|
|
|
|
|
|
|
g
|
|
SOROTAN
|
Kumpulan Sorotan
|
'No Mercy'
Oleh : Zaim Uchrowi
Kamis, pekan silam, di kawasan
Mega Kuningan, Jakarta. Seorang kawan mengajak makan siang di Hotel Marriot.
"Hotel termahal di Jakarta saat ini," katanya. Restoran hotel itu
ternyata penuh. Harus masuk daftar tunggu lebih dahulu sebelum --beberapa menit
kemudian-- petugas memanggil dan mempersilakan kami ke sebuah meja.
Dari balik kaca yang bening, di udara yang sejuk berpendingin, saya menikmati
pemandangan di luar. Tenda-tenda bagus didirikan di lapangan bundar Mega
Kuningan itu. Sebuah perusahaan otomotif paling prestisius di dunia saat ini,
Daimler-Chrysler, menggelar pameran produknya. Katanya itu pameran terlengkap
yang pernah digelar selama ini di Asia. Mercy-Cherokee-Chrysler mutakhir siap
memuaskan dahaga mata para pengunjungnya, yang kemudian memompa degup keras
hasrat memilikinya.
"Di sekitar ini tidak ada krisis, ya?" tanya saya.
"Di sini tidak terasa krisis," kata teman itu, meluruskan ucapan saya.
"Masih banyak orang yang punya uang tanpa berbuat apa-apa. Dengan uangnya
itu mereka dapat memenuhi hasrat mewahnya."
"Tapi, ini dunia yang semu," lanjut teman itu. "Dunia nyata
adalah rakyat yang kelaparan di luar sana."
Saya tak sependapat. Saya kira, dunia 'Mercy' yang bening dan sejuk itu juga
dunia nyata. Di Indonesia, terutama di Jakarta, banyak orang yang sangat kaya
entah dengan cara yang seperti apa. Tak keliru bila Daimler-Chrysler membidik
mereka sebagai pasar. Berbagai merek mobil mewah pun kini adu cepat menabrak
hati mereka. Ada Jaguar, Ferrari, Masserati, Lambhorgini, hingga SAAB, Porsche,
dan entah apalagi.
Indonesia sedemikian menarik buat para mobil mewah tersebut. Sebegitu menarik
hingga diistilahkan sebagai 'mobil dengan harga lebih semilyar pasti habis
terjual sebelum masuk ke Indonesia'. Di wilayah Sabah, Serawak pun konon banyak
pencurian mobil mewah untuk diselundupkan, kemudian dijual secara legal di sini.
'Dunia Mercy' yang nyata itu juga telah mendapat pengabsahan secara
sosial-politik, bahkan juga secara 'relijius'. Seloroh menyebut para anggota DPR
biasa mendapat satu LC untuk menggolkan kepentingan suatu pihak dalam
undang-undang. LC itu adalah Land Cruiser, jip Toyota mewah itu. Beberapa
mubalig kondang dari generasi sebelum Aa Gym juga gemar dengan dunia Mercy.
"Tunggangan Rasul adalah Al-Quswa, unta terbaik saat itu. Itu kan serupa
Mercy." Begitu alasan pembenarnya. Cuma mereka enggan menyebut bahwa Al-Quswa
adalah hasil ternak masyarakat setempat, sedangkan Mercy harus diimpor. Membuang
devisa.
Ada dunia nyata lain yang selama ini terabaikan. Padahal dunia nyata ini jauh
lebih besar. Meminjam judul film aksi sepuluhan tahun silam, dunia itu adalah
dunia 'No Mercy'. Dunia tanpa belas kasihan. Dalam film, yang tak menerima belas
kasihan adalah para penjahat. Di dunia nyata kita, yang kalah-lah yang tak
berhak atas belas kasihan. Tak peduli apakah mereka benar atau salah. Para
korban kebakaran di Jatinegara adalah sebagian di antara mereka yang komunitas
'No Mercy' itu.
Harta mereka ludes oleh api. Ini dijadikan kesempatan untuk merelokasi mereka.
Tapi, karena rumahnya belum dibangun, biarkan mereka tinggal di tenda darurat
lebih dahulu. Sampai kapan? "Sampai rumahnya selesai. Mungkin setahun,
mungkin lebih." Begitu cara pandang warga dunia Mercy berhati 'No Mercy'.
Mungkin orang itu perlu tinggal di tenda darurat setahun lebih dahulu agar
berhati Mercy.
|
|
|
|
|