yang modal otaknya tak pas bandrol, maka penampilanlah yang jadi senjata.

Itu pula yang terjadi pada wakil rakyat kita. Termasuk juga tentunya para eksekutif pemerintahan. Dengan kekuasaannya, tanpa malu-malu mereka mengalokasikan dana untuk pembelian baju dalam jumlah ratusan juta, bahkan miliaran rupiah.

Kita lihat saja anggota DPRD DKI Jakarta. Mereka sudah sedemikian teganya menganggarkan baju Rp 1,04 miliar untuk 85 anggota, sedangkan untuk gubernur Rp 65 juta. Tapi, ternyata jumlah itu masih kurang, mereka masih minta lagi Rp 434,7 juta untuk melengkapi koleksi bajunya.

Anggota DPRD Jakarta tidak sendirian. Hampir seluruh wakil rakyat di berbagai daerah berlomba mengumbar insting kejinya. DPRD Riau, misalnya, dengan ketegaan yang tulus menganggarkan Rp 850 juta untuk baju para anggotanya yang berjumlah 55 orang.

Coba seandainya, jatah baju wakil rakyat di Jakarta itu dibagikan kepada murid SD yang tak mampu membeli seragam. Tarolah tiap pasang baju seragam Rp 20 ribu, maka dengan anggaran Rp 1,04 miliar plus Rp 434,7 juta itu akan ada 73 ribu anak yang mendapat seragam.

Bukan itu saja. Anggaran untuk baju itu sekaligus juga akan membangkitkan perekonomian rakyat, karena akan ada kenaikan permintaan kain, penjahit juga kebagian rezeki. Semua itu akan memberikan efek spiral yang positif buat rakyat.

Sayangnya, itu semua tidak menjadi pikiran wakil rakyat. Mereka telah menjadi mercusuar, sehingga jauh dari rakyat. Mereka lebih sibuk untuk kemakmuran diri sendiri. Mereka lebih suka mengoleksi baju bermerek ketimbang harus memikirkan baju seragam anak sekolah yang tidak mampu.

Baju yang bermerek, bagi sebagian orang, bolehlah dijadikan simbol status dan kredibilitas. Tapi bagi wakil rakyat, baju keren hanyalah simbol kerakusan, kekorupsian, kebrobrokan, kekejian, ketidaktahuan diri, ketidakpedulian, dan simbol rendahnya kepekaan terhadap apa yang terjadi pada masyarakat yang diwakilinya.

Relakah pajak yang Anda bayarkan untuk membelikan baju mewah para wakil rakyat dan eksekutif? Relakah mobil pribadi Anda dikir agar pemerintah daerah memperoleh pendapatan tambahan untuk membeli baju mereka? Relakah Anda diperas ongkos parkir demi baju baru mereka? Mungkin hanya keluarga mereka yang menjawab: Rela!


 


^ KE ATAS


Halaman Muka | Kesehatan | Rohani | Perpustakaan PMILA |  Keluarga | Info Wajib Lapor | Iptek | Serba Serbi LA | Tips and Tricks | Warta Indonesia | Perwakilan Indonesia | Lembar Anggota | Tentang Kami | Kontak Kami

© Copyright 2002-2004, PMILA. All Rights Reserved.